One Pesantren One Product

Oleh: Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar, MA.*

Produksi abon lele kerjasama Pesantren Nurul Jadid Sukowono dengan FMIPA Unej.

One Pesantren One Product, Satu Pesantren Satu Produk (OPOP), adalah konsep pemberdayaan pesantren yang digagas Ibu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024.  Konsep tersebut pertama kali dicetuskan ketika menghadiri Pelantikan Pengurus Cabang ISNU Tulungagung Sabtu, 29 Desember 2018, “Kami ingin One Pesantren One Product bisa menjadi program 100 hari di Jawa Timur ke depan”. Menurut Khofifah, di era perkembangan teknologi 4.0 yang pesat, ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang masih berkutat pada teknologi 2.0 dan 3.0. Kalangan pesantren tidak boleh tertinggal, namun justru harus ikut begerak maju mengikuti perkembangan zaman.

Konsep ini sangat strategis dikembangkan karena masyarakat Jawa Timur mayoritas santri. Untuk mensejahterakan masyarakat Jawa Timur, penting mempersiapkan kesejahteraan santrinya terlebih dahulu. Jadi, ini proram untuk kaum santri agar mereka menjadi mandiri dan kreatif. Melalui program ini akan didorong untuk menghasikan produk-produk andalan di berbagai bidang. OPOP nantinya akan memetakan potensi produk masing-masing pesantren mulai bahan baku, processing, packing sampai pemasarannya.

Ketika kami diskusikan dengan beberapa pengasuh pesantren di Jember, Bondowoso dan Banyuwangi, ada pro-kontra. Bahkan ada yang ekstrem bilang “kok mimpi”. Yang mendukung berharap program ini segera diwujudkan, karena akan dirasakan bermanaat mendidik kemandirian santri yang akhir-akhir ini mulai tergerus. Sedang yang kontra karena khawatir orientasi belajar santri terpecah, karena tujuan mereka mondok adalah ” tafaqquh fiddĩn” atau pendalaman ilmu-ilmu keagamaan, khususnya keislaman.

Menyikapi hal tersebut, kami mengajak berpikir historis dan prospektif, karena, dalam sejarahnya, pesantren memang muncul sebagai lembaga tafaqquh fiddĩn atau pendalaman ilmu-ilmu keislaman dan tetap eksis sampai sekarang. Namun, seiring dengan laju perubahan zaman, perubahan kebijakan dan perubahan ekspektasi masyarakat, pesantren tidak mungkin menghindar dari tantangan dan perubahan, sehingga akan memotivasi para pemikir, pengambil kebijakan, dan pengasuh pesantren untuk merumuskan ulang konsep dan orientasi pendidikannya. Karena, terpaku pada sistem lama, pelan tapi pasti pesantren akan kehilangan peminat; karena munculnya model-model pendidikan baru yang menjadi pesaing sumber input pesantren; terlebih setelah peraturan perundang-undangan tentang pendidikan dan pesantren diundangkan.

Peneliti pesantrren seperti Geerzt, Dhofier dan Horikoshi mengakui dan menyebut para kyai telah memainkan peran sebagai pialang budaya (cultural broker), sebagai agen perubahan (agent of change) yang aktif selektif (mediator), sehingga pesantren bukanlah institusi yang stagnant (mandek) tetapi institusi yang melakukan perubahan dengan gayanya sendiri, sehingga varian kelembagaan pendidikan yang ditawarkan pesantren lebih variatif untuk merespons expektasi masyarakat. Karena, diakui atau tidak, terjadinya penggeseran dari sejumlah pesantren salafiyah (tradisional) ke pesantren ashriyah (modern) diakui akan mengakibatkan terjadinya perubahan internal pesantren, sehingga memunculkan problem-problem baru, karena dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas pendidikan pesantren. Kuantitas artinya seberapa banyak pesantren yang bertahan pada watak aslinya sebagai institusi “tafaqquh fiddîn” dan seberapa tinggi kualitas pengetahuan ilmu-ilmu keagamaan yang bersumber pada kitab-kitab kuning yang dimiliki santri. Inilah sebenarnya peran pesantren yang utama, eksistensinya dinilai dari komitmennya mengembangkan  “tafaqquh fiddîn” dalam konteks yang berubah.

