GMNI Minta Kuota Sarinah di Parlemen Ditambah

KESETARAAN GENDER. Untuk memenuhi rasa keadilan, GMNI menginginkan 50% keterwakilan perempuan di parlemen.

RADARJEMBER.ID – Membicarakan keterwakilan perempuan di parlemen sangatlah menarik untuk disimak, apalagi pemerintah selama ini menargetkan 30% keterwakilan perempuan di parlemen.

Hal itu diiangkat oleh Dewan Pengurus Komisaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK GMNI), sebagai tema seminar bertajuk peran sarinah serta peningkatan partisipasi pemilih pada pemilihan umum 2019, bertempat di salahsatu kafe di Jalan Brawijaya, Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jum’at (13/4).

Bertindak sebagai narasumber seminar tersebut, Habib Rohan, Komisioner Komisi Pemilihan (KPU), Kabupaten Jember, serta Trisna Dwi Yuni, kader GMNI Jember.

Dalam uraiannya, Habib Rohan menegaskan, kuota perempuan 30% dirasa belum mewakili kesetaraan gender. “Di organisasi GMNI, Sarinah merupakan penyebutan untuk kaum hawa. Keterlibatan Sarinah atau perempuan sangatlah tinggi di pemilihan umum, karena memilih itu merupakan hak azazi manusia,” jelas Rohan.

Pria asal Jawa Tengah itu mencontohkan, di Sulawesi Utara, keterwakilan perempuan melebihi batas kuota 30 % perempuan di kursi parlemen. Sementara itu, Trisna Dwi Yuni Aresta mengungkapkan, idealnya keterwakilan sarinah atau perempuan itu 50%, hal itu untuk lebih mensejajarkan perempuan dan laki-laki.

“Antara perempuan dan laki-laki seharusnya sama, agar tidak terjadi ketimpangan gender, karena itu GMNI ingin memperjuangkan peningkatan kuota perempuan.
Selain itu, GMNI tidak setuju bila laki-laki kedudukannya selalu diatas perempuan (patriarki) dan sebaliknya kedudukan perempuan lebih unggul ketimbang laki-laki (matriarki).

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Dzikri Abdi Setia