Hakim Putuskan Sidang Kasus Narkoba Ditunda

Pengacara dan Saksi Otot-ototan

SERU: Sidang kasus narkoba dengan terdakwa Catur Akhir Basuki kembali ditunda.  Dalam sidang, terjadi perang argumen antara penasehat hukum dan saksi penyidik soal tanda tangan saksi.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Sidang lanjutan kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu yang digelar di ruang sidang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lumajang, Kamis (11/4) siang kembali digelar. Kali ini dengan menghadirkan terdakwa Catur Akhir Basuki. Dipimpin langsung oleh Ketua Hakim, Aris Dwihartoyo SH sidang terpantau berjalan lancar.

Kendati begitu di tengah persidangan sempat alot. Terjadi perang argumen antara pihak saksi dari pembantu penyidik kepolisian Polres Lumajang yang diwakili Galuh Mahardika dengan penasehat hukum (PH) terdakwa, yakni Rustam, SH.

Dalam persidangan PH terdakwa mempersoalkan mengenai tanda tangan yang diduga dilakukan rekayasa oleh penyidik. Yang mana Rustam berpendapat bahwa saksi terdakwa yang bernama Imam Supardi merasa tidak pernah melakukan tanda tangan sebanyak lima kali dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat oleh penyidik.

“Sebelum-sebelumnya dari berkas perkara banyak catatan yang direkayasa. Bahwa Imam Supardi hanya tanda tangan surat keterangan sakit yang memang sudah disampaikan kepada penyidik yang saat itu dilakukan oleh Galuh. Dia yang memeriksa Pak Imam. Masih banyak kejanggalan lain dalam BAP yang dibuat,” tandas Rustam SH.

Menanggapi tuduhan atas dugaan yang dilontarkan oleh pengacara terdakwa, membuat Galuh Mahardika langsung menyangkal dalam persidangan. Dia mengaku sudah membacakan semua poin dalam berkas yang akan dijadikan BAP sebelum saksi bernama Imam Supardi menandatangani berkas acara pemeriksaan saksi.

Saat persidangan mendengarkan saksi dari kedua belah pihak yang diwakili oleh Galuh Mahardika selaku penyidik pembantu Polres Lumajang dan Imam Supardi dari pihak terdakwa usai didengarkan, lantas Hakim Ketua mempersilahkan mereka kembali ke tempat duduk asal.

Dalam hasil keterangan yang diperoleh langsung dari Imam Supardi, dia mengaku bahwa saat itu hanya sekali melakukan tanda tangan. Dan itupun menurut dia, tanda tangan yang dituangkan dalam surat keterangan sakit. “Saya hanya sekali tanda tangan. Saat itu saya juga sudah bilang kepada Bu Galuh bahwa saya sedang sakit. Jadi tidak bisa ke luar rumah. Makanya dia yang datang ke rumah bersama Pak Hariyono saat itu,” katanya usai keluar dari ruang sidang Cakra di PN Lumajang, Kamis (11/4) sore tadi.

Wartawan mencoba menemui Rustam, PH terdakwa, untuk mempertanyakan langkah besar apa yang akan dilakukan terkait adanya dugaan rekayasa terkait kasus ini. Dia menyatakan lebih dulu akan mengikuti proses jalannya persidangan.

Tentu baginya proses banding akan ditempuh untuk menyelamatkan kliennya dari segala yang dituduhkan. “Jelasnya banding jika memang putusannya tidak maksimal. Karena ini jelas dibuat-buat kasusnya,” kata pengacara asal Papua yang terlihat meledak-ledak itu.

Bahkan dia sudah menyiapkan langkah-langkah lebih besar untuk mengungkap ketidakproseduralan kasus yang menimpa kliennya. Dengan nada lantang dia menegaskan akan membawa persoalan ini hingga ke Polda Jatim. Menurut klaimnya,  telah terjadi adanya dugaan pemalsuan surat.

Dia beralasan bahwa jika hal ini masih berjalan terus terjadi, masyarakat tidak akan bisa memperoleh keadilan. “Akan buat laporan polisi di Polda Jatim tentang dugaan pemalsuan surat. Karena ini keadilan. Bagaimana bisa masyarakat memperoleh keadilan kalau seperti ini,” ujarnya.

Mengenai pasal 112 ayat 1, dan 114 ayat 2 yang disangkakan kepada terdakwa juga turut dipersoalkan olehnya. Menurut dia, uraian dakwaan jaksa mengenai perbuatan materiil dianggapnya kurang tepat. “Pasal 112 ayat 1 dan 114 ayat 1 kurang tepat. Seharusnya pasal 55,” tambahnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan sudah mengetahui ke mana persoalan ini nanti bermuara. Namun karena merasa berbenturan dengan etika profesinya sebagai pengacara, dia tidak berani menjawab secara gamblang mengenai persoalan ini. “Saya sudah tahu kok muaranya nanti ke mana. Karena etika profesi, saya tidak bisa menjelaskan. Karena di situ ada hakim yang melihat,” pungkasnya.

Dari hasil persidangan tadi akhirnya diputuskan bahwa sidang ditunda. Sidang lanjutan akan digelar pada Selasa (23/4) April mendatang dengan agenda mendengarkan saksi dari pihak terdakwa. Rencananya akan dihadirkan sebanyak tiga saksi yang akan membantu meringankan terdakwa.

“Sidang lanjutan kembali kita gelar karena sebelum pekan itu, kita cuti. Bukan ditunda karena ada Pilpres,” papar Aris Dwihartoyo saat ditemui wartawan usia mengetuk palu menyatakan sidang resmi ditunda.

Dari hasil informasi yang dihimpun sidang ini sudah digelar sebanyak enam kali dan berjalan sudah enam bulan sejak dilakukan penangkapan kepada terdakwa di Piket Nol tepatnya pada 3 November 2018. (*)

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : ahmad jafin

Editor : Narto