Moderasi Islam Untuk Kebersamaan Umat

Dr. H. Hefni Zain, S.Ag, MM.

Masyarakat yang rukun, berkeadilan dan harmonis, serta terbebas dari hidup saling curiga adalah dambaan semua pemeluk agama, karenanya, secara substansial tidak satupun penganut agama yang betah dengan pola hidup saling bertikai, saling terancam dan saling curiga, sebab hal tersebut selain bertentangan dengan fitrah semua manusia, juga masih banyak persoalan yang jauh lebih mendasar untuk ditangani bersama, yakni masalah kemanusiaan universal seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Maka sudah saatnya para penganut agama mencurahkan energi dan potensinya untuk merumuskan hal-hal yang merupakan keprihatinan kemanusiaan bersama sebagai sesama mahluk Tuhan.

Watak dasar manusia (human nature) pada hakikinya menginginkan harmoni. Konflik bukanlah watak dasar manusia. Konflik adalah polarisasi berbagai kepentingan atau keyakinan dari suatu kelompok yang tidak terwadahi aspirasinya. Masih mudahnya terjadi konflik berlatar agama di beberapa tempat, menunjukkan bahwa rasa saling percaya antar dan inter umat beragama masih rendah. Maka syarat utama mengakhiri konflik adalah kepercayaan yang didasari rasa saling mengerti. Dan kepercayaan ini akan tumbuh seiring dengan pemahaman yang makin baik terhadap ajaran agamanya dan agama-agama lain.

Diantara karakteristik Islam yang secara eksplisit Allah sebut dalam Al Qur’an adalah karakter wasathiyyah (moderat). Konsep ini merujuk pada makna ummatan wasathan dalam Qs.2 :143. Kata wasath dalam ayat tersebut berarti khiyâr (terbaik, paling sempurna) dan ‘âdil (adil). Dengan demikian, makna ungkapan ummatan wasathan berarti umat terbaik dan adil. Dengan karakter inilah ajaran Islam beserta perangkat-perangkatnya selalu fleksibel (murunah) serta tak usang dimakan zaman. Sebagaimana ditegaskan Yusuf Al Qardhawy, bahwa salah satu karakteristik Islam yang menjadi faktor keuniversalan, fleksibilitas dan kesesuaian ajarannya di setiap zaman dan tempat adalah konsep wasathiyyah-nya,

Kesadaran wasathiyah menjadi vital, karena selain dapat menghantarkan pemeluk agama pada kedewasaan yang dengan legowo menerima perbedaan sebagai sunnatullah, juga dapat membangun pandangan dunia yang egaliter guna membentuk horizon kehidupan yang dilandaskan atas prinsip saling menghargai sehingga menjadi salah satu pilar penyangga bagi kerukunan umat yang beraneka ragam, menjadi fondasi dan perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik. Keberagamaan moderat merupakan sebuah cara beragama yang seimbang, terbuka, toleran dan menghormati kebebasan setiap orang untuk meyakini, menjalani dan mengekspresikan agama yang dianutnya. Dalam pandangan Islam moderat, penegakkan kebenaran harus dilakukan dengan jalan kebenaran pula, bukan dengan jalan kekerasan. Penghormatan terhadap agama lain adalah perwujudan dari sikap moderat. Sikap moderat seperti ini tidak berarti bahwa kita tidak konsisten dalam beragama, sebab inklusifitas sebagai karakter islam moderat bukan membenarkan semua agama tetapi menyakini bahwa semua agama memiliki kebenaran.

Dalam Islam, wasthiyah adalah salah satu pengejawantahan rahmatan lil alamin. Dan telah dicontohkan secara gemilang oleh Nabi Saw dan sahabatnya di Madinah. Itulah wajah Islam yang orisinil yakni Islam yang moderat, toleran, ramah dan akomodatif. Model beragama seperti ini, selain secara internal dapat melahirkan konfigurasi keberagamaan yang bijak, menentramkan dan hanif sesuai fitrah manusia, juga secara eksternal dapat mengkonstruk cara beragama yang lapang serta mengutamakan titik temu dan kebersamaan umat.

