Akui Kelalaian Izin Penangkaran

PROSES HUKUM: Kristin saat mengikuti sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jember.

RADAR JEMBER.ID – Kristin, terdakwa kasus dugaan satwa dilindungi dan habisnya masa izin penangkaran memberikan keterangan di depan majelis hakim di Pengadilan Negeri Jember  kemarin (11/3). Dia mengaku lalai dengan izin penangkaran tersebut. Namun, pihaknya menyayangkan harus dipidanakan.

Muhammad Dafis, penasihat hukum terdakwa mengatakan terdakwa mengakui adanya  izin penangakaran yang sudah mati. Kemudian,  penandaan satwa yang tidak terpasang seluruhnya. ”Serta beberapa sertifikat yang tidak ada,” katanya.

Dafis menjelaskan atas kasus tersebut, dirinya kembali pada dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Yakni izin penangkaran yang mati, penadahan dan sertifikasi, serta perdagangan satwa secara illegal.

Dia menambahkan JPU mendakwa burung yang didatangkan dari penangkar burung  CV Anak Burung Tropicana (ABT) Bali  tanpa ada dokumen. Namun ternyata ada. “Perdagangan satwa tidak terbukti,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Dafis, terdakwa sudah menyampaikan secara lisan kepada petugas terkait izin penangkaran yang sudah mati. Namun tidak diproses oleh pihak petugas. “Memang itu tidak sesuai karena tidak secara tertulis, namun itu kesalahan administratif, bukan pidana,” terangnya.

Dia berharap agar majelis hakim memutus lepas terdawka. Meskipun dia terbukti bersalah, namun bukan tindak pidana, tapi kesalahan administrasi. Apalagi, tujuan memelihara satwa dilindungi baik. “Ini satu-satunya di Jember, harus dipertahankan dan dibina,” pungkasnya.

Sidang selesai setelah berlangsung sekitar dua jam, selanjutnya, sidang tuntutan terhadap terdakwa yang akan berlangsung pada Kamis depan. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Hadi Sumarsono