Kusworo yang Wibowo

Oleh Prof Dr H Abd. Halim Soebahar MA.*

Kusworo Wibowo

RADARJEMBER.ID – Orangnya ganteng, penuh pesona. Perawakannya atletis, sangat cekatan. Senyumnya menawan, salamnya khas dan mendahului setiap menyapa. Tutur katanya santun, kaya ide dan inspirasi. Orangnya rendah hati, enak diajak komunikasi. Persahabatannya sangat tulus, terasa lekat dihati. Semangatnya, takkan pernah mengenal padam.

Jika bicara, mengasyikkan karena selalu menyesuaikan lawan bicara. Jika berjalan, langkahnya tegap terasa gagah. Pertanda santun, berakhlak mulia dan banyak disuka. Jika mengundang, tidak cukup dengan selembar kertas. Beliau juga masih menelpon dan foto undangan lalu di-WA. Itulah AKBP Kusworo Wibowo SH SIK MH Kapolres Jember.

Kusworo Wibowo, lahir di Solo tanggal 6 Pebruari 1979. Kini, usianya persis 40 tahun, usia matang bagi seorang pemimpin dan calon pemimpin besar. Suami Cut Laura ini dikaruniai dua anak: Sayid Arkhan Bachtiar dan Syarifah Aurellia Anabele.

Saya harus menulis, karena banyak hal spesial yang khawatir hilang dalam memori saya. Seingat saya, dua hari menjelang memulai karir barunya di Jember, pada Selasa 13 Desember 2016 ada kasus perobekan bendera NU di Puger. Kamis tanggal 15 Desember serah terima jabatan Kapolres dari AKBP Sabilul Alif SIK SH MH ke AKBP Kusworo Wibowo SIK SH MH. Artinya, kasus perobekan bendera NU di Puger menjadi PR pertama beliau sebagai Kapolres Jember. Dan betul, usai sertijab beliau langsung ke Puger, silaturrahim dengan tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menjaga agar iklim di Puger kondusif. Jum’at, 16 Desember 2016 menjadi Jum’at pertama bagi beliau selaku Kapolres Jember jum’atan di Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, secara kebetulan waktu itu kami Khotib di Masjid kebanggaan masyarakat Jember itu. Ketua Takmir membisiki kami : Prof. tema khutbahnya tolong membahas ukhuwwah, ada Pak Kapolres”.

Sejak itulah, kami sering diskusi dengan bapak Kapoles tentang Jember, tentang Keagamaan dan tentang Islam dan kebangsaan. Tempatnya berpindah-pindah: di rumah, di pesantren, di Kampus IAIN, kadang di tempat khusus sambil ngopi, dan diskusi tidak pernah berhenti sebelum menghasilkan putusan sekaligus dengan langkah-langkah operasional dan dengan siapa saja sinergi harus dilakukan.

Diskusi sangat sering dilakukan dengan berbagai pihak, selain sebagai upaya deteksi dini, sekaligus agar setiap persoalan terurai dan ada solusi. karena Jember adalah kabupaten yang penduduknya sangat besar, sangat dinamis dan penuh dinamika, terlebih karena Jember adalah kabupaten yang memiliki 20 lebih perguruan tinggi negeri dan swasta, sehngga masyarakat Jember sangat plural, dan pemahaman keagaaan masyarakat Jember sangat terbuka, terlebih karena paham dan ajaran keagamaan dalam konteks kebangsaan sering menjadi fokus bahasan.

Pak Kapolres sangat profesional menyikapi dan memilih solusi kasus-kasus perselisian termasuk perselisihan paham keagamaan. Pasca terselesaikannya dengan baik dan cepat kasus puger, berlanjut kasus Tambang Silo, Gunung Manggar, dan Kasus tambak Ambulu. Yang sangat melekat dalam ingatan saya tentu saat menyikapi perselisian paham keagamaan, karena sangat bersentuhan dengan tugas dan tanggung jawab kami selaku Ketua MUI adalah kasus peredaran buku-buku SUSI (Sunny-Syi’ah) seperti buku berbahasa arab Shifrus Sunny, buku 57 Khutbah Jumat, STDI Imam Syafii, dan sebagainya.

