Menyusur Jejak, Menapak Sejarah Jember

Makam Djemilah Birnie, Bukti Cinta Tuan Partikelir

Berbeda dengan gudang tembakau yang didirikan Birnie di Jelbuk, tak terlalu sulit untuk menemukan makam sang istri. Meski tak ada papan petunjuk, namun cukup dengan bertanya, warga sekitar sudah mafhum bahwa makam tua yang ada di perbatasan Jember-Bondowoso itu adalah tempat peristirahatan terakhir Djemilah Birnie, istri George Birnie. Crazy Rich Jember di masanya.

29
MASIH KOKOH: Wartawan Jawa Pos Radar Jember, Faizin Adi (kiri) dan Dwi Siswanto saat mengunjungi makam Djemilah Birnie. Meski tak terawat, bangunannya masih kokoh berdiri dengan corak arsitektur Yunani gaya Doria, khas Eropa.

RADAR JEMBER.ID – Lokasi makam Djemilah sudah masuk wilayah Bondowoso, tepatnya Desa Suger Kidul yang beririsan dengan Desa Suger Lor (Jember). Berada di areal persawahan, beberapa ratus meter dari kantor Mapolsek Maesan, Bondowoso. Saat melintasi jalan raya Jember-Bondowoso, di areal persawahan, tampak areal kecil dengan bangunan yang terlihat tak biasa. Hanya berjalan beberapa langkah dari tepi jalan raya, kita sudah tiba di areal pemakaman yang terdiri dari 1 makam besar dan 4 makam kecil. Di makam besar, terpahat dengan jelas nama Djemilah Birnie, disertai dengan inkripsi (ukiran tulisan) berupa keterangan tanggal kelahiran dan kematian dalam bahasa Belanda. Tertulis, lahir tanggal 30 Juni 1845, Djemilah menutup mata pada 14 April 1906. Adapun empat makam kecil lainnya, diperkirakan masih kerabatnya.

Meski terlihat tak terawat, namun bangunannya masih tetap utuh. Bentuk makamnya berbeda dengan gaya kuburan masyarakat Indonesia pada umumnya yang terdiri dari dua batu nisan. Makam Djemilah Birnie memakai corak arsitektur Yunani gaya Doria. Yakni sebuah bangunan persegi tidak jenjang yang menutupi seluruh kuburan. Persis seperti makam-makam yang ada di Museum Taman Prasasti, Jakarta, yang terdiri atas makam-makam Eropa abad XVIII – XIX. Gaya arsitektur seperti itu memang sedang populer pada masa tersebut di kalangan bangsa Eropa.

“Dulu makam ini memang ada juru kunci yang merawatnya. Namun sudah meninggal beberapa tahun silam,” tutur Suradi, warga sekitar makam yang kami temui saat sedang menyiangi lahan pertanian lombok.

Menurut Suradi, warga sekitar sudah mafhum bahwa makam ini bukan tempat persemayaman biasa. Djemilah Birnie merupakan istri dari George Birnie, borjuis berkewarganegaraan Belanda berdarah Skotlandia yang datang ke Jember untuk membuka bisnis tembakau dengan skala besar.

“Kalau kata kakek-nenek saya, Birnie itu orang Belanda yang sangat kaya. Istrinya, Djemilah Birnie katanya dipanggil Nyonya De Boor, yang merujuk pada bentuk tubuhnya yang besar,” lanjut Suradi. Memang berbeda dengan di masa kini, kesuburan bentuk tubuh bagi perempuan menjadi perlambang kemakmuran dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Meski sudah lebih dari seabad meninggal, hubungan di antara sesama keturunan Birnie diduga masih kuat. “Kita sering lihat orang-orang seperti Bule yang datang ke makam ini. Biasanya setiap empat bulan sekali, mungkin anak keturunannya. Mungkin juga mereka yang kasih uang ke juru kunci makam sebelum meninggal,” tutur Suradi.

Masih dari cerita kakek-nenek Suradi, sebelumnya keluarga ini juga memiliki kantor yang cukup besar, tak jauh dari makam Djemilah sekarang. Bangunan kantor itu lantas sudah runtuh dan selang beberapa tahun kemudian dibangun bangunan baru yang kini menjadi markas Polsek Maesan.

Memang sebagian cerita yang disampaikan Suradi merupakan cerita dari mulut ke mulut yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, secara garis besar, nama George Birnie memang tak bisa dipisahkan dari sejarah terbentuknya Jember di awal abad XIX. Sejak mendapatkan hak erfpacht atau hak guna usaha untuk jangka waktu 75 tahun di wilayah Besuki, Birnie bersama dua rekannya mendirikan NV. Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD) yang menjadi perusahaan tembakau pertama di Jember. Kedua rekan Birnie tersebut tinggal di Surabaya, sehingga Birnie yang lebih banyak berperan menjalankan usaha. Catatan sejarawan Unej menyebut, perusahaan tembakau ini berdiri pada 21 Oktober 1859 yang kemudian disusul oleh berdirinya berbagai perusahaan lain.

Berdirinya perkebunan-perkebunan partikelir tembakau itu akhirnya berpengaruh pada peta demografi Jember. Ribuan tenaga kerja didatangkan dari dua penjuru, yakni etnis Jawa dan Madura. Kedatangan kedua suku secara masif ke Jember tersebut akhirnya membentuk perpaduan kultur tersendiri. Sebagai perintis bisnis tembakau di Jember, wajar jika kemudian George Birnie disebut sebagai salah satu orang terkaya di masa tersebut. Semacam crazy rich di masa kini.

Birnie sendiri disebutkan menikahi salah satu perempuan Madura bernama Djemilah Birnie. “Bernie sangat menyangi istrinya, sehingga ketika wafat, dibuatlah makam yang cukup megah seperti itu,” tutur Zainollah Ahmad, penggiat sejarah yang juga Ketua Forum Komunikasi Bhattara Saptaprabhu, komunitas penggiat sejarah Jember.

Beberapa sumber tertulis menyebutkan, George Birnie akhirnya pulang kembali ke Belanda hingga meninggal dan dimakamkan di sana. Adapun pengelolaan perusahaan, diwariskan kepada salah satu keponakannya, D. Birnie. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : MS Rasyid