Masa Depan Air bagi Generasi Muda

Manfaatkan Bendungan Jadi Destinasi Wisata

16
MENAKJUBKAN: Lokasi Bendungan Dam Rejo (BDR) yang ada di Desa Sanenrejo, Tempurejo ini dimanfaatkan sebagai destinasi wisata.

RADAR JEMBER.ID – Generasi muda Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo, Tempurejo memiliki semangat baru dalam membangun desanya. Potensi sumber daya air yang mereka miliki kini dikembangkan menjadi destinasi wisata. Yakni wisata Bendungan Dam Rejo (BDR). Lambat laun, lokasi bendungan yang seperti danau ini pun semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Bendungan yang sebenarnya berfungsi untuk irigasi, kini memiliki manfaat tambahan. Yakni sebagai tempat rekreasi masyarakat. Sebab, pemandangan alam yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu sangat  memukau. Pengembangan BDR mampu mengubah pola pikir masyarakat.

Bila sebelumnya mereka menjarah hutan, putus sekolah, dan malas belajar, kini semangat muncul untuk belajar memajukan desa. “Hutannya sangat alami, begitu indah,” kata Totok Widarto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sarang Tawon, Tempurejo. Dirinya menjelaskan, bendungan tersebut dibangun sekitar tahun 1970 silam. Lalu, pada tahun 1992 sempat diperbaiki. Hingga akhirnya kini bendungan ini mirip dengan sebuah danau.

“Awalnya bendungan ini lurus, lalu ketika diperbaiki diubah berbentuk huruf L,” akunya. Bendungan itu dinilai menjadi bendungan yang unik, sebab berbentuk L, sehingga semakin memperindah pemandangan. Selama ini, air bendungan tersebut digunakan warga untuk mandi dan mencuci. Selain itu, untuk mengaliri sawah para petani.

“Saya melihat bendungan ini memiliki potensi wisata,” tuturnya. Akhirnya, pria yang akrab disapa Totok tersebut mulai mengajak anak muda untuk berdiskusi. Di sana sudah ada kelompok anak muda Pemuda Mandilis Bersatu (PMB). Para pemuda itu pun sepakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya air menjadi objek wisata.

“Kami bikin jembatan, bikin taman bunga, tempat santai, dan lainnya,” tuturnya. Tak kalah penting, mereka juga membersihkan lingkungan sekitar. Pengunjung ke tempat itu tak hanya dari Jember, namun juga luar kota. Pada momen tahun baru, pengunjung bisa mencapai 2000 pengunjung. Pada hari libur biasa bisa 300 pengunjung.

Dia menambahkan, dampak pengembangan sumber daya air itu sudah dirasakan masyarakat. Terutama sektor ekonomi yang semakin menggeliat untuk masyarakat sekitar. Warga mulai berjualan, bekerja sebagai ojek, membuat kerajinan, dan lainnya. “Anak-anak semakin mengerti dan paham pentingnya menjaga lingkungan,” terang anggota Polsek Mumbulsari tersebut.

Bila sebelumnya merambah hutan, putus sekolah, dan malas belajar, kondisi itu sudah berubah. Mereka lebih semangat belajar karena ingin tahu cara memajukan desanya. Aktivis lingkungan Jember, Wahyu Giri menilai pemanfaatan sumber daya air menjadi wisata BDR itu mampu membentuk warga yang memiliki kesadaran ekologis. “Mereka berpikir kalau hutannya rusak, wisatanya juga ikut rusak,” ucapnya.

Namun, pemanfaatan itu tidak mengubah fungsi pokok bendungan, yakni fungsi pengairan. Diakuinya, Bendungan Dam Rejo yang dijadikan destinasi wisata itu lebih terawat. “Saya lebih mudah berbicara dengan warga tentang kelestarian hutan,” akunnya. Kepedulian itu terbangun dengan tidak membuang sampah ke sungai. Mereka menjaga lingkungan karena berdampak langsung bagi kehidupannya. Apalagi, pengembangan wisata mendatangkan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, Luh Putu Suciati Ketua Program Studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Air Pascasarjana Universitas Jember menambahkan, sumber daya air memiliki nilai ekonomi dan juga nilai sosial. “Dalam lingkup barang sumber daya, sumber daya air dikategorikan sebagai common pool resources,” jelasnya. Yakni adanya persaingan untuk mendapatkan sumber daya, namun sisi lain tidak bisa melarang pihak lain untuk menggunakan sumber daya tersebut.

Artinya, dalam pengelolaan air diperlukan peran pemerintah atau negara. Menurut dia, pengelolaan sumber daya air diatur dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pengelolaan sumber daya air yang ideal adalah dengan melibatkan masyarakat di wilayah yang dekat dengan sumber daya air. Atau masyarakat yang paling dahulu memanfaatkan sumber daya air tersebut. “Agar aspek pemanfaatan sumber daya air  tetap berkelanjutan, perlu melibatkan masyarakat,” jelasnya.

Konsep integrated water resources management (IWRM) sekarang sudah mengarah pada water governance atau tata kelola sumber daya air yang melibatkan multi aspek. Mulai dari sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan, serta multi stakeholder. Dia menilai, pemanfaatan sumber daya air sebagai objek wisata dikategorikan sebagai jasa lingkungan yang dapat diberikan oleh sumber daya air. Objek wisata yang memanfaatkan sumber daya air harus memperhatikan aspek konservasi lahan dan air. “Kedua aspek tersebut saling terkait,” ujarnya.

Selain itu, jasa lingkungan yang diberikan oleh sumber daya air harus diberi nilai atau  harga yang layak untuk menjamin keberlanjutannya. Harga yang layak dapat berupa tiket masuk ke objek wisata yang bisa digunakan untuk pengelolaan atau konservasi. Pemanfaatan itu juga sebagai sistem insentif bagi masyarakat untuk memelihara sumber daya air. Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan ekonomi, bukan sebaliknya, menyebabkan bencana jika tidak dikelola dengan baik.

Cara yang paling efektif untuk keberlanjutan pemanfaatan sumber daya air, kata Suciati, adalah melalui optimalisasi kearifan lokal masyarakat. Kemudian, keterlibatan warga sesuai dengan aspek riparian right. “Kearifan lokal itu bisa nilai, norma, kepercayaan, sanksi dan aturan-aturan khusus yang dikembangkan warga,” pungkasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Rangga Mahardhika