Dia Disiplin dan Rajin Memotivasi Agar Berani Mencoba

Bella Rhe Lavifa Sanjaya, Anak Desa Yang Dibimbing Profesor Jepang

Selasa 5 Maret 2019 jadi hari yang tak pernah dilupakan Bella Rhe Lavifa Sanjaya. Mahasiswi Program Studi Magister Bioteknologi itu lulus ujian tesis. Selama dua semester dia menempuh studi Unej. Sisanya, ditempuh di Jepang.

DI JEPANG:  Bella bersama Prof Shinjiro Ogita, di halaman kampus Prefectural University of Hiroshima, Jepang.

RADAR JEMBER.ID – Program Studi Magister Bioteknologi ini termasuk jarang. Karena itulah, selama ujian tesis, Bella Rhe Lavifa Sanjaya didampingi langsung Prof Shinjiro Ogita. Bahkan demi Bella, profesor yang membimbingnya itu menyempatkan diri datang jauh-jauh dari Jepang untuk Bella.

Ini sejarah baru, seorang profesor ahli bioteknologi datang ke Jember hanya untuk membimbing Bella, sekaligus menguji Bella. ”Ini untuk kali pertama di Kampus Tegalboto, ujian tesis menghadirkan dosen pembimbing mahasiswa asal  Jepang,” kata Bella, ditemui di Kampus Tegalboto (11/3) kemarin.

Bella, begitu panggilan akrabnya, menceritakan pengalaman berharga itu. ”Dia pakar bioteknologi asal Prefectural University of Hiroshima (PUH). Sebelumnya, saya juga harus kuliah di Hiroshima selama enam bulan, dengan bimbingan langsung Prof Ogita,” ujarnya.

Kesempatan langka itu diperolehnya lewat beasiswa. Apalagi, Bella hanyalah anak desa, yakni Desa Grenden Kecamatan Puger.

Menurut Bella, Prof Shinjiro Ogita sangat sabar saat membimbing dirinya. Terutama saat melakukan penelitian di laboratorium. Pesan yang hingga kini masih teringat jelas adalah selalu memberikan motivasi agar (meski gagal) tetap berani mencoba. “Just bravely try it. Coba sajalah dengan berani,” kata Bella, menirukan ucapan Prof Shinjiro Ogita. Bella menjalani kuliah di PUH mulai Maret hingga September 2018 lalu.

Selama kuliah, dia merasakan penelitian di Jepang adalah pengalaman luar biasa. Apalagi lulusan program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember tidak terlalu banyak melakukan kegiatan laboratorium. Berbeda benar dengan saat menempuh jenjang S-2 di Program Studi Bioteknologi Universitas Jember, yang menuntutnya banyak bergelut di laboratorium. Apalagi saat di Jepang.

“Mayoritas kegiatan saya di kampus PUH adalah meneliti, sesuai dengan nama programnya, joint research and supervisor program. Saya bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari Prof Ogita dan kolega di PUH. Bahkan Prof Ogita bersedia menjadi pembimbing tesis saya,” kata Bella. Tesis Bella berjudul Characterization of Drought Responses and Allelopathic Properties in Cassava (Manihot esculenta).

Fokus penelitian di laboratorium jadi pengalaman berharga baginya. Apalagi dilakukan di Jepang, negara yang terkenal dengan semangat disiplinnya. Berangkat jam 06.00 pagi dan pulang tengah malam menjadi santapan sehari-hari. “Bahkan tiga kali saya harus menginap di laboratorium PUH. Tapi saya menikmati proses ini sebab kawan-kawan dan terutama Prof. Ogita selalu memberikan dukungan,” ungkap Bella,yang ditemani dua koleganya dari Program Magister Bioteknologi saat melakukan penelitian di kampus PUH di wilayah Shobara, Hiroshima.

Bella sengaja memilih meneliti singkong, karena menurutnya Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan singkong. Namun dari tahun ke tahun produksinya cenderung turun karena beberapa faktor. Di antaranya karena faktor iklim. “Jadi tesis saya fokus pada mencari singkong varietas apa yang paling tahan terhadap kekeringan dari sekian banyak varietas singkong yang ada, “ jelasnya.

Dari penelitian tersebut, kata dia, ternyata singkong varietas Adira-1 dan Malang-4 yang paling tahan kering. Kedua, dia meneliti interaksi tanaman singkong dengan tanaman lainnya atau sifat allelopathic. Ternyata saat ditanam, singkong mengeluarkan  senyawa kimia yang mampu mencegah pertumbuhan gulma dan mikroorganisme tertentu. “Sehingga membantu pertumbuhan tanaman lain yang berada di dekatnya,” urai gadis berjilbab, yang mendapatkan beasiswa karena berprestasi, baik saat di jenjang S-1 maupun S-2.

Gara-gara meneliti sifat allelopathic singkong ini, Bella berkesempatan diajak oleh Prof Ogita untuk menghadiri  The 4th International Conference of Asian Allelopathy Society. Acara itu dilaksanakan pada 8-10 September 2018 di Tokyo University of Agriculture and Technology, Fuchu, Tokyo, Jepang.

Dalam konferensi ini Bella mempresentasikan karya ilmiahnya berjudul  “Investigation of Allelochemicals Activity of Cassava Leaf and Callus for Genetic Transformation” yang dirupakan dalam bentuk poster. Ternyata karya ilmiah putri pasangan Muhammad Samuri dan Imroatin ini meraih penghargaan silver medal.

Berkesempatan melaksanakan penelitian di Jepang menjadi modal besar bagi Bella  untuk menekuni karir peneliti di dunia bioteknologi. Keinginannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat doktoral pun makin kuat. “Rencananya saya ingin kembali ke kampus PUH. Apalagi sudah mendapatkan rekomendasi dari Prof Ogita. Saat ini saya masih menunggu wisuda sembari melengkapi berkas-berkas untuk mendapatkan beasiswa,” imbuhnya.

Keberhasilan Bella tidak lepas dari kebijakan program Pascasarjana Universitas Jember menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Jepang, Korea Selatan, dan rencananya dengan perguruan tinggi di Taiwan.

Seperti yang disampaikan oleh Prof Rudi Wibowo, direktur Program Pascasarjana Universitas Jember. Menurutnya, kerjasama yang telah dilakukan  meliputi pengiriman mahasiswa, dosen, riset bersama, publikasi ilmiah bersama, kolaborasi seminar hingga kuliah umum yang mendatangkan para pakar secara rutin.

Model kerjasama dengan melibatkan pakar dari luar negeri menjadi pembimbing tesis ini, diakui sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Khususnya yang ingin meneruskan studi ke jenjang S-3 ke luar negeri. Pasalnya mahasiswa sudah merintis jejaring, beradaptasi dan lebih mudah mendapatkan rekomendasi untuk studi lanjut. Kami juga tengah merintis program gelar ganda dengan beberapa perguruan tinggi di Jepang, Korea Selatan dan yang tengah direncanakan dengan Taiwan. Nantinya mahasiswa bakal kuliah setahun di Jember dan sisanya di perguruan tinggi mitra. Selain mendapatkan gelar ganda, peluang mendapatkan beasiswa di luar negeri juga lebih terbuka lebar,” pungkas Prof Rudi. (*)

Humas Unej for Radarjember.id

Reporter : Shodiq Syarief

Fotografer : Istimewa

Editor : Hadi Sumarsono