Tak Pernah Minder, Tetap Bersyukur meski Tak Dapat Order APK

Heri Budianto, Nyablon dengan Satu Tangan

Di tengah teknologi digital printing yang masih, masih ada orang yang tetap konsen di sablon manual dengan tangan. Heri Budianto salah satunya. Hebatnya, dia hanya menggunakan tangan kirinya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

TETAP SEMANGAT: Heri Budianto tetap semangat menyablon meski hanya memiliki satu tangan kiri. Dia masih menggeluti dunia sablon manual di tengah-tengah teknologi digital printing.

RADAR JEMBER.ID – Heri Budianto namanya. Tapi orang sering memanggilnya (mohon maaf) Heri Buntung. Ya, Heri hanya memiliki satu tangan yang berfungsi normal. Satu tangan kanannya telah diamputasi. Meski hanya memiliki satu tangan, hebatnya, dia tidak pernah minder ataupun malu. “Ngapain minder dan malu. Kalau minder karena punya satu tangan, yang rugi ya diri sendiri,” imbuhnya.

Dia mengaku, rasa minder itu juga pernah dialami sekitar satu-dua bulan setelah kehilangan pergelangan tangan kanannya. “Awal-awalnya saja minder. Mindernya karena mengerjakan sesuatu takut tidak bisa. Dipikir-pikir ngapain minder, malah rugi sendiri,” katanya.

Saat masih bujang, pria asli Gebang tersebut termasuk apes. Bagaimana tidak, dari sekian banyak penumpang angkutan travel Jember-Surabaya, hanya Heri yang mengalami luka cukup parah hingga kehilangan tangannya. “Waktu itu tahun 1986, kerja jadi kernet sopir travel Jember-Surabaya, saat di Bunderan Tol Gempol, mobil oleng dan terbalik. Mungkin karena tangan kanan saya ini menahan di kaca dan kacanya pecah sehingga bagian pergelangan tangan itu keluar dari mobil,” imbuhnya.

Saat laka, Heri tidak pingsan, justru dia sadar bahwa telapak tangan beserta jari-jarinya tidak ada. “Ya putus tus,” ujarnya. Dia sempat berdiri dan mencari tangannya yang putus tersebut. “Saya sempat mencari dan ketemu. Tangan saya yang lepas itu juga sempat bergerak-gerak sendiri, dan sesegera mungkin cari kresek untuk tangan saya yang putus tersebut,” katanya.

Akibat luka parah dengan darah bercucuran tersebut, Heri langsung diangkut truk untuk menuju pukesmas terdekat. “Karena pukesmas tidak mampu, dirujuk ke Surabaya. Tapi tetap tidak bisa selamatkan tangan saya yang putus sehingga mau tidak mau diamputasi,” ungkapnya.

Dengan anggota tubuh yang tidak utuh tersebut, dia lantas tidak bekerja sebagai kernet lagi, melainkan pindah di bagian gudang. Tak lama dia memutuskan berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain yang membuat dia terus bersemangat.

Salah satunya adalah berani melamar untuk bekerja sebagai tukang sablon. “Waktu itu adik saya kerja di percetakan dan ada kesempatan untuk jadi tukang sablon,” ujarnya. Pekerjaan yang belum pernah dikerjakan sebelumnya, terlebih lagi hanya mengandalkan tangan kiri saja, tidak membuat Heri berkecil hati. Dia berani menerima pekerjaan dan seketika itu juga belajar.

Paham tentang dunia sablon, Heri juga mulai membiasakan diri untuk bisa menulis dengan tangan kiri. Oleh karena itu, kata dia, saat ada pekerjaan yang membutuhkan goresan tangan di kain spanduk, dia bisa mengatasi semua itu.

Kini dunia sablon tidak seperti dulu lagi. Perkembangan teknologi dengan digital printing membuat usaha sablon lambat laun surut. Meski begitu, dia tetap menerima pekerjaan untuk sablon manual. Pada pemilu tahun ini, Heri belum kecipratan rezeki sablon sama sekali. “Kalau tahun kemarin masih ada orderan stiker. Saat pemilihan Bupati Bondowoso 2018 kemarin, juga ada job kain spanduk untuk diterbangkan di paramotor. Tapi kali ini belum ada, tapi ya gak apa,” katanya.

Kehilangan tangan yang paling berharga, yakni telapak tangan kanan, tidak membuat Heri berhenti bekerja. Dia sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan sebagus mungkin. Walau begitu, jangan salah, Heri bisa mengendarai motor meski tangannya tidak sempurna. “Gasnya tetap di kanan, tapi saya kasih tambahan karet agar gampang untuk tambah gas,” pungkasnya. Rute berkendara terjauh yang pernah ditempuhnya yakni Jember-Malang. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Narto