Menciptakan Mutu Pembelajaran di Sekolah

Oleh: Dr. Khotibul Umam, M. A*

Dalam pengelolaan di sekolah, mutu menjadi tujuan yang akan dicapai, baik mutu proses, mutu pelayanan, mutu pengelolaan, mutu sarana maupun mutu lulusan (out put). Mutu adalah suatu tingkatan yang menunjukkan gradasi suatu tingkatan sebuah obyek. Maka sekolah dikatakan bermutu, dapat dilihat dari model tujuannya; misalnya nilai akhir ujian semester, ujian sekolah, ujian  nasional. Dari model sistemnya; dalam hal ini seluruh unsur di dalamnya mulai kepemimpinan sekolah, guru, staf/karyawan, kurikulum, sarana-prasarana, pembiayaan, dan lain-lain. Dari model prestasinya; dalam hal ini adalah keseluruhan prestasi yang dicapai oleh sekolah maupun siswa baik prestasi akademik maupun non-akademik.

Salah satu yang menentukan terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah adalah proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas. Proses pembelajaran yang bermutu melibatkan berbagai input pembelajaran seperti peserta didik (kognitif, afektif dan psikomotorik), bahan belajar, metode pembelajaran yang diterapkan guru, sarana-prasarana yang mendukung terhadap pembelajaran, situasi dan kondisi pembejalaran yang kondusif. Oleh karena itu mutu proses pembelajaran akan ditentukan seberapa besar kemampuan guru dalam memberdayakan sumber daya yang ada bagi peserta didik untuk belajar secara produktif.

Konsep mutu pembelajaran dapat difahami melalui tiga pendekatan operasional, yaitu mutu input, proses  dan output-nya. Apabila mutu input bagus kemudian diolah dengan proses yang bagus, maka output-nya akan dihasilkan secara bagus pula. Secara praktiknya tiga pendekatan operasional tersebut dipilah berdasarkan tiga kriteria, yaitu 1) mutu input pembelajaran, 2) mutu proses pembelajaran, dan 3) mutu output pembelajaran.

Pada aspek mutu input pembelajaran, dalam hal ini segala hal yang berkaitan dengan masukan untuk proses pembelajaran di kelas, baik input pembelajaran berupa material dan non-material. Beberapa indikator yang dapat dioperasikan sebagai input pembelajaran di kelas, yaitu 1) sekolah memiliki kebijakan mutu, 2) tersedianya sumber daya yang siap (terutama guru), 3) memiliki harapan prestasi yang tinggi baik prestasi akademik maupun non-akademik, 4) berfokus pada stakeholder (khususnya peserta didik), dan 5) memiliki input manajemen yang bagus.

Pada aspek mutu proses pembelajaran, dapat dilihat berdasarkan indikator-indikator mutu pembelajaran. Meminjam konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), indikator mutu pembelajaran, yaitu 1) proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi, 2) kepemimpinan sekolah yang kuat, 3) pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif, 4) sekolah memiliki budaya mutu, 5) sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis, 6) sekolah memiliki kewenangan (kemandirian), 7) tingginya partisipasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah, 8) sekolah memiliki transparansi manajemen (keterbukaan) dan 9) sekolah selalu melakukan evaluasi dan perbaikan.

Sedangkan pada aspek mutu output pembelajaran dapat dilihat dari hasil kinerja dari proses pembejalaran di kelas, yang menghasilkan prestasi. Kinerja hasil proses pembejaran di kelas dapat diukur dari mutunya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya maupun inovasinya. Indikator mutu output pembelajaran secara umum diklasifikasikan menjadi dua, yaitu 1) academic achievement (prestasi akademik); prestasi yang diperoleh berdasarkan hasil proses pembelajaran di kelas, seperti nilai semester, nilai ujian akhir sekolah, nilai ujian nasional dan lain-lain 2) non-academic achievement (prestasi non-akademik) prestasi yang diperoleh berdasarkan hasil proses situasi, kondisi, iklim dan budaya sekolah yang diterapkan, seperti kebersihan sekolah, kedisiplinan, ketertiban, bidang olah raga, seni, budaya dan lain-lain.

Meminjam pendapat Sudarwan Danim (2007: 56) terdapat lima faktor yang menentukan dalam peningkatan mutu di sekolah, yaitu 1) Kepemimpinan kepala sekolah; harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, memiliki dorongan kerja tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan memiliki disiplin yang kuat, 2) Guru; pelibatan guru secara maksimal dengan peningkatan kompetensi dan profesinya, 3) Peserta didik; diberikan porsi yang lebih dengan pendekatan student oriented yaitu peserta didik sebagai pusat untuk meningkatkan kompetensi, bakat, minat dan kemampuannya secara maksimal, 4) Kurikulum; yaitu adanya kurikulum yang ajeg/tetap tetapi dinamis, dan 5) adanya jaringan kerjasama; menjalin kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat) tetapi juga dengan organisasi lain, seperti perusahaan/instansi sehingga output sekolah dapat terserap di dalam dunia kerja.

(*Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember)

Reporter :

Fotografer :

Editor :