Pesantren: Tradisi dan Modernisasi

Oleh : Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar MA (*)

Sumber: nu.or.id

Pesantren, adalah sistem pendidikan yang sangat unik jika dikaji secara  kelembagaan, pembelajaran, dan praktik pendidikannya. Secara kelembagaan, keunikan pesantren jelas karena sebuah lembaga baru disebut pesantren jika memiliki elemen-elemen pokok yang menjadi karakteristik sebuah pesantren. Seperti ada kiai, ada santri, musala/masjid, ada pengajian kitab-kitab Islam klasik, dan pondok sebagai asrama santri.

Tanpa kelengkapan elemen-elemen pokok tersebut, maka sebuah lembaga tidak bisa disebut pesantren. Seperti, ada kiai, santri, dan pondok, tapi tidak ada musala dan pengajian kitab kuning, maka lembaga itu tidak disebut pesantren, cukup disebut tempat kos.

Atau, ada musala dan pondok, tapi kiai dan santrinya tidak mukim di kompleks tersebut, maka itu pun tidak disebut pesantren. Sebuah lembaga baru disebut pesantren kalau elemen-elemen pokok tersebut berada dalam satu kompleks yang terintegrasi.

Dari sistem pembelajaran, asal usul sistem pembelajaran di pesantren adalah sorogan dan bandongan yang dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu (weton) seperti bakda salat berjamaah dan lazim dikenal dengan sistem weton. Praktik pembelajaran sorogan, pada dilakukan karena santri me-nyorog-kan kitabnya satu per satu di hadapan kiai. Karena kiai dikenal sebagai seorang yang ahli dalam penguasaan kitab kuning tersebut.

Santri membaca kitab yang diinginkan di hadapan kiai, sedang kiai menyimak dan membimbing bacaan santri tersebut. Di sini antara kiai dan santri bisa berinteraksi secara intelektual dan emosional, sehingga santri merasa sangat dekat dengan kiainya.

Metode ini menjadi sangat bagus karena bimbingan kiai lebih intens, metode ini yang dalam sistem pembelajaran modern dikenal dengan sistem belajar tuntas. Melalui metode ini dari pesantren pernah lahir kiai-kiai dan tokoh-tokoh bangsa yang nantinya merintis dan memimpin pesantren-pesantren besar di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan pesantren, ketika jumlah santri bertambah, waktu kiai menjadi terbatas untuk mengajar sorogan, akhirnya muncul santri-santri senior yang bertugas sebagai asisten kiai membimbing sorogan sesuai kewenangannya. Sedangkan kiai tetap mengajar sorogan untuk kitab-kitab khusus dan metode bandongan mulai dikembangkan tanpa harus membatasi usia santri.

Selanjutnya, dilihat dari sistem dan praktik pendidikan. Di pesantren tidak hanya belajar teori dan tidak hanya belajar ilmu, tetapi sekaligus mempraktikkan teori dan ilmu yang dipelajari, sehingga ketika kiai menjelaskan kaifiyah salat hajat dan tahajud, maka santri akan mempraktikkan langsung salat hajat dan tahajud di bawah bimbingan kiai dan santri akan melakukannya secara berkelanjutan.

Praktik pendidikan seperti ini sangat berbeda dengan praktik pendidikan di lembaga lain. Dan inilah antara lain kelebihan sistem pendidikan pesantren, teori dan praktik terintegrasi, pendidikan di pesantren berlangsung selama 24 jam di bawah bimbingan kiai, hidup satu kompleks dengan keluarga kiai. Sehingga tercipta iklim yang kondusif bagi pengembangan kepribadian santri.

Dalam proses perubahan, karakteristik kelembagaan, sistem pengajaran dan pendidikan tersebut akhirnya membentuk tradisi dan memberi gambaran awal tentang tradisi pesantren di Indonesia. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut pesantren sebagai “sub kultur”, karena kehidupan di pesantren berbeda dengan kultur kehidupan masyarakat di luar pesantren.

Hadimulyo, menyebut pesantren sebagai “institusi kultural”, karena kekhasan lembaga pesantren dibanding lembaga pendidikan lainnya. Sebagian dari tradisi-tradisi tersebut tetap dipertahankan hingga kini, sebagian yang lain mengalami inovasi dan akomodasi dalam proses modernisasi, dan di sebagian yang lain akhirnya punah.

Yang selanjutnya menarik dikaji karena dalam proses perubahan, pesantren benar-benar dihadapkan pada dua pilihan yang ekstrem, antara mempertahankan tradisi dan melakukan modernisasi. Memilih yang pertama, berarti pesantren harus siap ditinggalkan generasi pro-modernis, memilih yang kedua berarti pesantren harus siap-siap tercerabut dari tradisi asalnya dan akar-akar kulturalnya.

Menghadapi dua pilihan ekstrem tersebut, pesantren lebih memilih solusi cerdas, dengan berpedoman pada prinsip “al-muhafadhah ‘alal qadiym as-shalih wal akhdzu bil jadid al-aslah” . Pilihan cerdas itulah yang akhirnya menandai eksistensi pesantren tetap terjaga sampai sekarang.

Zamaksyari Dhofir menilai bahwa pengembangan tradisi pesantren ditandai dengan “continuity and change”, ada kesinambungan dan sekaligus ada perubahan. Dalam proses transformasi yang begitu dahsyat, menurut Hiroko Horikoshi kiai tidak akan kehilangan peran, kiai tetap akan berperan sebagai penyaring arus informasi yang masuk, dan menyampaikannya sesuai dengan bahasa masyarakat.

Oleh karena itu, memahami pesantren harus memahami keunikan dan keragaman pesantren, bukan keseragaman pesantren karena pesantren tidak bisa diseragamkan. Adalah kesalahan fatal jika pengkaji pesantren berupaya memaksakan teorinya untuk dikembangkan di pesantren, atau untuk keseragaman pesantren. Keunikan pesantren juga sangat identik dengan pribadi-pribadi  pengasuhnya yang sebagian besar independen, hingga Karel A Steenbrink menyebut pesantren sebagai kerajaan kecil, raja kecilnya adalah kiai. Masing-masing raja atau kiai tidak boleh saling intervensi.

Contoh menarik adalah Pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk, Madura yang merupakan asosiasi dari belasan pesantren. Asosiasi pesantren tersebut, keluar memakai bendera An-Nuqayah, ke dalam, masing-masing pesantren independen, sehingga terhindar tidak saling intervensi. Dengan demikian perkembangan pesantren akan semakin beragam, dan sangat ditentukan oleh keragaman pribadi dan pilihan pengasuhnya.

Sekarang, pesantren semakin dituntut lebih arif menyikapi perubahan dan tantangan, khususnya tantangan yang dipicu oleh terjadinya perubahan zaman, perubahan kebijakan, dan tuntutan masyarakat. Namun tantangan yang selalu menggiring pada pilihan dilematis adalah tantangan yang bersifat klasik, yang sering memosisikan pesantren ragu antara memilih tradisi dan modernisasi.

Bagi penulis, prinsip “al-muhafadhah ‘alal qadiym as-shalih wal akhdzu bil jadid al-aslah” adalah pilihan yang tepat, karena modernisasi tidak boleh mengarah pada “mudhirrunisasi”, proses yang memudaratkan. Kalau modernisasi mengarah pada mudhirrunisasi, maka sungguh akan memicu malapetaka bagi persemaian generasi bangsa. Wallahu a’lam. (*/hdi)

(*) Pengasuh PP Shofa Marwa, Guru Besar Pendidikan Islam IAIN Jember dan Ketua MUI Kabupaten Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :