Hoaks adalah Racun dan Membaca adalah Penawarnya

Haryo Pamungkas

Sebenarnya apa hubungan “membaca” dengan upaya membentengi diri dari berita bohong (hoaks)? Secara tak langsung, hubungan itu dapat dilihat dari empat hal: kredibilitas informasi yang dikonsumsi, peningkatan daya kritis, keluasan wawasan, dan reaksi dalam menerima informasi.

Hari ini, memang nyaris tak ada pembeda antara berita yang layak dikonsumsi publik dengan berita yang semestinya tak layak. Baik dari prosedur penyusunan, nilai, informasi, dan muatan. Terlebih di media sosial, kadangkala opini yang sebetulnya bukan fakta justru lebih dipercaya ketimbang berita media arus utama. Di sisi lain, “multifungsi” media sosial sebenarnya memiliki dampak positif untuk menunjang kebebasan berpendapat atau kritik terhadap kebijakan. Dalam negara yang menganut sistem demokrasi, kebebasan berpendapat itu penting. Namun, ada yang dilupakan sebelum menyuarakan pendapat: wawasan. Dasar kritik dan bersuara yang baik adalah wawasan. Dan sejauh ini, membaca masih efektif untuk melengkapi itu.

Telah banyak kajian yang menyebutkan bahwa membaca memang senjata ampuh untuk meredam hoaks. Namun, juga telah banyak riset yang menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih rendah. Misalnya, ambil contoh riset “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016. Atau, penelitian Perpusnas pada tahun 2017. Dua-duanya menunjukkan hal serupa: tingkat membaca masyarakat Indonesia masih jauh tertinggal; seolah-olah membaca adalah kerja membosankan yang mesti dihindari. Bahkan, “fobia” membaca ini tak jarang juga terjadi di dunia pendidikan. Pertanyaannya, bagaimana bisa tempat yang konon lekat dengan ilmu, pengetahuan, wawasan, dan pembentukan budi pekerti bisa terdampak? Tentu, salah satunya akibat budaya membaca yang masih minim ditanamkan sejak dini.

Tahun 2017, Tom Nichols dalam bukunya “The End of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters” sebenarnya telah mengeluhkan hal ini—meski sampel dalam buku itu adalah masyarakat Amerika Serikat, jika ditarik ke Indonesia agaknya tetepa relevan. Tom menilai bahwa saat ini masyarakat AS begitu terobsesi dengan “kedunguannya sendiri”. Tak lain, akibat antusiasme terhadap informasi di dunia maya. Informasi melimpah yang ditawarkan memang menggiurkan, namun tak ada yang bisa memastikan kesahihan informasi itu. Alhasil, campur-aduk informasi yang dikonsumsi berujung pada frasa “matinya kepakaran” atau kecenderungan masyarakat mempercayai pendapat pakar atau ahli mulai luntur. Definisi pakar atau ahli tidak melulu berarti individu dengan jenjang pendidikan tinggi dan memiliki sertifikasi khusus. “Ahli” dapat merujuk ke organisasi, komunitas, dan institusi pemerintah yang kredibel.

Di Indonesia, fenomena ini cenderung lebih berbahaya karena tak jarang juga mengikutsertakan pemahaman agama tertentu. Terlebih menjelang Pemilu 17 April mendatang, tiap hari produksi hoaks kian bertambah seiring kesembronoan oknum parpol yang menggunakannya sebagai alat kampanye. Tak ayal masyarakat menjadi gaduh, dibingungkan dengan informasi beragam yang tak jelas tujuannya apa. Skema arus berita bohong ibarat lingkaran masalah yang tak berujung, bahaya laten terletak pada diskursus yang berkembang setelahnya. Informasi ngawur beresiko memunculkan spekuasi dan simpulan yang juga tak kalah ngawur. Dampak jangka panjangnya dapat membuat masyarakat saling curiga, bersitegang, hingga mengancam keutuhan dan persatuan. Namun sayang, celah ini justru dimanfaatkan oleh oknum parpol untuk kepentingan politik tertentu.

Maka, untuk membetengi diri dari berita bohong, saya teringat kritik jenaka yang dilontarkan Julius Henry “Groucho” Marx hampir setengah abad silam untuk setiap “pembodohan” di televisi, “I find television very educating. Every time somebody turns on the set. I go into the other room and read a book”. Dalam kritik itu, apabila setelah kata television ditambah kata social media, maka kritik itu tetap relevan untuk menyikapi “pembodohan” yang timbul bersamaan dengan tumbuh suburnya berita bohong saat ini.

Pun dari kritik itu dapat dilihat ternyata fenomena ini merupakan sejarah yang terulang—hanya wadah atau medianya saja yang berubah. Namun, meski terdapat pergeseran wadah atau media, solusi yang ditawarkan sejatinya tak akan pernah berubah: I go into the other room and “read a book”. Karena memang dengan membaca banyak manfaat yang akan didapatkan; baik dalam hal keluasan wawasan maupun perilaku. Dalam konteks perilaku, Socrates pernah  mengungkapkan istilah “budi ialah tahu”. Atau definisi singkatnya: orang dengan budi pekerti baik adalah orang “berpengetahuan”. Dan membaca, adalah satu jalan menuju “berpengetahuan” itu.

*) penulis adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :