Penantian Empat Tahun, Jarang Latihan, hingga Dikontrak Daerah Lain

Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI jadi ajang terlama penantian sang atlet. Biasanya, even itu digelar dua tahun sekali. Namun baru kali ini empat tahun sekali. Lantas bagaimana penantian sang atlet ?

8
ABSEN PORPROV: Almass Adibah (kanan) saat latihan di Gor Garuda beberapa bulan lalu. Atlet wushu yang menyumbang perak di Porprov IV dan emas di Porprov V ini tidak bisa tampil di Porprov tahun ini. 

RADAR JEMBER.ID – Nama Almass Adibah tidak asing bagi telinga KONI Jember. Dalam dua kali gelaran Porprov, dua kali pula dia mempersembahkan medali untuk kontingen Jember.

Di Porprov IV di Madiun pada 2013 jadi pembuktian dia dengan meraih medali perak di nomor duilian cabang olahraga (cabor) wushu. Puncaknya terjadi di Porprov V di Banyuwangi 2015.

Ketika kembali turun di nomor seni berpasangan tersebut, dia mempersembahkan medali emas. Prestasi yang luar biasa, dan bisa mendongkrak posisi Jember di urutan medioker klasemen perolehan medali Porprov.

Tapi Almass bukan seperti dulu lagi. Jika empat 4-6 tahun silam tiap hari mengenakan seragam sekolah, sekarang tumbuh lebih dewasa. “Sekarang saya sering di Malang, karena kuliah di sana,” ucap alumnus SMAN 2 Jember ini.

Almass punya prestasi dan kaya pengalaman di pesta akbar olahraga se-Jatim itu. Dua kali mendapatkan medali di periode Porprov yang berbeda. Tapi sayang, Porprov VI tahun ini tidak akan ada lagi sentuhan gerakan seni bela diri wushu darinya.

Ya, kata Almass, besar kemungkinan dia tidak akan ikut ke Lamongan tempat berlaganya Porprov Jatim VI itu. “Sepertinya saya tidak ikut Porprov. Juga belum ada sama sekali panggilan dari cabor,” imbuhnya.

Sebetulnya, Porprov tahun ini adalah tahun terakhir baginya. Apalagi, usianya masih 19 tahun dan bisa ikut karena usia Porprov maksimal 21 tahun.

“Seandainya saya diminta untuk ikut pun, ya harus paham kondisi saya. Karena saya kuliah di Malang dan latihannya juga bisa tidak maksimal,” imbuhnya.

Sejak 2017, dia memang kuliah di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Tapi itu bukan alasan pertama tidak ikut Porprov. Akibat Porprov yang terlalu lama digelar, dia kurang latihan. ”Apalagi sekarang di Malang. Biasanya kan per dua tahun sekali, sekarang empat tahun,” imbuhnya.

Rentang waktu yang cukup lama tersebut membuat Almass sedikit galau untuk mengukir kembali prestasi di bidang olahraga. Sehingga pada waktu itu untuk latihan kurang begitu semangat, ditambah lagi dia kian mantap kuliah di luar kota.

Cerita Almass berbeda pula dengan atlet catur peraih emas di Porprov V Banyuwangi 2015 lalu. Dia bernama Widya Tri Febriyanti.  Widya tidak ikut serta sebagai kontingen Jember bukan karena usia yang melebihi batas, jarang latihan, ataupun kuliah luar kota seperti Almass.

Dia tetap ikut Porprov, tapi bukan untuk Jember, melainkan untuk daerah lain. Peraih medali emas catur itu harus berlabuh ke Lamongan sebagai tuan rumah Porprov VI tahun ini. “Saya pindah daerah, karena dikontrak Kabupaten Lamongan,” ucapnya, kepada Jawa Pos Radar Jember melalui pesan singkat WA itu.

Sayang, alumnus SMAN Arjasa itu tidak bisa memberikan penjelasan mengapa berlabuh ke Lamongan. Widya juga salah satu atlet yang kaya pengalaman di Porprov. Dua kali ikut Porprov, tahun 2013 berlaga di Tulungagung, dan 2015 di Banyuwangi.

Ketidakikutan Almass dan Widya, sang peraih medali emas di Porprov sebelumnya, bisa jadi akan menciutkan prestasi perolehan medali kontingen Jember. Meski begitu, masih banyak harapan peraih  lewat atlet  lain. Seperti Evaline Sanjaya.

Lingling, sapaan akrabnya adalah pasangan Almas di Wushu, tetap turun di Porprov untuk Jember nanti. Meski beberapa tahun ini gadis 20 tahun itu kurang semangat latihan (karena waktu tunggu Porprov terlalu lama), dia mulai berlatih intensif setidaknya di bulan Febuari ini. “Sekarang latihannya seminggu tiga kali,” pungkasnya. (*)

ALMAAS ADIBAH FOR RADARJEMBER.ID

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Rangga Mahardhika