Penerbangan dan Pariwisata di Jember

Mohammad Fadil

Dalam sebuah perbincangan di media sosial terungkap keresahan publik mengenai masa depan penerbangan di bandar udara (bandara) Jember. Sebelumnya, baru-baru ini dikabarkan bahwa pihak maskapai penerbangan mengurangi jadwal penerbangan Jember-Surabaya awal tahun ini dan secara resmi awal bulan ini dinyatakan berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Ini dikarenakan terjadi penurunan jumlah penumpang. Meski dikatakan bahwa pengurangan ini tidak hanya terjadi di Jember, namun juga di tempat lain, tak urung masyarakat sempat khawatir akan kelanjutan penerbangan di Bandara Jember.

Keresahan ini dapat dipahami mengingat kondisi tersebut jika dibiarkan akan berdampak pada nasib penerbangan di Jember. Sementara, hadirnya penerbangan ini membuat bandara di Jember semakin semarak dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat Jember. Pergerakan warga Jember yang semakin meningkat memang menuntut peningkatan sarana transportasi yang memadai, baik dari segi kecepatan maupun ketepatan waktunya.

Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan peningkatan mobilitas warga Jember, yaitu pendidikan, bisnis dan pariwisata. Keberadaan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Jember dan juga jenjang pendidikan lainnya dengan peserta didik yang berasal dari berbagai daerah membuat Jember dikunjungi banyak orang dari berbagai wilayah. Di bidang bisnis, sejumlah perusahaan, baik nasional maupun multinasional, menuntut mobilitas tingkat tinggi demi mencapai target usaha. Di luar itu, pariwisata ikut berperan dalam menuntut kebutuhan transportasi udara. Beberapa perhelatan pariwisata di Jember, baik skala nasional maupun internasional, terbukti membuat permintaan moda trasportasi ini meningkat.

Selain itu, bandara yang dirintis pembangunannya pada masa Bupati Samsul Hadi Siswoyo ini memfasilitasi penumpang tidak hanya dari Kabupaten Jember, namun juga dari beberapa kabupaten tetangga, seperti Lumajang dan Bondowoso. Dengan pertimbangan kecepatan, masyarakat dari kota sekitar akan lebih memilih terbang dari Jember untuk menuju kota lain. Jadi, dari segi perhitungan bisnis, penerbangan di Jember sudah memiliki masa depan yang cerah.

Sayang sekali rute penerbangan di Bandara Jember masih belum banyak dikembangkan. Rute yang masih Jember-Surabaya saat ini boleh dikatakan mulai mendekati titik jenuh. Selama ini masyarakat lebih banyak memanfaatkan penerbangan untuk kepentingan bisnis. Sementara pergerakan bisnis yang ada selama ini tidak hanya skala regional (Jawa Timur), bahkan nasional hingga internasional. Beberapa entitas sudah lama menjalin hubungan multinasional dalam urusan bisnis, khususnya bisnis perkebunan yang memang menjadi ciri khas Jember. Sehingga, jika rute ini masih belum dikembangkan, bukan tidak mungkin penerbangan di Jember akan menemui masa suram.

Dibukanya Bandara Blimbingsari di Banyuwangi membuka peluang bagi masyarakat kota sekitarnya, termasuk Jember, untuk terbang dari kota tersebut. Ini tentu akan semakin berdampak pada penerbangan di Jember. Apalagi, Bandara Banyuwangi sudah membuka rute Banyuwangi-Jakarta, bahkan internasional (Banyuwangi-Kuala Lumpur). Warga kota Banyuwangi dan sekitarnya yang memiliki kepentingan dengan rute tersebut tentu akan mengambil penerbangan tersebut. Saya sendiri sempat memanfaatkan penerbangan dari Banyuwangi dan sempat bertemu beberapa penumpang yang berasal dari Jember.

Di sisi lain, dioperasikannya tol Probolinggo-Pasuruan membuat perjalanan darat dari Jember ke Surabaya menjadi lebih singkat. Publik akan cenderung mengambil perjalanan darat jika rute penerbangan tidak memadai. Tarif yang masih tergolong mahal bagi warga Jember dan sekitarnya juga masih menjadi alasan dipilihnya moda transportasi darat untuk melancarkan kepentingan mereka.

Karena itu, mau tidak mau rute penerbangan sudah harus dikembangkan, setidaknya Jember-Jakarta atau rute lainnya. Sayangnya, untuk penerbangan dengan rute tersebut diperlukan pesawat dengan kapasitas yang lebih besar. Sementara Bandara Jember masih belum memungkinkan untuk didarati pesawat jenis tersebut, khususnya dari sisi landasan pacu (runway) yang masih kurang panjang. Memang Pemkab Jember tahun lalu sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat untuk menganggarkan dana untuk perluasan Bandara tersebut, terutama terkait rencana Jember sebagai embarkasi haji. Namun, hingga kini perkembangannya masih belum menggembirakan. Saat dimulainya perluasan landasan pacu sempat terjadi ketegangan dan penghalangan dari pihak PTP XII selaku pemilik lahan di Bandara.

Tantangan lainnya adalah bagaimana pariwisata di Jember dapat dikembangkan lebih signifikan lagi. Bagaimanapun para pelancong atau pengunjung dari luar wilayah Jember akan dengan senang hati datang ke Jember jika memang ada sesuatu yang menarik untuk dikunjungi, baik tempat maupun kegiatan pariwisata. Sayang sekali, kegiatan-kegiatan semacam itu relatif tidak banyak dikembangkan. Sebagai perbandingan, Banyuwangi yang merupakan kota tetangga Jember sudah begitu melesat dengan berbagai program pariwisatanya. Berbagai daerah yang dulu tidak dikenal kini disulap menjadi destinasi wisata. Belum lagi perhelatan pariwisata budaya yang sudah sering digelar. Selain itu, perkembangan pariwisata di kota sekitar, misalnya Bondowoso dan Lumajang, sesungguhnya menaruh harapan besar bagi pengembangan rute bandara. Mampukah pemerintah dan warga Jember menyambut harapan itu? Kita tunggu saja.

*) penulis adalah Instruktur Bahasa Inggris UPT Bahasa Universitas Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :