Meski Berbahaya, Perlintasan Kereta Api Tetap Jadi Lokasi Momong Anak

MOMONG ANAK. Ada saja cara warga Jember untuk menghibur anaknya. Salah satunya melihat kereta api yang sedang melintas, meskipun itu sangat membahayakan.

RADAR JEMBER.ID – Ada pemandangan menarik di perlintasan kereta api di Jl.Wijaya Kusuma Jember, pada saat tertentu, seperti sore dan malam hari. Puluhan warga berdatangan sambil momong anak dan berdiri di pinggiran rel. Tidak ada satu orangpun mengetahui awal mula kebiasaan momong anak itu dilakukan. Tatkala cuaca cerah jumlah mereka lebih banyak lagi.

Mukhtar, salah seorang warga Jl.Wijaya Kusuma mengatakan, momong anak itu dia lakukan saat sore hari pukul 16.30 WIB, ketika KA Probowangi dari Banyuwangi menuju Surabaya hendak berangkat meninggalkan Stasiun Jember.

“Momong anak sambil melihat kereta api saya lakukan setiap sore, tidak sekedar menyenangkan hati anak. Namun ada hal positifnya, yakni mengenalkan transportasi kereta api kepada anak sejak usia dini,” jelas Mukhtar.

Diakui oleh Mukhtar, momong anak di pinggir rel sembari melihat kereta api melintas itu, membuat anaknya kecanduan. Bila tidak dituruti kemauannya, anaknya pasti rewel dan tidak mau makan.

“Ya bagaimana lagi, mau tidak mau ya kita turuti. Selain itu, saat momong anak dipingir rel ini, anak bisa berinteraksi dengan anak seusianya,” ujar Mukhtar.

Meski di pinggir rel, PT.KAI DAOP IX Jember, telah memasang spanduk peringatan tidak momong anak di pinggir rel dan itu melanggar Undang-Undang Perkeretaapian, karena membahayakan, namun aktifitas momong anak itu tetap saja dilakukan oleh warga.

Hal itu dibenarkan oleh Feri Anggriawan, Petugas Jaga Lintasan PT. KAI DAOP IX Jember, warga yang momong anak ini jumlahnya meningkat dan berada di pinggiran rel saat KA Logawa, KA.Ranggajati dan KA Tawangalun hendak menurunkan penumpang di Stasiun Jember.
“Kalau ada yang momong anak terlalu dekat dengan rel, pasti saya ingatkan dan itu berkali-kali, semua ini menghindari hal yang tidak diinginkan,” ungkap Feri, alumni SMAN 5 Jember.(*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Winardi Nawa Putra