Menurut kami biarlah pesantren tumbuh dan berkembang dengan keragamannya, karena ekspektasi masyarakat teradap pesantren memang sangat beragam. Yang pesantren salafiyah tetaplah mengembangkan kesalafiyahannya, jika sudah kuat kembangkan lagi program rintissan “Pendidikan Diniyah Formal” dan “Ma’had Aly” yang keduanya sama-sama berbasis kitab kuning dan mempersyaratkan perintisannya di pesantren salafiyah, seperti di Pesantren Sukorejo, Pesantren Nurul Qadim, Pesantren Lirboyo, dan pesantren lainnya. Yang pesantren ashriyah seperti Gontor, tetaplah mengembangkan tradisi keashriyahannya dengan mengembangkan beragam kelembagaan pendidikannya. Dan, yang memilih pesantren terpadu, biarlah merintis beragam kelembagaan formal dan nonformal sesuai ekspektasi masyarakat. Yang penting, jenis pesantren apapun yang ingin dikembangkan, pesantren jangan sampai kehilangan peran utamanya sebagai lembaga  tafaqquh fiddĩn, karena eksistensinya terus dinilai dari komitmennya mengembangkan  “tafaqquh fiddîn” dalam konteks yang berubah.

Karena itu, dinamika dan varian pesantren sangat beragam. Sekarang, banyak pesantren yang sudah merintis product-product unggulannya, seperti: di Jember, ada pesantren yang dikenal membekali ketrampilan santri mengemas ikan sarden dan berbagai kemasan ikan laut yang di eksport ke berbagai negara seperti Jepang, Thailand, dan sebagainya. Di Jember pula beberapa pesantren berhasil mengembangkan ketrampilan tanaman hidroponik, seperti di Pesantren Shofa Marwa dan Pesantren Raudlatul Muta’allimin dimana para santri didampingi paguyuban mahasiswa hidroponik dan para ahli dilatih bertani mulai pembenihan, menanam, merawat, dan memasarkan sayur hidroponik ke berbagai pusat perbelanjaan dan warung berkelas, sehingga meskipun lahan terbatas bisa bermanfaat dan menghasilkan. di Bondowoso sedang dirintis pesantren yang menjadi pusat unggulan daerah seperti tape, kopi, dan sebagainya. Di Banyuwangi, ada pesantren yang mengembangkan produk batik. Di Jember dan Lumajang ada pula pesantren yang mengembangkan ketrampilan kaligrafi berbahan baku kaca dan kayu yang dibimbing para juara dan praktisi kaligrafi.

Pengembangan product unggulan yang dikembangkan pesantren tersebut terjadi karena inisiatif pribadi pengasuh atau pengelola pesantren yang kemudian bekerjasama dengan lembaga-lembaga tertentu, belum ada intervensi pemerintah melalui kebijakan untuk pengembangannya, baik kabupaten, propinsi atau pusat. Dengan demikian, maka gagasan OPOP tersebut penting segera diwujudkan sebagai bagian untuk mempercepat pemberdayaan santri dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Kami yang sudah sekian lama menekuni penelitian pesantren sedikit memahami bahwa gagasan Ibu Khofifah Indar Parawansa tentang OPOP adalah gagasan yang sangat strategis, sangat bermanfaat dan sangat menjanjikan masa depan santri. Bermanfaat bukan hanya agar santri terlatih mandiri dan kreatif menghadapi kehidupan mendatang, tetapi sekaligus untuk melatih santri agar bisa berdakwah melalui produk yang dihasilkan pesantrennya, atau mampu memasarkan produk unggulannya dengan bahasa agama.

Dan, yang menarik, jika program OPOP bisa terkelola secara baik dan berhasil, nanti akan lahir sosok santri yang mahir baca kitab sekaligus fasih bicara agama dan per-batikan/per-kaligrafian,  nanti akan lahir sosok santri yang mahir baca kitab sekaligus fasih bicara perikanan dan ikan di pasar-pasar modern, juga akan lahir sosok santri yang mahir baca kitab sekaligus fasih bicara pertanian modern melalui hidroponik. Semua akan terjadi karena sudah mereka alami selama belajar di pesantren, mereka tetap “tafaqquh fiddîn” sekaligus belajar OPOP. Menghadapi yang skeptis kami hanya merespons datar, bahwa kami tidak sedang bermimpi, kami sedang berpikir dan berbicara tentang misi utama pesantren dalam konteks yang terus berubah. Dan, alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena OPOP segera terwujud di Jawa Timur.  Wallãhu a’lam Bish Shawãb.

 *Pengasuh Pesantren Shofa Marwa, Ketua MUI, dan Guru Besar Pendidikan Islam IAIN Jember.

 

Reporter :

Fotografer : Istimewa

Editor :