Saya Ingin Lebih Fokus Lagi dalam Bidang Penelitian

Saya Ingin Lebih Fokus Lagi dalam Bidang Penelitian

Dr Ir Nanang Dwi Wahyono MM adalah sosok pemimpin yang memiliki jiwa visioner. Buktinya, ia mampu memimpin orang dengan menggerakkan hati untuk bekerja keras, serta membangun kesuksesan dengan kepercayaan.

Dr Ir Nanang Dwi Wahyono MM adalah sosok pemimpin yang memiliki jiwa visioner. Buktinya, ia mampu memimpin orang dengan menggerakkan hati untuk bekerja keras, serta membangun kesuksesan dengan kepercayaan.

RADAR JEMBER.ID – Membuat orang tidak merasa diperintah dalam bekerja adalah cara Dr Ir Nanang Dwi Wahyono MM selama menjabat sebagai Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) selama dua periode. Visinya cukup mentereng, yakni menjadikan Polije terkemuka tingkat asia tahun 2025.

Nanang, panggilan akrabnya, selalu menyadari bahwa setiap orang yang berada di sekitarnya bukanlah insan yang harus disuruh-suruh. Apalagi, di lingkungan akademisi yang memiliki cara berpikir berbeda-beda.

Dia tidak melihat perbedaan itu sebuah ancaman. Nanang memiliki jurus yang sangat jitu untuk menaklukkan hati orang, yaitu dengan senantiasa menghargai orang lain dalam hal apa pun. Termasuk dalam bekerja. “Tidak mudah. Apalagi yang diperintah adalah orang yang memiliki ilmu. Cukup dengan mengetuk hatinya, saya menggerakkan mereka untuk bekerja,” tuturnya.

Ketika pertama kali menjadi orang nomor satu di Polije pada 2011 lalu, selain dengan pendekatan humanis, langkah pertama Nanang dalam memimpin Polije adalah menyamakan visi dan misi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah awal untuk membuat tracking dalam bekerja. “Jika semua memiliki tujuan yang sama, maka akan lebih mudah dalam bekerja,” sahutnya.

Baginya, kepercayaan adalah modal awal untuk membangun semangat bekerja di lingkungan perguruan tinggi, agar mampu meningkatkan prestasi dan daya saing yang tinggi. ”Saya membiarkan mereka tumbuh kembang dengan kepercayaan,” ujar Nanang sambil tersenyum.

Selama dua periode memimpin kampus, banyak masalah yang datang silih berganti hanya untuk bisa menjadikan Polije sebagai salah satu kampus terkemuka di Asia. Misalnya, pada saat awal menjabat menjadi direktur, kampus sebesar itu hanya memiliki daya tampung mahasiswa baru sekitar 3.000-an per tahun. “Saya sampai memaksa membuka pendaftaran sebanyak-banyaknya,” ungkapnya.

Banyak terobosan yang diambil untuk membesarkan kampus tersebut, hingga pada saat itu, Nanang memperbolehkan mahasiswa untuk praktik di gelanggang olahraga agar terlihat bahwa di kampus Polije, keahlian lebih diutamakan. “Saya perbolehkan, meskipun di luar sana banyak yang ngomongin saya,” ujar Nanang sambil membetulkan kacamatanya.

Sampai pada pertengahan tahun 2018, Polije mampu bangkit dan meningkatkan daya tampung mencapai 8.000 mahasiswa. “Kita mampu mencapai angka itu sebenarnya bukan karena saya. Tapi karena kerja keras bersama,” kata dia dengan rendah hati tersebut.

Setelah mendapatkan banyak mahasiswa, dia mengakui bahwa kepercayaan diri kelembagaan timbul dengan sendirinya. Baik di kalangan dosen maupun seluruh karyawan Polije. Hal itu memiliki dampak yang luar biasa. Selain kepercayaan, juga mampu meningkatkan keuangan kampus. “Akhirnya dengan mahasiswa banyak, keuangan kita juga meningkat. Program-program juga kita dapatkan dengan mudah,” lanjutnya.

Setelah adanya dukungan kepercayaan, akhirnya dia memutuskan untuk memberikan kebijakan kepada jurusan untuk membuat perencanaan dan program sendiri, tanpa ada intervensi yang membatasi. “Tetap ada evaluasi sih, tapi tetap frame yang dibangun adalah terkemuka di tahun 2025 itu,” ujarnya.

Sebagai kampus yang memiliki program vokasional, tentu memiliki banyak keunggulan dan kehebatan. Selama dia menjabat, selain prestasi akademik yang digalakkan, juga ada program studi (prodi) yang bisa menjadi andalan ke depan, yaitu Prodi Produksi Kopi. “Saya memandang ke depan kita akan butuh jurusan itu. Apalagi, Jember juga memiliki kopi yang bisa diproduksi sendiri,” tambahnya.

Jurusan tersebut muncul setelah Presiden Indonesia mencanangkan masalah kopi, baik dalam skala penanaman, produksi, hingga pemasaran. Seketika itu dia langsung di meresponsnya. “Saya langsung meresponnya, satu minggu saya ajukan ke menteri, langsung turun SK-nya,” jelasnya

Nanang berharap, di tangan direktur yang baru, ke depan Polije mampu menjadi garda depan untuk membangun bangsa dan negara dengan menciptakan lulusan yang berkualitas dan memiliki nilai tawar yang tinggi melalui keterampilan.

Sosok yang humanis tersebut memiliki cara pandang berpikir yang cukup nyeleneh.  Selepas jadi Direktur Polije, dia bukan meniti karir yang lebih tinggi, tapi justru ingin mengabdikan diri sebagai dosen biasa. Padahal, banyak yang menawari untuk menjadi salah satu direktur di beberapa perusahaan. “Hidup saya itu untuk kebermanfaatan orang banyak,” dalihnya.

Sembari mengajar mahasiswa dan membagi waktu untuk keluarga, dia ingin lebih fokus lagi dalam bidang penelitian. Sebab, ada satu mimpi yang ingin diraihnya dalam dua tahun ke depan. “Saya ingin mewujudkan mimpi untuk menjadi profesor,” pungkasnya. (*)

Humas Polije for Radarjember.id

Reporter :

Fotografer : Istimewa

Editor : Hadi Sumarsono