Satu Guru Mengajar 2 Rombel

KERJA DOBEL: Agus Wahyudi (batik cokelat) saat mengajar siswa kelas V SDN Curahtakir 03, Desa Curahtakir, Tempurejo.

RADAR JEMBER.ID – Kekurangan guru SDN bukan hanya dialami di SDN perkotaan saja. Tetapi ini juga dirasakan oleh beberapa SD negeri yang ada di wilayah pinggiran. Seperti SDN Curahtakir 03, Dusun Bajing, Desa Curahtakir, Kecamatan Tempurejo. Akibat kekurangan guru, di sekolah ini satu guru terpaksa mengajar dobel dua rombongan belajar.

Seperti dialami M. Agus Wahyudi. Ia harus mengajar dua kelas secara bergantian. Guru kelas V juga harus mengajar di kelas IV. Untuk itu, dirinya mengaku, harus pintar-pintar mengatur jadwal mengajar di dua rombongan belajar ini. Dengan harapan, kegiatan belajar mengajar (KBM) di kedua kelas bisa berjalan dengan optimal dan kondusif.

“Pertama masuk di ruang kelas V. beberapa menit setelah memberi materi dan penjelasan kepada siswa, selesai langsung pindah ke ruang kelas lainnya (kelas IV)”, ujar Agus. Dirinya mengatakan jika kondisi ini sudah dilakukan pihaknya cukup lama. Pasalnya, sekolah memang kekurangan guru.

Oleh karena itu, siswa kelas IV yang diajar ini memang harus menunggu dulu. Baru setelah selesai mengajar kelas V, dirinya pindah mengajar di kelas IV. Meskipun demikian, saat jam masuk siswa yang menunggu giliran diajar harus tetap di ruang kelas. “Sehingga tidak ada siswa yang bermain di luar meskipun menunggu giliran,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, sebenarnya bukan hanya masalah guru yang menjadi kendala di SDN Curahtakir 03, Desa Curahtakir, Tempurejo. Selain itu, ruang kelas sangat tidak layak untuk KBM (kegiatan belajar mengajar). Dua ruang kelas bagian atapnya terbang, hingga saat ini belum ada perbaikan. Sehingga siswa di dua kelas itu kalau hujan deras harus berpindah pindah tempat, karena kelasnya menjadi bocor dan basah semua.

Atap dua kelas yakni kelas V dan VI terbang sehingga ruang kelas atapnya bolong. Dirinya menjelaskan, kondisi parah ini terjadi setelah lima bulan lalu diterjang angin puting beliung. Berdasarkan informasi pihak sekolah, kondisi ini memang dibiarkan. Pasalnya, pihak sekolah sudah tidak mampu lagi untuk melakukan perbaikan.

Bahkan, pintu ruang kelas IV juga sudah separuhnya rusak. “Sekolah tidak ada biaya untuk memperbaiki kerusakan ini,” ujar Agus Suryanto Kepala SDN Curahtakir 03, kemarin. Masih menurut Agus, untuk kekurangan guru memang menjadi problem pihaknya, karena ada satu guru harus mengajar dua kelas secara bergantian.

“Untuk Guru di SDN Curahtakir 03 hanya ada 7 orang. Itu pun guru, operator, dan kepala sekolah. Sehingga masih ada kekurangan dua guru lagi,” jelasnya. Apalagi, kalau ada guru yang sakit, otomatis ada guru satu bisa mengajar tiga kelas. Meskipun di tengah keterbatasan, diakui Agus, yang penting bagi anak-anak adalah kondisi tempat belajar yang layak.

Yakni mereka menunggu adanya program rehabilitasi sekolah, karena sebanyak tiga ruang kelas di sekolah ini memang sudah tidak layak untuk ditempati. “Selain bocor, temboknya lembap dan lantainya mengeluarkan air kalau hujan,” pungkas Agus. (*) 

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Rangga Mahardhika