Deteksi dini yang beliau rencanakan, solusi yang beliau tawarkan, dan langkah kongkrit yang beliau lakukan selalu didukung oleh banyak pihak, karena setiap persoalan selalu didiskusikan bersama, bersinergi dengan kelompok-kelompok strategis, dan Beliau turun langsung mendatangi pihak-pihak yang berselisih paham dan membawanya langsng ke forum diskusi. Hati ini rasanya damai, karena dengan niat tulus Beliau datangi sendiri pihak-pihak yang berseteru dan mempertemukan kedua pihak yang berseteru dalam suatu majelis. Ini tentu menjadi ikhtiar yang luar biasa. Meskipun kita pahami bahwa paham dan ideologi itu tidak mengenal mati, tetapi mempertemukan tokoh-tokoh yang tengah berseteru dan berselisih paham itu tidak boleh mengenal putus asa, karena hidup kita bukan hanya dalam konteks pemahaman dan ideolgi, tapi hidup kita dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dimana paham dan ideologi beragama tidak monolitik, tapi pluralistik. jember beruntung, kapolresnya pak koesworo. orangnya pro-aktif penuh inspirasi. tidak ada potensi perselisihan yang diabaikan. Semua diselesaikan dengan cara senyum dan silaturrahim, untuk membangun ukhuwwah, yakni: ukhuwah islamiyah (persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan aqidah), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan sebagi warga bangssa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan sesama manusia).

Konsep tri ukhuwah ini pertama kali dicetuskan oleh KH Achmad Siddiq (alm.), mantan Rois ‘Am PBNU yang berasal dari Talangssari Jember. tetapi yang banyak menerapkan konsep ini untuk membangun kerukunan di jember adalah Kapolres AKBP Kusworo Wibowo SIK SH MH. Beliau bisa membangun ukhuwah basyariyah melalui pendekatan pribadi dengan yang berbeda paham dan berbeda agama. Beliau bisa membangun ukhuwah wathaniyah dengan pendekatan pribadi dan institusi, shingga meskipun paham keagamaan dan etnisnya berbeda bisa beliau ajak bersama dalam menjaga ukhuwah membangun bangsa. Berbagai forum yang melibatkan tokoh-tokoh lintas agama beliar gelar. Berbagai foro besar yang melibatkan semua tokoh agama dan tokoh masyarakat mulai kabuaten sampai desa beliau gelar. Ini adalah bagian kecil tapi berdampak besar dalam proses membangun wawasan keagamaan dalam konteks kebangsaan.

Inilah profile pemimpin yang sangat dibutuhkan ke depan, karena zaman terus berubah, dinamika terus berlangsung, maka sangat dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu menggalang ukhuwah serta memahami perubahan dan dinamika yang terjadi. Dan betul, bahwa ndan Kusworo berhasil dan mampu merubah potensi konflik, menjadi energy positif di jember, sesuai mottonya: “Khairun nas anfa’uhum lin nas”, sehingga: Jember dinamis, tapi dinamika yang penuh damai.
Tidak berlebihan jika belau peroleh penghargaan yang membanggakan, seperti: Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayan (WBBM) dari Menpan RB, dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayan (WBBM) dari Kapolri Jenderal Rl Drs Tito Karnavian PhD. Bukan hanya itu, Beliau juga sering dinobatkan sebagai sosok yang paling populer.
Naskah ini sengaja saya tulis sambil menikmati perjalanan muhibbah panjang, dari Surabaya ke Tegal, ke Batang, ke Pekalongan, ke Pamekasan, ke Madiun dan berakhir di Surabaya. Naskah ini ditulis, hanya karena ingin memanfaatkan momentum ulang tahun Beliau dan sekedar ingin mengucapkan: “Selamat Ulang Tahun Komandan, Semoga Allah Swt meninggikan derajat Komandan, memperkuat peran Komandan, dan sekaligus memperluas kiprah Komandan”, amin…

*Ketua Umum MUI Jember, Ketua MUI Jawa Timur membidangi Kajian dan Penelitian, Guru Besar IAIN Jember, dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :