Tantangan Pendidikan Multikultural

Oleh: Moch. Imam Machfudi

Udara malam itu dingin menusuk tulang, angin berhembus cukup kencang di Toowoomba, sebuah kota kecil di selatan Negara bagian Queensland, Australia. Kota berpenduduk 150.000 jiwa ini seolah dibangunkan oleh keributan kecil yang terjadi di tengah bulan Ramadan yang suci di tahun 2014. Percobaan pembakaran masjid (arson attack) begitu mereka menyebut kejadian itu. Secara samar-samar CCTV menangkap sesosok lelaki bertubuh kurus tinggi sekitar 180 cm. Meski tidak teridentifikasi siapa lelaki pelaku pembakaran itu karena diamemakai hoddie yang menutup wajahnya. Tapi bentuk tubuh dan cara berjalan menunjukkan dia adalah laki-laki Kaukusian, kita menyebutnya orang bule. Itulah berita yang menyebar dan orang bias mengakses internet tentang kejadian tersebut.

Arson attack itu adalah percobaan pembakaran yang pertama. Meski tidak menimbulkan kerusakan yang signifikan, dampak psikologisnya cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya rasa cemas dari warga Muslim Toowoomba. Selang beberapa bulan, terjadi lagi pembakaran masjid Garden City Toowoomba yang kedua. Kali ini dampak kerusakan yang ditimbulkan cukup parah meliputi ruang takmir, ruang penyimpanan harta benda milik masjid, dan ruang shalat utama terbakar dan menghanguskan karpet dan plafon/atap masjid. Sehingga imam memindahkan jama’ah untuk shalat jum’at di taman dekat masjid dan ini mendapat perhatian khusus dari walikota. Media cetak dan televise baik local maupun nasional Australia meliput kejadian ini dengan title “Life in Fear”. Kejadian itu disiarkan televise selama beberapa hari kemudian.

Pendidikan Multikultural di Sekolah

Pendidikan multicultural adalah sebuah proses yang memandang manusia memiliki pluralitas dan heteroginitas yang dalam definisi Edward Taylor adalah sebuah complex system yang meliputi pengetahuan, agama atau keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan, kapasitas dan kebiasaan seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Clifford Geertz melibatkan semiotik asimbolik yang menjelaskan makna di balik simbol-simbol cultural dalam masyarakat tertentu. Dan pendidikan multicultural itu mendasarkan dirinya padap rinsip kesetaraan (equality). Paradigma yang dibangun adalah bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, siswa berhak memperoleh perlakuan yang sama di dalam dan di luar kelas. Tidak ada pembedaan perlakuan berdasarkan warna kulit dan ras dalam pelayanan pendidikan di sekolah.

Dalam konteks Australia, pendidikan dasar (primary education) berlangsung selama 7 (tujuh) tahun, setelah itu dilanjutkan ke jenjang menengah (secondary education) selama 5 (lima) tahun, yang terdiri dari kelas 8 (delapan) dan 9 (sembilan) sebagai junior secondary school dan kelas 10-12 (sepuluh sampai duabelas) sebagai senior secondary school.

Meski multicultural education tidak masuk dalam kurikulum, pendidikan untuk menghargai sesame telah diajarkan sejak siswa berada di kelas 1 SD. Sebagai contoh, SD Darling Heights State School memiliki siswa dari 39 negara dari seluruh dunia. Mereka adalah anak-anak dari mahasiswa internasional yang sedang menempuh kuliah pada University of Southern Queensland, baik yang mengambil Master’s degree maupun Doctor degree. Dengan latar belakang yang berbeda tersebut, tentu pendidikan multicultural menjadi hal yang senantiasa menjadi karakter utama di sekolah tersebut. Sebagai contoh festival budaya yang dikemas dalam TFC atau Toowoomba Festival of Culture diselenggarakan setiap tahun biasanya pada bulan Agustus. Pada festival ini semua sekolah di kota Toowoomba ambil bagian dan menampilkan berbagai atraksi kesenian dari berbagai negara. Setiap tahun SD Darling Heights menampilkan kesenian khas Indonesia, seperti angklung dan gamelan Bali. Para penabuh gamelan adalah siswa-siswi sekolah ini baik siswa dari Indonesia maupun orang Australia, bahkan dari beberapa negara di kawasan Asia Tengah seperti Afganistan, Kazastan, dan lain-lain. Mereka terlihat mahir memainkan alat-alat gamelan yang merupakan musik asli Indonesia.

Beberapa contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa perilaku (attitude) untuk menghargai perbedaan budaya (culture) mendapat tempat dihati penghuni kota ini. Sejak awal didirikannya kota ini, menurut cerita penduduk setempat, telah disadari akan adanya keberagaman, multikulturalisme. Betapapun perkembangan kota ini menunjukkan semakin beragamnya warna kulit, bahasa, dan budaya yang dibawa oleh para “pendatang”, penghargaan terhadap perbedaan budaya dan bahasa benar-benar menjadi jiwa bagi sebagian besar masyarakat “kota bunga” ini.

Prejudice, Stereotype dan Islamic Teaching

Sesungguhnya tantangan dalam pendidikan multicultural adalah masih adanya sikap curiga yang disertai rasa iri dan benci (prejudice) dan penyamarataan pandangan (stereotype) terhadap kelompok tertentu dalam masyarakat. Apa yang terjadi di Toowoomba di pertengahan bulan Ramadan 2014 itu dapat dipahami sebagai adanya prejudice dari seorang warga. Pembakar masjid itu menurut saya tidak mewakili kelompok warga atau komunitas manapun. Dia hadir dalam sepinya pengetahuan tentang ajaran Islam. Dia terbakar api stereotype bahwa Islam adalah agama teroris yang gencar diilustrasikan oleh media Barat. Sang pembakar kemudian terinspirasi untuk melenyapkan Islam dari dunia. Dan dunia Islam yang terdekat dengan dirinya adalah digambarkan dengan identitas masjid tersebut.

Akhirnya, sekolah memiliki tugas untuk menghilangkan adanya prejudice dan stereotype yang mungkin muncul dari masyarakat dan opini yang dibentuk oleh media yang boleh jadi diserap langsung oleh siswa. Sungguh siswa membutuhkan informasi tentang ajaran Islam yang mengajarkan kesetaraan (equality) seperti yang tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Hujurat Ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mengenal.” Inilah salah satu esensi Islamic teaching yang harus diketahui oleh semua orang. Manusia memang diciptakan dalam berbagai bangsa, warna kulit, ras, suku, agar saling kenal mengenal. Wallahua’lam.

* Moch. Imam Machfudi, Ph.D. adalah Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Jember

 

Reporter :

Fotografer :

Editor :