Diduga Terkait Masalah Tambang Pasir

Caleg Pukuli Mantan Kades

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Konflik tambang pasir di Lumajang tak jarang membuat gelap mata. Akhir pekan kemarin, diketahui bahwa seorang calon anggota legislatif (caleg) memukuli mantan kepala desa (Kades). Penyebabnya diduga berebut lahan tambang pasir. Akhirnya, caleg kabupaten tersebut ditahan polres Lumajang.

Informasi yang berhasil dihimpun Radarjember.id, konflik tambang pasir memang tak ada ujungnya. Jika di kawasan Selatan Lumajang masih memanas persoalan akses armada angkutan pasir, di Pasrujambe melibatkan antarpersonal yang terlibat ketegangan.

Ujung dari ketegangan itu kemudian memuncak akhir pekan kemarin. Seorang Caleg partai baru dalam pemilu 20109 sampai melakukan pemukulan pada korban. Korbannya tak lain adalah mantan Kades Pasrujambe dua periode, Junaedi. (selengkapnya lihat grafis).

Bocoran yang didapat Jawa Pos Radar Semeru dari kepolisian menyebutkan, caleg tersebut bernama Nanok Priwandono asal Klakah. Diketahui jika dia membawa senjata penikam dan melakukan penganiayaan terhadap korban. Itu dilakukan pada Jumat (8/3) malam sekitar jam 20.00 WIB. Insiden terjadi di dalam rumah korban di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pasrujambe.

Kemarin, Junaedi berhasil dikonfirmasi. Dia mengakui kejadian yang menimpa dirinya. Saat ini, kondisinya memang sudah membaik. Namun, dia masih meringis kesakitan karena luka yang dialami dari insiden tersebut. Di antaranya luka di telinga kanan, sobek terkena benda keras. Luka di mulut bagian bibir atas dan bawah dan di bagian kening. “Beruntung, tidak sampai ada luka tusuk. Saya kunci dia supaya tidak bisa memainkan senjata tajamnya,” katanya.

Pemicunya permasalahan tambang di Pasrujambe yakni tambang CV Parmasindo. Junaedia mengatakan, pelaku disuruh seseorang untuk mendampingi kasus tambang di Pasrujambe. “Saya termasuk bagian hukum APPRI, otomatis perlu ada pendapat hukum kaitan itu,” katanya.

Namun, korban tidak mau dan justru nekat melakukan tindakan yang tidak sesuai aturan. “Padahal, kita mau ajak musyawarah. Disangkanya saya menghalangi. Padahal, mau menjelaskan pendapat hukum untuk dia,” tambahnya.

Perlakuan itu, menurut dia, dilakukan di depan anak dan istrinya. “Itu yang membuat saya tidak bisa menerima tindakan pelaku sampai melapor ke polsek. Karena anak istri saya sampai menangis,” ungkapnya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Narto