Tim Jaya Kuda FT Unej Sabet Dua Gelar Sekaligus

Ciptakan Pencegah Banjir dan Pengangkut Sampah

20
JUARA CEGAH BANJIR: Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember yang tergabung dalam tim Jaya Kuda saat menjuarai kompetisi Water Project Design Innovations di ITB Bandung.

RADARJEMBER.ID – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember berhasil meraih dua gelar dalam lomba tingkat Nasional di ITB. Alat rancangan mereka mengenai tanggul pencegahan banjir dan pengangkut sampah otomatis yang bisa dioperasikan melalui ponsel pintar android menjadi juara di kategori terbaik dan gelar desain favorit.

Fakultas Teknik Universitas Jember seakan tak pernah habis dalam hal prestasi dalam lomba-lomba tingkat nasional maupun internasional. Mahasiswanya seakan ulet merancang alat-alat yang bisa menjadi inovasi masa depan. Seperti yang dilakukan tim Jaya Kuda.

Tim yang beranggotakan tiga mahasiswa dari jurusan yang berbeda ini, berhasil menyabet dua gelar sekaligus. Yakni dalam kompetisi Water Project Design Innovations yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB) Pada 19 Januari 2019 lalu. Tiga mahasiswa Unej itu adalah Robit Dahnial Ilhaq dari jurusan Teknik Sipil yang sekaligus menjadi ketua tim, Malikul Fanani, dan Muhammad Taufik sama dari Teknik Elektro Unej.

Tim mereka keluar sebagai juara di dua kategori, yakni gelar rancangan maket terbaik dan gelar desain favorit. Lomba tersebut diusung dengan tema pengendalian banjir terpadu dalam mencapai visi pembangunan nasional di daerah aliran sungai Citarum. Khususnya di daerah Dayeuh Kolot, Bandung. “Dalam lomba ini, kami merencanakan tanggul dan alat pengangkut sampah otomatis. Termodifikasi power plant mikrohidro sebagai wujud pencegahan penumpukan sampah dan banjir,” tutur Robit, ketua tim Jaya Kuda.

Robit menambahkan, lokasi yang diambil dalam lomba itu adalah di daerah Dayeuh Kolot. Daerah tersebut memang memiliki elevasi permukaan tanah lebih rendah daripada permukaan airnya. Jadi, ketika debit air tinggi, otomatis daerah itu tergenang banjir. Selain itu, faktor yang menyebabkan banjir juga masalah sampah. Sampah yang terus menumpuk juga masih menjadi kendala utama datangnya bencana banjir.

Masih lanjut Robit, timnya membuat rancangan tanggul yang menjadi dinding penahan agar permukiman warga tidak kebanjiran. Sedangkan alat pengangkut sampah otomatis tersebut bisa dioperasikan melalui ponsel pintar (smartphone). Alat tersebut sudah dirancang menggunakan IOT, bahkan bisa di-setting setiap berapa menit sekali untuk pengangkatan sampah.

Di Bandung, timnya juga berdiskusi dengan Hari, selaku kepala proyek kolam ritensi dari BBWS Sungai Citarum. Robit menerangkan bahwa penempatan mikrohidro yang pas bisa ditaruh di pintu air, antara kolam dan Sungai Citarum. “Selanjutnya kami juga merencanakan mikrohidro. Rencana awal mikrohidro akan dibuatkan sudetan di belakang alat pengangkut sampah itu,” ucap Robit kepada Jawa Pos Radar Jember.

Malikul Fanani, anggota tim juga mengatakan, ide pembuatan alat-alat tersebut muncul dari tim sendiri. Mengingat, Indonesia sekarang sudah mulai memasuki revolusi industri 4.0 berbasis internet. “Nantinya, alat-alat itu tentu dikaji ulang. Supaya bisa diterima oleh masyarakat luas,” ungkap Fanani. Pihaknya juga masih mengkaji guna menciptakan alat pendeteksi sedimen. Sedimen sendiri adalah sampah-sampah yang ada pada dasar sungai. Baik sampah alam (pasir, kerikil, lumpur, dll) maupun sampah dari manusia.

“Sedimen jika dibiarkan bisa membuat pendangkalan pada sungai. Jika sungai dangkal, ketika debit air besar dari hulu bisa mengakibatkan banjir juga. Upaya dari pemerintah mengenai sedimen salah satunya seperti normalisasi pengerukan air,” tutur Fanani. Namun, kegiatan normalisasi kebanyakan dilakukan apabila memasuki musim penghujan atau bahkan sudah terjadi banjir.

Salah satu tujuan tim Jaya Kuda kini ialah dengan membuat alat pendeteksi sedimen agar ada normalisasi sejak dini. Sebelum banjir yang disebabkan dari pendangkalan sungai, gara-gara sedimen tersebut. Sementara ini, alat dari Jaya Kuda tersebut masih direncanakan untuk hidrologi sungai saja. Sungai di mana pun, baik di kota maupun desa. Sedangkan untuk banjir rob, lanjutnya,  perlu ada riset lebih lanjut.

“Kalau banjir rob masih perlu studi riset lebih lanjut. Karena dari bidang hidrologi sendiri juga cukup luas. Ada sungai, irigasi, dan pantai. Sementara ini kami merencanakannya untuk sungai dulu,” jelas Robit. Sementara itu, saat disinggung mengenai kendala perancangan alat tersebut, sebelum lomba dimulai, Robit mengakui dana masih jadi problem klasik. Sebab, mereka harus merogoh kocek pribadi untuk membeli alat pendukung yang ada. Baru kemudian diganti oleh pihak kampus, setelah tim Jaya Kuda mempresentasikan ke pihak dekanat, sebelum berangkat ke Bandung. “Kendala lainnya mungkin saya masih angkatan 2017. Jadi, masih beberapa mata kuliah yang belum saya tempuh di bidang alat-alat itu. Saya harus belajar banyak lagi,” pungkas Robit.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Rangga Mahardhika