Jika Tak Habis, Berdoa Semoga Ada Rezeki Esok Hari

Farel Ramadhan, Pagi Sekolah, Sore Ngaji, Malam Jualan Sate Usus

Impitan ekonomi bukan jadi alasan untuk tidak menempuh pendidikan. Mereka yang ekonominya pas-pasan tetap semangat sekolah. Seperti Farel Ramadhan, pelajar SD Asyafa’ah. Dia rela berjualan sate usus untuk menambah biaya sekolah dan membantu ekonomi keluarga.

34

RADAR JEMBER.ID – “Semoga diberikan rezeki yang barokah Ya Allah, amin.” Wajah bocah itu tampak semringah. Bibirnya bergerak-gerak. Komat-kamit merapal doa. Terlihat bahagia sekali raut mukanya. Maklum, ada orang yang membeli sate usus dagangannya dalam jumlah banyak.

Mengenakan kaus oblong, celana pendek, dan sandal jepit, bocah itu segera bergegas berdiri. Dia tampak semakin semangat kembali menjajakan sate ususnya. “Mas, Mbak, sate ususnya,” katanya kepada pengunjung Alun-Alun Jember.

Dialah Farel Ramadhan Pramudia. Dia sehari-hari jualan sate usus di alun-alun. Dia masih SD. “Sekolahnya di dekat Pasar Kepatihan SD Asyafa’ah,” katanya kepada Radarjember.id, malam itu.

Di tengah-tengah menjajakan sate ususnya, sesekali dia melihat keasyikan anak seusianya berlari, bermain, hingga membeli mainan. Entah apa yang dipikirkan. Bisa jadi, dia juga berharap bisa bermain ceria seperti anak-anak yang dilihatnya itu.

Namun, rupanya Farel punya cara menghibur diri. Dia anggap berjualan sate usus yang dilakoninya sama dengan bermain. “Lari-lari di alun-alun, main sepak bola, juga sama-sama capeknya dengan jualan ini (sate usus, Red),” katanya.

Luar biasa Farel. Anak sekecil itu sudah mampu memotivasi diri. Berjualan untuk menambah ekonomi keluarga dianggapnya sama dengan bermain, seperti anak-anak pada umumnya.

Dia mengaku, selama ini banyak pembeli yang mengira dirinya tidak sekolah. Bahkan, ada pula orang yang menawarkan sekolah untuknya.

Farel adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dua saudaranya masih kecil-kecil. Satu masih TK, dan adik terakhirnya berusia 2 tahun. Dia mau tidak mau harus membantu ekonomi keluarga. Sebab, dia juga ingin dua adiknya kelak bisa sekolah seperti dirinya.

Dalam membantu ekonomi keluarga, bocah 12 tahun ini tugasnya hanya berjualan. Ayahnya bertugas membeli bahan baku dan memasak. Sedangkan ibu mengurus rumah tangga, merawat dua adiknya, dan sesekali jualan susu kedelai. “Kalau sore yang jualan ibu, kalau malam yang jualan usus saya. Ibu sama ayah kalau malam gantian jualan susu kedelai,” imbuhnya.

Farel punya cara tersendiri membagi waktu. Pagi dia sekolah hingga sekitar pukul 14.00. Setelah pulang sekolah, dia bersiap berangkat mengaji. Lepas Magrib atau pulang mengaji, dia langsung bersiap berjualan sate usus. “Kalau ada tugas sekolah, ya dikerjakan setelah pulang sekolah, sekalian belajar,” tambahnya.

Kurang lebih sudah dua tahun dia berjualan sate usus. Selama itu, beberapa kali dia berjumpa dengan teman satu sekolah saat sedang jualan. “Cuma awalnya saja malu, sekarang ya tidak. Malah enak ketemu teman, karena ada yang menyapa,” imbuhnya. Tidak jarang pula dia berjumpa dengan gurunya.

Jam menunjukkan sekitar pukul 21.00, dia mulai menghitung sisa sate ususnya. Jika ludes, dia pulang dengan ceria. Sementara jika masih banyak, Farel hanya bisa berdoa. “Semoga diberi rezeki esok harinya,” katanya polos.

Ah, Farel… Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal.  (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : MS Rasyid