Tragedi Pacuan Kuda yang Menewaskan Baghda Direkonstruksi

37
UNGKAP: Rekonstruksi yang dipimpin Kapolres Lumajang guna dalami penyebab tragedi pacuan kuda di Desa Wotgalih, Yosowilangun yang merenggut nyawa bocah 7 tahun.

RADARJEMBER.ID – Peristiwa nahas yang menimpa Baghda Aghil Benzema bocah 7 tahun yang meninggal karena terinjak kuda pada lomba pacuan kuda Sabtu (9/02) kemarin lusa di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang, mendapat atensi serius dari kepolisian. Dipimpin langsung oleh Kapolres Lumajang, pada Selasa (12/02) siang tadi meluncur ke lokasi kejadian. Sejumlah adegan rekonstruksi digelar di lokasi yang berada dekat di muka bibir Pantai Wotgalih itu.

Nayamah nenek korban saat memperagakan beberapa rekonstruksi terlihat tak kuasa. Suasana rekonstruksi yang awalnya berjalan lancar kemudian sempat terhenti sejenak. Hal ini karena nenek korban tidak sanggup meneruskan adegan rekonstruksi yang digelar. Akan tetapi beberapa adegan rekonstruksi terus dilanjutkan dengan melibatkan pihak lain.

Usman Rifai ayah korban mengatakan dengan digelarnya rekonstruksi ini diharapkan peristiwa yang menimpa putrinya itu mendapatkan tindak lanjut dari kepolisian. Setidaknya respon dari panitia penyelenggara lomba pacuan kuda. Sehingga persoalan yang menjadi perhatian serius semua pihak ini mendapatkan titik terang. “Harapannya kejadian ini segera mendapatkan solusi. Oleh sebab itu, perhatian kepolisian dalam gelar ini bentuk respon cepat terhadap tragedi ini,” kata Usman Rifai ayah korban saat dihadapan sejumlah awak media yang turut hadir di rekonstruksi.

Sementara itu Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SIK MH MM dalam pernyataannya usai rekonstruksi mengatakan sejauh ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap 15 orang yang juga terdapat panitia penyelenggara. Pihaknya juga akan terus mendalami terkait surat perizinan lomba. “Kita sudah memeriksa 15 orang yang diantaranya ada panitia. kita tentu gali informasi lebih dalam terkait beberapa hal. Seperti diantaranya menginvestigasi apa terdapat kesalahan SOP lomba,” ujar Kapolres Lumajang memberikan keterangan usai gelar rekonstruksi tragedi pacuan kuda di Desa Wotgalih, Yosowilangun, Lumajang, Selasa siang (12/02) tadi.

Hasil dugaan awal, kuda asal gresik yang ikut dalam pacuan, menerobos pagar disebabkan kurang dalamnya pagar dan gesekan antar kuda saat lomba berlangsung. Selain itu penggunaan tali rafia di sepanjang pagar juga disinyalir menyebabkan kuda bisa dengan mudah keluar dari arena.

Sehingga ini yang mengakibatkan bocah 7 tahun itu meregang nyawa. Namun demikian ada hal yang perlu diapresiasi dari pagelaran lomba pacuan kuda itu. Lanjut Kapolres melalui acara ini sebenarnya bisa mengangkat potensi wisata dan kesenian Lumajang. “Dugaan sebelum kuda keluar menerobos area pagar terjadi gesekan diantara kuda. Belum lagi kedalaman pagar yang kurang. Di lain sisi pagelaran ini bagus untuk pemasaran wisata Lumajang, pendapatan masyarakat namun saya menyayangkan terjadi tragedi yang memilukan ini,” paparnya.

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : Ahmad Jafin

Editor : Dzikri Abdi Setia