Memilih Itu Keren, Jadi Pemilih Cerdas dan Jangan Golput

Bau anyir “darah” konflik menjelang pesta demokrasi pemilihan presiden dan legislative secara bersamaan menyeruak di ruang cyber dan nyata. Kaum elit para pendukung pasangan calon presiden bersilat lidah di panggung politik mencari pembenaran untuk mengangkat marwah calon yang diusungnya. Tidak jarang argumetasi apologis ahistoris dipertontonkan di ruang  public sebagai pembenaran arah politiknya dan menyalahkan lawannya.

Disisi lain, cacian, makian, hinaan bahkan pengkafiran di internet dan media social selalu terjadi. Prilaku seperti ini memicu konflik antara satu dengan lainnya, dan bahkan tetangga satu dengan lainnya tidak bertegur sapa hanya gara-gara pandnagan pilihan politik yang berbeda.

Lebih ironis lagi, banyak pemberitaan kekerasan yang dilakukan pendukung calon tertentu hanya gara-gara melihat kaos berbeda yang dipakai orang lain. hanya gara-gara kaos yang dipakai orang lain berbeda dengan calon yang diusungnya, kemudian melancarkan bogem mentahnya. Ueforia masyarakat menyambut pesta demokrasi untuk meraih kemenangan sudah tidak berpijak pada etika berdemokrasi dan bahkan menjadi praktek “kanibalisme” politik.

Pada taraf ini, masyarakat menghadapi pesta demokrasi 2019 ini dengan emosi sehingga menghalalkan segala cara untuk menjegal lawan politiknya. Padahal pesta demokrasi harus dihadapi dengan rasional sehingga masyarakat tahu pada arah politik dan calon yang diusungnya, dengan bahasa lain, masyarakat harus menjadi pemilih yang cerdas pada pemilu 17 april nanti.

Menjadi Pemilih Cerdas

Sebelum menyalurkan hak pilihnya nanti, pemilih yang cerdas setidaknya sudah mengetahui pada tiga hal yaitu mengenali calon presiden dan legislative beserta daerah pemilihannya, menelusuri rekam jejak calonnya, dan keberpihakannya kepada masyarakat. Pertama; masyarakat wajib mengetahui tempat menyalurkan hak pilihnya. Untuk pemilihan calon presiden dan wakilnya, masyarakat tidak menemukan kesulitan apapun karena pemilihan presiden dilakukan di seluruh daerah Indonesia, tidak tersekat oleh daerah pemilihan. Namun berbeda dengan pemilihan legislative yang tersekat oleh daerah pemilihan, disinilah masyarakat harus tahu daerah pemilihan calon legislative diberangkatkan.

Kedua; pemilih cerdas akan menelusuri rekam jejak calon yang akan dipilihnya baik presiden maupun legislative. Rekam jejak dua kontestan calon presiden dan wakil presiden tahun 2019 ini sudah banyak ditemukan di internet, sehingga masyarakat lebih mudah mengenali rekam jejak pasangan nomor urut 01 dan 02. Berbeda dengan mencari rekam jejak calon legislative yang tidak banyak diketahui melalui internet. Ini menjadi penting agar masyarakat tidak membeli kucing dalam karung, karena banyak partai politik mencalonkan kadernya yang pernah tersandung kasus korupsi. Oleh karena itu, pemilih cerdas akan terus menelusuri rekam jejak calon legislative agar dapat menyalurkan hak pilihnya dengan benar untuk menjadi wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat baik pusat, tingkat I dan II.

Ketiga; pemilih cerdas mengetahui keberpihakan calon yang dipilihnya kepada masyarakat. Hal ini secara normative bisa dilihat dari visi misinya baik calon presiden maupun legislative. Namun yang tidak kalah penting, adalah menelusuri keberpihakan calon yang dipilihnya melalui kehidupan kesehariannya. Secara sederhana, masyarakat bisa menilai apakah calon yang akandipilihnya semrawung dengan masyarakat, asocial atau semrawung mendadak. Calon yang kesehariannya semrawung dengan lingkungan masyarakatnya berpijak pada pikiran social-empowering yang selalu mengedepankan kepentingan masyarakat secara umum daripada kepentingan pribadinya. Calon legislative yang seperti inilah yang “berhak” dipilih sebagai wakil masyarakat untuk memperjuangkan kemaslahatan umat. Sedangkan calon legislative yang “tidak layak” dipilih adalah calon yang keseharianya asocial, tidak peduli pada kepentingan masyarakat luas dan yang dipikirkan hanya kepentingan individualis dan koleganya saja. Ini merupakan embrio bertenggernya wakil rakyat yang individualis dan hanya memperjuangkan kepentingan diri dan golongannya saja.

