Emoh Berjamaah, Salat Jumat Sendirian

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Sejak masuk di lapas kelas IIB Lumajang, sejatinya Ahmad Dani tidak sendirian sebagai napi teroris. Dia sempat bersama dengan Wagiono alias Gandi. Namun, sejak Wagiono meninggal awal Maret lalu, hanya tinggal dia seorang. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengurung diri.

Nama Dani di dunia teroris memang tidak asing. Lelaki kelahiran Samarinda, 09 Mei 1998 ini dikenal sebagai pemuda yang mahir teknologi. Gara-gara itu pula, dia divonis pengadilan atas kepemilikan bahan peledak dan rencana pengeboman di Gereja Oikumene Sengkotok, Samarinda, Kalimantan Timur. Juga ada sasaran lain di wilayah Samarinda pada bulan September 2016 menjelang perayaan Natal tahun 2016.

Menurut sumber yang didapat Radarjember.id, Dani setiap harinya memang tidak banyak bergaul. “Awalnya memang sempat bergaul dengan teman napi lainnya. Tetapi sekarang lebih mengurung diri,” ujar sumber yang mewanti-wanti untuk tidak disebutkan namanya.

Dani dikatakan mengalami penguatan pikiran dari mendiang Wagiono bin Suwandi alias Gandi. Bukan perubahan lebih familiar, melainkan ke arah yang lebih radikal. Dikabarkan jika Dani hanya menganut ajaran Aman Abdul Rahman dan Abu Bakar Ba’asyir.

Hingga saat ini, Dani hanya menerima besukan dari kelompok Yayasan Khodimul Ummah alias JAT Probolinggo. Di antaranya adalah teman-teman akrabnya yang sempat tergabung dalam JAT. Bahkan, beberapa di antara teman-temannya itu sekarang menjadi teknisi mesin dan elektronik di salah satu perusahaan ternama tanah air di Probolinggo.

Saat Wagiono meninggal, kesolidan mereka betul-betul ditunjukkan. Drs Martono, Kasi Binadik Lapas Kelas IIB Lumajang mengakui itu. Bukan cuma istrinya, teman-teman yang pernah berjuang bersama juga hadir. Bahkan mengawal jenazahnya sampai rumah duka.

Termasuk ketika Wagiono dirawat di rumah sakit RS Haryoto Lumajang. Mulai dari Jawa Tengah, dari Probolinggo, sampai dari Jakarta datang. “Mereka sudah berkelakuan baik dan sudah tidak ada masalah lagi. Dani tetap ikut kegiatan lapas seperti napi lain. Hanya salat saja sendirian,” ujarnya.

Khusus untuk Dani yang masih dibina di lapas, Martono tetap menerapkan pola sesuai SOP. Tetap dilakukan pengawasan dan pendampingan. Perlakuan sama juga akan diterapkan ketika sakit. “Kita tidak mau disalahkan. Ketika sakit, langsung dapat penanganan cepat. Khawatirnya terjadi sesuatu di lapas, makanya tidak mau berisiko. Seperti Wagiono itu, langsung kita bawa ke rumah sakit. Tapi tetap izin dulu pada atasan,” ungkapnya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Narto