Rehabilitasi Monyet Ekor Panjang

UNTUK PEMULIHAN SATWA: Salah satu monyet yang dibawa ke tempat transit di City Forest and Farm yang akan dijadikan pusat rehabilitasi monyet.

RADARJEMBER.ID – Maraknya perlakuan tidak baik pada satwa liar, khususnya monyet ekor panjang, menjadi perhatian berbagai pihak. Sering kali, monyet ini disiksa hanya untuk mendapatkan keuntungan. Untuk itulah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember bersama City Forest and Farm milik Arum Sabil dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) membuat tempat rehabilitasi dan kegiatan rehabilitasi, dimulai kemarin (8/2).

“Tempat ini akan menjadi tempat transit monyet untuk direhabilitasi,” kata Setyo Utomo, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember. Dirinya menjelaskan, pelaksanaan rehabilitasi monyet ini merupakan kerja bareng dari banyak pihak. Lahan yang digunakan untuk tempat rehabilitasi itu merupakan milik Arum Sabil. Sedangkan pembangunan dilakukan oleh JAAN dan BKSDA sendiri yang akan melakukan pemantauan.

Ada sekitar 25 ekor monyet yang didatangkan dari beberapa kabupaten di Jawa Timur. Monyet tersebut merupakan hasil dari tangkapan dan penyerahan dari warga. Seperti dari topeng monyet dan lainnya. “Makanya warga yang punya monyet kami imbau untuk diserahkan pada kami,” tegasnya.

Setyo menambahkan, tempat rehabilitasi itu akan menjadi wadah untuk mempersiapkan monyet sebelum dilepas ke alam liar. Pasalnya, pelepasan itu memang tidak bisa secara langsung. Tetapi membutuhkan waktu agar bisa beradaptasi. “Perlu dilihat dulu, mulai dari kesehatan dan kemampuan adaptasinya,” jelasnya.

Rencananya, lanjut dia, satwa liar monyet ekor panjang itu akan dilepasliarkan ke Pulau Nusa Barong. Namun, dilepas secara bertahap. “Sebelum dilepas ke Nusa Barong, transit dulu di tempat rehabilitasi,” jelasnya. Tujuannya, agar monyet ini bisa beradaptasi dengan lingkungan liar setelah sebelumnya terlalu akrab dengan dunia manusia.

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan, BKSDA Wilayah III Jember bersama JAAN terus berupaya melindungi monyet ekor panjang dari eksploitasi. Tempat yang diberikan kepercayaan adalah City Forest and Farm. “Ada 25 ekor monyet direhabilitasi, kemudian akan dilepasliarkan,” jelasnya.

Arum Sabil dalam kesempatan kemarin mengapresiasi adanya sinergi JAAN dengan aparat penegak hukum, BKSDA Wilayah III Jember, dan pihak lainnya. Arum sebagai penggiat lingkungan hidup di bawah naungan Taruna Bumi Foundation. Pasalnya, semua pihak juga resah dengan pemanfaatan monyet ekor panjang tersebut.

Dia menilai, kebiasaan warga memanfaatkan monyet untuk mencari nafkah kurang baik. Sebab, sering kali mereka justru menyakiti monyet. Selain itu, warga yang memelihara juga tidak mengerti kesehatannya. “Monyet ini berbahaya, kalau tidak mengerti, khawatir yang mengidap penyakit TBC. Bisa menular pada warga,” paparnya.

Hal itulah yang harus diedukasikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan penyakit. Dorongan Indonesia bebas topeng monyet ekor panjang terus menggelora. Sampai sekarang, sudah ada dua tempat rehabilitasi monyet ekor panjang. Yakni di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Jumai

Editor : Rangga Mahardhika