Tidak jauh berbeda dengan asocial, adalah semrawung mendadak, manusia seperti ini adalah manusia jadi-jadian. Mereka akan (terlihat) peduli, dermawan dan santun di tengah-tengah masyarakat ketika memiliki kepentingan saja, tapi akan menjadi manusia angkuh disaat tidak memiliki kepentingan atau kepentingannya sudah tercapai. Kalau kita melihat realitas social masyarakat menuju pemilihan umum tanggal 17 April nanti, banyak kita temukan manusia jadi-jadian disekitar kita, terasa akrab dan peduli pada masyarakat hanya dalam hitungan bulan saja. Tapi mereka menjadi tidak akrab lagi dengan masyarakat pasca pemilihan, baik terpilih atau tidak, sebagaimana coretan sejarah manusia jadi-jadian disaat menjelang pemilu saja.

Golput; Tidak Keren

Yang tidak kalah pentingnya dari menjadi pemilih cerdas yaitu harus memilih, jangan golongan putih (Golput). Tidak ada gunanya menjadi pemilik hak pilihan yang cerdas kalau golput, karena golput adalah sikap apatisme yang ada dalam diri masyarakat, padahal kita tahu bahwa apatisme tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Golput tidak akan menghentikan lingkaran setan diorama politik bangsa ini, bahkan bisa memperparah penyakit kronis yang dideritanya. Tanpa kesadaran pentingnya politik yang bersih yang dimiliki pemilih cerdas, mereka yang terpilih tidak menjamin untuk tidak mengulangi tindakan koruptifnya.

Oleh karena itu, daripada golput, mending menentukan sikap memilih untuk memberi harapan perbaikan bagi bangsa Indonesia. Menentukan sikap untuk memilih merupakan sikap baik untuk menyalurkan partisipasi politiknya. Partisipas pemilih cerdas akan menutup celah bagi bangkitkan manusia berkarakter jahat. Senada dengan perkataan Erdogan yang mengatakan bahwa Jika orang baik tidak terjun ke politik maka para penjahatlah yang akan mengisinya.

Hal ini mengilustrasikan, jika masyarakat memilih golput maka bersiaplah menerima kenyataan bahwa Negara ini akan diisi orang-orang jahat yang rela mengorbankan kemaslahatan umat. Karena satu suara dapat menentukan nasib masyarakat ke depannya.

Selain yang tersebut diatas, menentukan sikap untuk memilih adalah keren di era millennial ini. Setidaknya, terdapat tiga alasan untuk tidak golput. Pertama; golput memberi peluang politisi busuk berkuasa.Sadar atau tidak para politisi dapat dikategori menjadi dua yaitu politisi baik dan politisi busuk. Politisi baik berjuang dengan cara-cara etis dan sehat untuk meraih kemenangan, sedangkan politisi busuk menggunakan cara-cara jahat seperti money politics,black campaign, menyebar hoax dan fitnah. Jika kita tida menyalurkan suara kepada politisi baik maka politisi jahat memiliki peluang untuk berkuasa di tanah ibu pertiwi ini.

Kedua; para politisi yang mencalonkan diri didominasi wajah-wajah lama yang sudah terekam kinerjanya selama ini dan sepak terjang yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Masyarakat dapat mengidentifikasi para politisi yang memiliki kinerja baik, berintegritas dan politisi yang hanya memanfaatkan jabatannya. Oleh karena itu masyarakat harus mampu menyelamatkan politis yang memiliki rekam jejak yang baik dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ketiga; golput membiarkan para politisi yang miskin terobosan berkuasa. Hampir semua kandidat menjanjikan berbagai program setinggi langit untuk meyakinkan pemilih. Tapi kita sebagai pemilih yang cerdas tidak perlu terbuai dengan janji-janji manisnya. Oleh karena itu, masyarakat harus memilih paca calon yang memiliki terobosan dan inovasi dan membuat berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Berpijak pada paparan diatas, kita sebagai masyarakat yang cerdas harus berpartisipasi dalam pemilu dan tidak golput. Masyarakat sebaik mungkin memanfaatkan pilihanya dalam bilik suara pada tanggal 17 April 2019 agar orang-orang yang terpilih betul-betul orang-orang terbaik dari ibu pertiwi Indonesia. Namun harapan ini dapat terjadi jika semua orang memiliki niat yang sama untuk memilih yang terbaik demi kemajuan bangsa Indonesia. Sekali lagi penulis katakan jadilah pemilih cerdas dan jangan golput.

* Ali Hasan Siswanto adalah Dosen IAIN Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :