Kiai Pengasuh Anak Jalanan dan Anak Punk

KH Nur Mustofa Hasyim, Pengasuh Ponpes Ngashor Gumukmas

Bagi KH. Nur Mustofa Hasyim, Pengasuh Ponpes Ngashor Gumukmas. Tuhan itu Robbil Alamin, Tuhan semesta alam. Rahmat yang diberikan juga berhak diterima oleh siapa saja. Berangkat dari pemikiran inilah, sejak 2008 lalu dia mulai mendekati anak punk dan anak jalanan untuk diajak ngaji bareng. Karena mereka juga berhak mendapat rahmat Tuhan tersebut.

346
BERFIKIR SEDERHANA: Pengasuh Ponpes Ngashor Gumukmas, KH Nur Mustofa Hasyim, ditemui di kediamannya.

RADAR JEMBER.ID – Suasana di Pondok Pesantren (Ponpes) Ngashor, Gumukmas, masih terlihat sepi. Beberapa pekerja bangunan terlihat mondar-mandir di halaman masjid yang pembangunannya tampak belum selesai. Pintu gerbangnya juga terbuka. Dengan demikian, setiap tamu dengan mudah bisa memasuki halaman masjid.

Monggo-monggo, silakan duduk,” sapa lelaki bersarung. Pria berpeci hitam itu duduk beralaskan karpet di beranda rumah yang terbuat dari bambu. Persis di depan bangunan masjid. Kemudian, dia mempersilakan Radarjember.id nimbrung di beranda rumah. Belakangan diketahui, pria inilah yang bernama KH Nur Mustofa Hasyim, yang lebih akrab disapa Gus Mus.

Siang itu, banyak hal yang dia sampaikan tentang perjalanannya mengasuh anak punk dan anak jalanan. Nada bicaranya renyah. Sesekali tawanya juga terdengar lepas. Rupanya gaya sok akrab seperti ini juga yang dipakai Gus Mus mendekati anak-anak punk dan anak jalanan. “Sebulan sekali kami menggelar acara ngaji sambil liwetan. Namanya Jelma, alias jemaat liwetan malam. Biasanya diselenggarakan tiap Jumat malam Sabtu di akhir bulan,” katanya, mengawali cerita tentang kelompok pengajian anak punk tersebut.

Kedekatan Gus Mus dengan anak-anak yang oleh sebagian masyarakat dinilai negatif ini sebenarnya berawal sejak 10 tahun lalu. Kala itu, dia bertemu dengan anak yang bernama Syafii, asal Jatiroto, Lumajang. Pertemuan yang tak sengaja ini terjadi di lampu merah Rambipuji, ketika Syafii dan sejumlah temannya tengah mengamen. “Waktu itu saya beri uang Rp 5 ribu. Tapi saya minta dinyanyikan dua lagu,” akunya.

Rupanya pertemuan ini berlanjut. Agamawan yang juga memiliki keahlian mengarang lagu ini mengajak anak-anak itu ke pesantren. Di lembaga pendidikan agama, secara bertahap anak-anak jalanan itu diajak kembali mengenal Tuhan. Caranya, melalui pendekatan lagu-lagu religi yang dia ciptakan. “Setelah kerasan, baru diajari cara berwudu. Cuma saya tak menyebutnya berwudu. Tapi raup,” ujarnya.

Ternyata Gus Mus kaget. Karena Syafii yang menjadi pentolan kelompok anak punk itu, cukup mahir berwudu. Bahkan, saat diajak mengaji dia juga fasih. Upaya pendekatan pun dilakukan. Kepada Gus Mus, Syafii mengakui jika dirinya adalah alumni salah satu pesantren di Surabaya. Hanya saja, ketika pulang ke rumahm dia salah arah dan mencari kebebasan di jalanan.

Dari sinilah Gus Mus mulai memahami bahwa tak semua anak di jalanan itu miskin ilmu. Karena banyak faktor yang memengaruhi kenapa mereka sampai menjadi anak jalanan. Meski ada yang memang karena tabiat. Tapi menurut Gus Mus, sebagian lantaran broken home. “Namun, tidak melulu orang tuanya berpisah, melainkan tidak mendapat kasih sayang. Selain itu, juga ada kasus pemaksaan kehendak orang tua terhadap anak. Sehingga mereka pergi dari rumah dan memilih hidup di jalan,” ucapnya.

Selanjutnya, setelah melalui proses pendekatan yang cukup lama, dia mengajak anak-anak dengan ciri rambut njeprak itu mengaji. Semula hanya di lingkungan pesantren saja. Hingga kemudian, ada orang tua anak dari anak jalanan tersebut yang datang ke pesantren. Orang itu membawa bahan makanan dan menyampaikan terima kasih karena perilaku anaknya berubah. “Dari sinilah cikal bakal liwetan dimulai. Sehabis mengaji, disambung dengan masak bersama kemudian dimakan bareng menggunakan alas daun pisang,” tuturnya.

Kegiatan liwetan ini selanjutnya berkembang. Dari ponpes ke rumah-rumah. Tak hanya di rumah anak-anak jalanan itu saja, tapi juga di rumah warga. Sambutan hangat ini karena warga menilai syiar agama yang dilakukan tidak kaku. Lebih luwes. Sehingga menarik minat warga. Dampaknya, kesan anak jalanan yang kumuh mulai terkikis. Mereka diterima oleh masyarakat.

Saat ini, kegiatan bulanan itu juga diselingi ceramah kebangsaan. Dengan begitu, anak-anak punk itu tak hanya menerima ilmu agama semata, tapi juga tentang wawasan kebangsaan. “Harapannya, agar mereka juga cinta tanah air, dan tidak menjadi orang asing di negeri sendiri. Sehingga tak mudah terbawa virus yang mengajak mereka melakukan bom bunuh diri. Ini yang selalu saya wanti-wanti,” pungkasnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Mahrus Sholih

Editor : Rangga Mahardhika