Dikabarkan Nikah Siri dan Pernah Disanksi

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – KiprahWidi Tri W sebagai dokter gigi di Lumajang ternyata banyak menyimpan catatan. Bukan hanya soal pergaulannya dengan perempuan-perempuan sosialita yang dikabarkan sebagai istri sirinya, tetapi juga pada profesinya selama praktik. Selain tarifnya mahal, juga disebut pernah disanksi oleh dinas.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Radarjember.id, dokter Widi ini pernah menjadi kepala di sejumlah puskesmas di Lumajang. Sempat berpindah-pindah, dan posisi terakhir adalah sebagai dokter gigi di RS Pasirian.

Selama menjadi kepala puskemas itu, keluhan-keluhan juga tidak sedikit yang mengarah pada Widi. Bahkan, ia juga pernah menerima sanksi dari kedinasan. Itu buntut dari pekerjaannya yang tidak profesional. “Ya pernah disanksi, tapi gak tahu kok gak ada tindak lanjutnya. Pernah juga di-nonjob-kan, ditempatkan di dinkes,” kata seorang dokter yang enggan disebutkan namanya.

Urusan tarif dokter Widi membuka praktik juga dikeluhkan. Memang harga pemasangan ataupun pemeriksaan gigi itu berbeda-beda kelasnya. “Tapi kalau ke dokter Widi, tidak segan-segan ditarik jutaan,” tambah salah seorang pejabat Pemkab Lumajang.

Termasuk pergaulannya yang sampai dikabarkan nikah siri dengan seorang perempuan muda asal Lumajang. “Iya, soal nikah siri itu belum (diperiksa, Red). Tapi pemeriksaan bisa berlanjut ke sana nantinya jika dibutuhkan,” ungkap Isnugroho, inspektur dari Inspektorat.

Dia mengakui, memang ada kabar dokter Widi punya istri lain selain istri sahnya. Yakni istri siri. “Tapi belum, tentang nikah siri belum. Ini kan kita masih dalam proses pem-BAP-an. Yang bersangkutan dipanggil dimintai keterangan, dituangkan dalam berita acara,” terangnya.

Sementara terkait ada berapa pertanyaannya dan mengarah ke mana nantinya, Isnugorho belum membeberkan. “Masih belum saya tanyakan pada pemeriksa. Arahnya ke mana juga masih belum ada laporan ke kami. Yang jelas dokter yang bersangkutan sudah dipanggil. Nanti ditindaklanjuti bagaimana keterangan pemeriksa,” jelasnya.

Ditanya apakah akan diperiksa lagi? Dia membenarkan. “Jelas ada pemeriksaan dan pemanggilan lagi. Jika keterangan kurang dan belum bisa memenuhi tujuan pemeriksaan, maka dipanggil lagi,” tambahnya.

Untuk saat ini, inspektorat masih belum bicara banyak soal sanksi. Sebab, masih menjadi pemeriksaan awal. Namun, urusan etika memang sudah membuat Bupati dan Wabup Lumajang gerah. Sampai bilang terang-terangan hal semacam itu tidak etis.

Isnugroho menegaskan, memang perintah secara langsung padanya selaku inspektur belum diterima. “Tapi kami melihat di FB (Facebook, Red) melalui pemeriksa kami kemudian pemeriksa melakukan pemanggilan pemeriksaan,” tambahnya.

Dia menegaskan, etis tidaknya dibuktikan nanti. Sebab, foto tidak menunjukkan atribut atau simbol ASN. Apakah ASN, dokter, atau profesi lain tidak ada. Yang dia tahu, foto itu ada di kolam renang bersama dua orang perempuan.

Bagaimana perkara ini diproses, menurut dia berawal dari temuan dan informasi yang masuk ke inspektorat. “Temuan itu gini, bisa pemeriksa itu dapat informasi dari si A, dicari di akun FB ada, lalu berinisiatif memeriksa bisa. Tapi dasarnya dipanggil itu memang berdasarkan temuan dari FB dokter yang bersangkutan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Narto