Golput, Ancaman yang Menakutkan

Pesta demokrasi sudah di depan mata dalam kurun waktu kurang lebih satu pekan, tepatnya 17 April 2019. Bukan rahasia umum lagi pemilihan pemimpin negara dilakukan setiap 5 tahun sekali. Namun, tentang sebuah nama “si golput” atau golongan putih masih saja menghantui, dan bisa jadi jumlah semakin meningkat atau berkurang.

Pada tahun 2014 selisih suara Jokowi dan Prabowo sekitar 8 juta suara. Padahal “si golput” di Pilpres 2014 adalah sekitar 58 juta suara. Angka tersebut tentu merupakan angka yang tidak sedikit.

Mengapa sering disebut golongan putih? Karena putih dideskripsikan sebagai kertas putih yang berisikan gambar calon presiden dan wakil presiden, yang berada dalam bilik suara saat rakyat ingin mencoblos. Sekedar ingin mengingatkan, jangan sampai kalian berada pada kaum golput. Mengapa? Karena kaum “si golput” itu tidak keren. Selain itu banyak sekali alasan mengapa kita tak boleh ada dalam kaum “si golput”. Pertama, golput tidak akan menyelesaikan masalah dan golput mempengaruh masa depan negara kita. Tidak ada untungnya jika kita golput, maka segeralah menentukan pilihanmu dari sekarang sesuai keyakinan, bukan karena pengaruh orang-orang sekitar. Kalaupun terpergok golput karena pengaruh dari orang lain, maka si pihak lain tersebut akan dikenakan hukum pidana penjara paling lama 3 tahun dan dikenakan denda Rp 36 juta. Adapun yang tertera pada UU 8 tahun 2012 tentang partisipasi pemilihan, terdapat pasal mengenai ancaman tersebut. “Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang dan kehilangan hak pilihnya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak 24 juta”.

Menurut Mahfud MD, politikus asal Madura mengenai undang-undang golput ketika sedang melakukan seminar di Madura, menyerukan orang lain untuk golput itu tidak boleh, itu melanggar. Ada undang-undang yang melarang itu. Saya yakin kalian tidak mau kan?

Peminimalisiran golput saat ini pun sangat diperlukan guna untuk mengantisipasi peningkatan jumlah dari tahun ke tahun. Hal paling mudah dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan persuasif. Masyarakat sekarang, walau hanya sedikit, sangatlah memerlukan pengenalan politik agar mengerti dan menyadari pentingnya memberikan hak pilih saat pemilu berlangsung. Dan saya rasa masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan untuk mengenali calon presiden dan wakil presidennya. Partai-partai pendukung, tim kemenangan, simpatisan dan relawan telah jauh bangun menyusun strategi kampanye menyerukan tentang misi dan visi calonnya masing-masing.

Hanya, saya merasa pada pilpres kali ini lebih dinamis. Jumlah golput akan jauh berkurang. Kita tidak pernah tahu, suara golput itu lari ke siapa. Diingat saja, hampir lima tahun ini peristiwa apa saja yang paling menyakitkan bagi rakyat yang diakukan oleh presiden petahana. Kalau rapornya banyak merah, maka golput akan lari ke oposisi. Sebaliknya, kalau rapotnya biru dominan, ya mereka akan dipilih.

Pilih jodoh saja sudah gawat, apalagi kalau salah pilih pemimpin negara. 17 April 2019 mari kita berbondong-bondong ke TPS, gunakan hak pilih kita. Suaramu menentukan suara Indonesia lima tahun ke depan.

*) penulis adalah ___________

Reporter :

Fotografer :

Editor :