Pasangan SABAR Mulai Kurangi Angka Kemiskinan 

Titik Nol Kemiskinan 14,39 Persen

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Bupati KH Salwa Arifin dan Wakilnya Irwan Bachtiar (SABAR) melakukan kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso, kemarin (14/1). Acara itu digelar di aula SMKN PP Tegal Ampel. Pesertanya ribuan orang dari Kecamatan Binakal, Pakem, Tegalampel, dan Wringin.

Pj Sekda Bondowoso Agung Trihandono yang diberi ruang pidato menjelaskan satu hal yang harus menjadi patokan. Yakni start pemerintahan Bupati Salwa Arifin dan Irwan Bachtiar. Salah satu penekanannya adalah angka kemiskinan. Startnya angka kemiskinan berada pada 14,39 persen.

Pj Sekda Agung Trihandono memberi garis bawah pada titik start ini. Tujuannya agar seluruh elemen bergerak untuk melakukan penekanan angka kemiskinan. Sebab, memiliki dampak sistemik. Sampai dampak indeks pembangunan manusia. “Harus dimulai dari angka kemiskinan. Karena pemerintah ini dibentuk untuk mengurangi angka kemiskinan,” jelasnya.

Adanya angka kemiskinan menjadi tekanan karena titik nol untuk kepemimpinan bupati dan wakil bupati periode 2018-2023 itu. Titik nolnya untuk angka kemiskinan di angka 14,39 persen. Jika dihitung jiwa, ada 110.980 jiwa. “Ketika melihat angka kemiskinan tidak semudah itu, namun ada faktor kedalamannya,” jelasnya.

Karenanya, dalam hitungannya ada indeks kedalaman dan indeks keparahan. Terkadang pemerintah sudah menggelontorkan banyak program, ada banyak kegiatan pengentasan kemiskinan, namun tidak bisa mengangkat dengan baik. Maka, itu angka kedalamannya sangat luar biasa. “Namun, jika pemerintah memilah dan memilih program, maka rasanya tidak adil. Karenanya program itu untuk 14,39 persen dikasih semua,” jelasnya.

Memang terkadang ada orang yang bilang uang Bondowoso sudah banyak digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, angka penurunannya masih sangat sedikit. Jawabannya karena tingkat kedalamannya sangat lumayan.

Jika melihat data kemiskinan, garis kemiskinan terendah adalah Rp 363.443 per orang per bulan. Sehingga ketika ada satu keluarga ada empat orang anggota keluarga, maka hitungannya keluarga itu baru keluar dari kemiskinan jika pendapatannya adalah Rp 363.443 di kali 4. “Inilah problemnya. Di angka ini. Karenanya, untuk mengangkat kemiskinan ini, untuk menyelesaikan kemiskinan, selalu ujungnya adalah daya beli,” terangnya.

Daya beli itu artinya identik dengan pendapatan. Kalau ingin mengentaskan kemiskinan, maka buat sebanyak-banyaknya lapangan pekerjaan. Sedangkan lapangan pekerjaan itu ada dua. Ada yang sifatnya short cut (jangka pendek) dan ada yang sifatnya panjang. “Ada short cut yang kami minta kepada seluruh kepala desa. Tolong kegiatan fisik tolong sifatnya padat karya. Yang melibatkan warga sebagai tenaga kerja. Ketika warga sebagai tenaga kerja, harapannya warga dapat penghasilan. Dengan seperti itu, maka ada rupiah yang masuk ke kantong, yang semula tidak ada penghasilan, jadi ada. Karenanya kenapa DD harus padat karya,” jelasnya. Maka dari itu, ditekankan DD harus padat karya. Jangan sampai kontrak tua.

Bupati Salwa Arifin menjelaskan tentang visi-misinya. Yakni membawa Bondowoso Melesat. Ada lima penjabaran. Pertama, membangun kemandirian ekonomi dengan memperkuat sektor unggulan serta menggerakkan ekonomi masyarakat, melestarikan lingkungan sebagai unggulan kompetitif, meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, mewujudkan pemerintah yang jujur, adil, amanah, partisipatif, dan inovatif, serta mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan unggul.

Bupati berharap masyarakat Bondowoso memiliki kemampuan untuk meningkatkan ekonomi. Dengan memperhatikan kesinambungan yang ada, dan pelayanan pemerintah yang baik. “Sehingga masyarakat Bondowoso bisa sejahtera dalam bingkai iman dan takwa,” tegasnya.

Dari APBD Bondowoso yang sekitar Rp 2 T, ternyata sebagian besar masih mengandalkan sumber dana dari pemerintah pusat. Mulai DAU dan DAK. Ada 58,41-70,8 persen. Kontribusi PAD hanya diambil dari pendapatan lain daerah. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Narto