Tanaman Singkong Terkalahkan oleh Sengon

Bondowoso Perlu Perkuat Komoditas Tape

TAPE KHAS BONDOWOSO: Kegiatan produksi tape khas Bondowoso di salah satu sentra UMKM. Komoditas ini terancam kekurangan bahan baku.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Sebagai daerah yang warganya banyak bekerja di sektor pertanian, Bondowoso sejak lama dikenal akan produk pangannya. Salah satunya adalah tape khas Bondowoso. “Sudah sejak zaman kolonial Belanda, kita terkenal akan komoditas tape singkong, makanya dijuluki Kota Tape. Produk ini yang harus kita perkuat sebagai produk andalan Bondowoso,” ujar pengamat ekonomi Bondowoso, M Fathorrazi kepada Radarjember.id.

Sebagai produk turunan singkong, tape juga menjadi kekhasan daerah tetangga, Jember, dengan variasi rasa yang berbeda. “Kekhasan rasa gurihnya itu, kuncinya terletak di tanaman singkong yang menjadi bahan bakunya. Singkong yang ditanam di Bondowoso dengan yang ditanam di daerah lain seperti Jember misalnya, rasanya akan berbeda. Ini karena faktor tanahnya,” imbuh pria yang juga Kaprodi Ekonomi Syariah dan koordinator Universitas Jember (Unej) kampus Bondowoso ini.

Sayangnya, eksistensi tape khas Bondowoso kini terancam dalam kancah persaingan bisnis kuliner. Pasalnya, sebagai Kota Tape, Bondowoso justru kerap kekurangan pasokan singkong yang menjadi bahan baku tape. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai minus 160 ribu ton per tahun.

“Ini kan ironis, kita sebagai daerah penghasil tape singkong. Untuk memenuhinya, penghasil tape singkong di Bondowoso yang mencapai sekitar 63 UMKM itu sampai harus mendatangkan dari Jember dan Lumajang,” ujar pria asli Bondowoso ini.

Penyebab kekurangan bahan baku singkong ini, kata dia, antara lain karena dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat lebih tertarik untuk menanam dan berinvestasi di komoditas pohon sengon ketimbang menanam singkong. Fenomena penanaman sengon ini dipicu oleh ketimpangan harga antara kayu sengon yang lebih tinggi dibanding hasil tanam singkong.

Karena itu, lanjut dia, perlu ada terobosan dari Pemkab Bondowoso agar harga pohong (sinfkong) di Bondowoso bisa naik sehingga masyarakat minimal bisa sama untungnya antara tanam sengon dengan tanam singkong. “Setidaknya, harganya masih setara dengan mendatangkan pohong dari luar Bondowoso, sehingga perajin tape juga tidak rugi kalau beli singkong asli Bondowoso. Sebab, kalau pakai singkong dari luar Bondowoso, rasa manisnya juga beda,” jelas Fathorrazi.

Upaya penggalakan penanaman singkong di Bondowoso itu, kata dia, memerlukan inisiasi dari pemerintah. Selain itu, peran pemerintah juga dibutuhkan dalam hal pembinaan kualitas sehingga standardisasi mutu tetap terjaga. “Kunci dari rasa tape selain dari bahan, yang paling penting juga diproses peragian. Di sini perlu ada standardisasi biar terjaga brand dan kekhasan tape Bondowoso,” jelas Fathorrazi.

Standardisasi juga meliputi pengemasan. Kemasan khas tape singkong, yakni besek yang terbuat anyaman bambu, perlu dijaga. “Ini juga terkait ukuran daya tampung besek. Standarnya kan 1 besek isi 1 kilo. Cuma sekarang mulai tergeser oleh kemasan nonbesek, seperti kertas karton,” papar penerima penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden SBY tahun 2013 ini.

Upaya penggalakan produksi tape khas Bondowoso juga perlu diintegrasikan dengan konsep pertanian terpadu. “Limbah dari singkong, yakni daunnya, bisa dijadikan pakan ternak. Karena Bondowoso kan penghasil ternak terbesar ketiga di Jawa Timur. Ini juga perlu diperkuat lagi,” pungkas Fathorrazi. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Adi Faizin

Editor : Narto