Alasan Pembatasan Kuota Pengurusan Akta Kelahiran

Proses Pengerjaan Lebih Ribet

28

RADAR JEMBER.ID – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Jember mengakui bahwa kuota pengajuan berkas akta kelahiran dari kecamatan memang dibatasi, maksimal 20 berkas per hari. Tapi, pembatasan itu telah menjadi kesepakatan bersama melalui rapat yang digelar di gedung Pemkab Jember, akhir November 2018 lalu.

Kepala Seksi Perkawinan, Perceraian, Perubahan Status Anak, dan Pewarganegaraan Dispendukcapil, Amirulloh menyatakan, pembatasan kuota ini karena kapasitas layanan di kantor dispendukcapil memang terbatas. Sehari, kata dia, hanya mampu mencetak maksimal 120 lembar akta kelahiran. Pernyataan ini menjawab keluhan pemerintah kecamatan soal pembatasan kuota akta kelahiran tersebut.

Selain itu, proses pembuatan akta ini juga cukup ribet. Berbeda dengan KK, KTP-el, maupun pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA), yang lebih singkat. Sebab, setiap dokumen pendukung seperti fotokopi surat nikah, KK, maupun salinan KTP orang tua harus dipindai menggunakan alat scanner. Proses pencetakannya juga satu per satu. Tidak bisa bersamaan seperti pencetakan KK. “Jumlah ini sudah meningkat, karena sebelumnya malah 15 dokumen per hari,” ungkapnya.

Alasan lainnya, Amir menjelaskan, proses pengerjaan akta kelahiran ini harus ekstra hati-hati. Sehingga proses yang dilalui cukup panjang. Menurut dia, proses pengerjaannya diawali dari konfirmasi validitas data antara operator kecamatan dan dispenduk. Selanjutnya, dilakukan penelitian identitas pemohon, mulai dari nama terang, NIK, tanggal lahir, serta nama orang tua.

Tak cukup sampai di situ. Setelah semua dinyatakan lengkap dan valid. Proses berikutnya adalah pencetakan akta kelahiran beserta kutipannya. Kemudian, harus melalui proses sinkronisasi nomor kendali, yakni nomor unik di dalam akta kelahiran ke dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).

Proses yang panjang ini untuk meniadakan kesalahan penulisan. Sebab, jika ada yang salah, pembetulannya harus melalui sidang di pengadilan. Amir mengutarakan, pihaknya tak ingin lantaran pengerjaan yang terburu-buru justru membuat masyarakat kerja dua kali. Dampaknya, proses pengerjaannya memang lama. Tiap akta memerlukan waktu hingga 15 menit,” ungkapnya.

Kendati begitu, Amir menuturkan, berdasarkan perhitungan dispendukcapil, trafik pengajuan akta kelahiran dari kecamatan terhitung masih normal. Tiap hari, rata-rata antara 15-20 dokumen. Jumlah ini berbeda jika di kecamatan tersebut menggelar layanan adminduk on the spot. Sehari bisa mencapai 150 dokumen. “Tapi yang jelas, kami terus memperbaiki layanan. Termasuk memanfaatkan jam lembur yang ada,” tukasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendukcapil Sartini menegaskan, pembatasan kuota pengajuan akta kelahiran tersebut disepakati dalam rapat yang digelar bersama Asisten Pemerintahan Hadi Mulyono, seluruh kepala seksi pelayanan umum masing-masing kecamatan, serta camat se-Kabupaten Jember. Oleh karena itu, kata dia, selayaknya pemerintah di kecamatan sudah memahami kesepakatan tersebut.

Bahkan, tak hanya soal pembatasan saja, rapat itu juga membahas soal optimalisasi layanan adminduk di kecamatan. Ini bertujuan untuk mendekatkan layanan ke masyarakat, agar mereka memiliki pilihan, apakah akan mengurus langsung ke dispendukcapil, atau cukup di kantor kecamatan. Harapannya, antrean warga di kantor dispendukcapil bisa terurai.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya juga membagi jadwal pengiriman dari tiap-tiap kecamatan. Jadi, tidak setiap hari petugas kecamatan bisa mengantarkan berkas ke dispendukcapil, melainkan hanya seminggu sekali. “Langkah ini untuk mengatur agar layanan semakin tertib, dan semuanya bisa terlayani dengan baik,” tandasnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : MS Rasyid