Menengok Kehidupan Napi Teroris di Lapas 

Petugas Tak Lelah Tawarkan Nasionalisme

Ada satu hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi di negeri ini, yakni NKRI harga mati. Tapi itu tak berlaku bagi napi teroris di Lumajang. Sampai mati, belum mengakui NKRI. Berikut ulasannya dari Lapas Kelas II B Lumajang.

Drs Martono Kasi Binadik Lapas Lumajang

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – UNTUK memasuki lembaga pemasyarakatan (lapas) tidaklah mudah. Ada pengamanan berlapis yang diterapkan. Tak terkecuali di Lumajang yang merupakan Lapas Kelas II B. Mulai dari pintu masuk, gerbang utama, sampai area warga binaan, tersusun pengamanan ekstra.

Saat mau masuk gerbang saja, harus membuka satu kotak lubang kecil di atas martil yang digunakan untuk mengetuk pintu. “Mau ketemu siapa pak?” tanya salah satu petugas. Setelah jelas maksud dan tujuannya, maka dibukalah pintu gerbang utama.

Untuk masuk ke area warga binaan juga demikian. Seluruh barang bawaan diperiksa. Tak cukup dengan metal detektor. Satu per satu dicek. Termasuk pakaian sampai celana dalam. Petugas laki-laki dan perempuan berbagi tugas. Makanan juga demikian ketat.

Jika hendak masuk membesuk napi, semua alat telekomunikasi dititipkan bersama tanpa pengenal. Area dalam betul-betul steril. Itu pun tidak bisa masuk bilik-bilik tahanan. Jika ada keperluan, napi yang dipanggil keluar.

Begitu ketatnya area lapas memang sudah menjadi SOP. Tak terkecuali juga diterapkan pada wartawan. Sempat ketika masuk area lapas, ada sejumlah napi yang mendapat perlakuan berbeda. “Beda kalau itu, itu napi teroris,” ujar salah satu napi kepada wartawan koran ini.

Napi yang dimaksud ternyata tak lain adalah napi teroris. Di Lumajang ini, sejatinya ada sejumlah napi teroris yang merupakan kiriman dari luar. Pertama dulu adalah Tamrin, kedua adalah Wagiono, dan terakhir adalah Ahmad Dhani. Sayangnya, nama kedua meninggal karena terserang penyakit lever stadium akhir pada awal Maret 2019. Sementara Tamrin sudah bebas Juni 2016. Jadi, tersisa seorang, yakni Ahmad Dhani.

Drs Martono, Kepala Seksi Pembina Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Lumajang mengakui jika saat ini tinggal satu napi yang dibina. Yakni yang dikirim sejak 15 Desember 2017. “Ya tinggal Ahmad Dani saja, setelah Wagiono meninggal,” ujarnya.

Setiap napi teroris, menurut dia, sejatinya mendapat perlakuan sama. Hanya pada beberapa kegiatan saja yang memang tidak bisa disatukan dengan napi lainnya. “Sehari-harinya biasa, gak beda dengan yang lain. Kegiatannya angin-angin dan olahraga keterampilan dan lainnya,” jelasnya.

Namun, urusan salat itulah yang tidak bisa dibarengkan. “Kalau salat sendirian. Belum mau berjamaah dengan yang lain, termasuk salat Jumatan ya sendirian dia. Sama dengan Dani sekarang,” jelasnya.

Satu hal yang menurut dia masih belum bisa dilakukan, baik pada napiter (narapidana teroris) yang lain, yakni menanamkan semangat nasionalisme. Sebenarnya hal itu bisa menjadi peluang bagi napi untuk bebas. “Sebenarnya ada peluang bebas bersyarat dengan mengakui NKRI. Tetapi napiter di sini tidak ada yang mau,” ujarnya.

Lapas, menurut dia, sudah berkali-kali membuka ruang penawaran tersebut. Tidak sekali dua kali. Tetapi setiap kali ada kesempatan pendampingan. “Sudah berkali-kali ditawarkan. Lebih dari tiga kali. Tiap ada pendampingan, ditawari terus untuk mengakui NKRI. Tapi tetap tidak mau,” ujarnya.

Nasib paling nahas dialami oleh napiter Wagiono alias Gandi. Sampai ajal menjemput pada 4 Maret 2019 tepat pukul 08.12 dinyatakan meninggal oleh dokter. “Yang bersangkutan meninggal dunia, tetap tidak mengakui NKRI,” ungkapnya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Narto