Islam moderat (tawasut/wasathiyah) sedikitnya memiliki sembilan pilar utama, yang dikenal dengan sebutan T9, yakni : Ta’aruf, Tafahum, Tarahum, Ta’awun, Tatsamuh, Tawadlu’, Tabayyun, Taghyir dan Taqorrub. Dengan 9 pilar ini sesungguhnya dapat dimaknai bahwa keberagamaan moderat secara sistematis telah mengembangkan dengan sungguh-sungguh sebuah cara beragama yang “al-hanifiyyah al-samhah” yaitu cara beragama yang lapang dan terbuka dan toleran terhadap yang lain.

Agama-agama tidak bisa terus-terusan tampil secara pasif-eksklusif untuk mengurusi urusan-urusan partikular umat saja. Agama-agama harus bertransformasi kearah pendekatan aktif-inklusif bersama agama-agama lain berpartisipasi membangun harmoni peradaban yang notabene merupakan kepentingan manusia universal. Inilah jalan agama moderat. Unsur utama dalam agama moderat adalah nilai-nilai agama universal yang ditarik dari masing-masing ajaran agama menjadi seperangkat doktrin yang lengkap yang disumbangkan untuk kemanusiaan. Artinya dari referensi subjektif masing-masing agama, kemudian ditarik nilai-nilai obyektifnya sebagai seperangkat norma universal yang di share bersama menjadi titik temu universal agama-agama, dimana norma-norma etis yang bersifat general yang berasal dari ajaran masing-masing agama dirumuskan bersama sebagai common denominator. Hal ini sejalan dengan konsep kalimat al-Sawa (titik temu bersama), yakni prinsip tentang perlunya agama-agama bertemu pada suatu kesepakatan nilai bersama untuk berkhidmat pada Tuhan demi kemaslahatan umat manusia

Moderasi agama mendesak dikembangkan di Indonesia, sebab model ini dapat menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh paham dan ragam keagamaan. ”Moderasi agama bisa melakukan transformasi dari saling menghakimi menjadi saling memahami, dan pada tingkat paling tinggi, para pemeluk agama dapat menikmati kehadiran orang lain sebagai niscaya.

Umat Islam harus terus menyuarakan pentingnya kehidupan yang memihak pada ideology co-existence yakni hidup berdampingan secara damai dengan saling bekerjasama (co-operation), saling merengkuh (inclusive), mengutamakan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh umat manusia secara universal, supel dalam pergaulan sosial-keagamaan, merasa saling bergantung secara timbal balik dengan pihak dan kelompok lain (reciprocity), selalu mencari modus-modus baru untuk keluar dari akar-akar konflik yang laten secara kreatif, memilih upaya yang bersifat transformatif, mengedepankan skenario sama-sama menang (win-win solution) dalam pemecahan masalah, dan dengan cermat dan cerdas melihat fenomena kemanusiaan secara semitris-sederajat.

Gerakan Islam untuk menyebarluaskan perdamaian dan semangat keagamaan yang anti kekerasan perlu terus menerus ditiup dan hembuskan oleh para aktivis keagamaan. Salah satu basis roh nilai-nilai fundamental yang memihak kepada perdamaian dan anti kekerasan harus mengilhami gerakan pengembangan pemikiran Islam orisinil di era globalisasi tanpa kehilangan basis identitas sosiologis keislaman umat.

Tentu saja kebersamaan yang diharapkan melalui kesadaran moderasi inklusif bukanlah peleburan, kebersamaan hakiki hanya mungkin berlangsung jika difahami dalam keberagaman, yakni ketika masing-masing pihak mengakui perbedaan seraya menyadari pentingnya bekerja sama untuk mewujudkan kepentingan bersama. Bukanlah pelangi menjadi indah karena beragam warna, dan ekosistem alam menjadi kuat karena dipelihara oleh keragaman “spesies”-nya. Makin beragam spesies di dalamnya, makin stabil ekosistem itu. Hutan tropis akan segera punah jika semua lumut dan ganggang dipaksa menjadi pohon jati yang seragam.

* Dr. H. Hefni Zain, S.Ag, MM. Adalah Dosen Pascasarjana IAIN Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :