Sungai Bedadung Bukan Tempat Sampah

NYANTOL: Sampah yang sebagian besar adalah limbah rumah tangga terlihat menyangkut di besi penyangga jembatan di Kecamatan Balung. Kebanyakan sampah-sampah ini dibuang oleh warga dari atas jembatan sembari mengendarai kendaraan bermotor.

RADAR JEMBER.ID – Masih ada saja perilaku masyarakat yang membuang sampah di sungai. Tak terkecuali Sungai Bedadung, yang menjadi ikon Jember. Bahkan, di sunggai terpanjang itu, ada juga warga yang seenaknya membuang limbah rumah tangga ke sungai sembari tetap melaju di atas motor.

Pemandangan seperti ini terlihat di Jalan Ambulu, Kecamatan Balung. Persisnya di area jembatan yang berada di kawasan setempat.

Pantauan Radarjember.id, akibat perilaku membuang sampah sembarangan ini, banyak limbah rumah tangga, terutama plastik dan popok bayi, yang tersangkut di bawah jembatan. Jika dilihat dari bawah, sampah-sampah itu tampak berjajar di besi penyangga jembatan. Baik di sisi kiri, maupun kanan. Sebagian sampah yang tersangkut itu terlihat mulai mengering.

Setelah diamati lebih jauh, rupanya tak hanya di besi penyangga jembatan saja. Sekira 50 meter arah utara dari jembatan, juga terlihat gunungan sampah. Sampah yang berasal dari limbah rumah tangga itu dibuang hingga memenuhi tebing sungai dan tertumpuk begitu saja. Jika air sungai sedang tinggi, maka limbah tersebut terbawa arus hingga ke hilir.

Munakib, warga Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, mengaku kesal melihat kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah di sungai ini. Itu karena kondisi Sungai Bedadung saat ini sudah sangat tercemar. Banyak sampah yang memenuhi kanal. Sebagian ada yang mengendap bersama lumpur, tersangkut di tebing sungai serta akar bambu yang tumbuh di sepanjang sempadan kanal.

Akibatnya, kata pria yang gemar memancing ini, warga yang berada di sekitar aliran sungai merasa tak nyaman. Pasalnya, masih banyak warga yang memanfaatkan waktu luang mereka dengan mengail ikan di sungai. Namun, sampah-sampah itu menjadi penghalang. Karena mata kail yang dipasang kerap tersangkut sampah.

“Sangat menjengkelkan. Jika boleh usul, pembuang sampah di sungai didenda saja. Biar kapok,” katanya.

Harianto, salah seorang warga yang lain menuturkan, biasanya masyarakat yang membuang sampah di sungai dari atas jembatan bukanlah warga yang tinggal di dekat sungai. Indikasinya, mayoritas dari mereka mengendarai motor. Biasanya, saat pagi atau sore hari. Sampah-sampah itu dibungkus plastik, sehingga pengendara tinggal melemparkan saja dari atas jembatan. Tak semuanya masuk ke sungai, sebagian ada yang tersangkut di penyangga jembatan.

Sebenarnya, Harianto tak tinggal diam. Pernah suatu ketika dia menegur pembuang sampah tersebut. Si pembuang bukannya takut, dirinya justru mendapat perlawanan. Bahkan, dia juga ditantang, jika tak terima, diminta melaporkan ke aparat kepolisian.

“Saya malah ditanya, kamu siapa? Pemerintah saja tidak melarang, kok kamu melarang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Harianto berharap, pemerintah daerah mengeluarkan peraturan tegas agar bisa memberi efek jera terhadap masyarakat yang membuang sampah di sungai. Hukumannya bisa dengan denda, atau hukuman sosial lain.

Selain itu, di lokasi jembatan juga dipasang kamera pengintai. Sehingga perilaku buruk itu bisa terekam kamera. “Rekaman itu bisa jadi bukti. Bila perlu disebarkan ke media sosial. Biar malu. Soalnya kalau tidak begitu mereka tak akan kapok,” tandasnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Mahrus Sholih

Editor : Hadi Sumarsono