Bisnis Batako Desa Naik Daun

11
HOME INDUSTRY: Abdurrohim, pengusaha batako rumahan menata batako yang sudah diproses, di Desa Lengkong

RADAR JEMBER.ID – Tren pembangunan rumah menggunakan batako bukan rahasia lagi. Kesempatan itu yang diambil oleh Abdurrohim, seorang pemuda yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari.

Sejak satu setengah tahun lalu, dirinya terjun menggeluti dunia bisnis batako. Menurutnya, saat itu dirinya hanya bisa membuat batako dengan peralatan pres. “Awalnya nekat dengan modal seadanya. Saat itu saya memproduksi dengan niat membuat batako dengan kualitas baik,” katanya.

Tak disangka, meski dirinya merupakan pemula, tetapi batako buatannya langsung dilirik oleh warga yang akan membangun rumah. Bahkan, institusi negeri dan swasta banyak yang melirik hasil kerjanya.

Dia pun semakin semangat membuat dan memproduksi batako dengan kualitas yang baik. “Bahannya sama dari pasir dan semen,” ucapnya.

Setelah melakukan penjualan beberapa kali, Abdurrahim pun mulai mengembangkan usaha, dengan membeli mesin pencetak batako yang bisa dikerjakan oleh dua orang. Mesin tersebut menurutnya bisa memproduksi 1.500 batako dalam sehari. Jumlah 1.500 batako yang dihasilkan sehari, menurutnya tergolong besar untuk seorang pemula.

“Setelah saya rasakan hasilnya lumayan, saya kemudian membeli dua alat lagi. Jadi, satu alat di rumah yang sampai sekarang saya pakai. Kemudian saya menyewa lahan untuk pengoperasian dua mesin batako. Total yang mengerjakan ada 6 pemuda dengan tiga mesin yang ada. Masing-masing mesin, sehari bisa memproduksi 1.500 batako,” beber Abdurrohim.

Bisnis batakonya selama 1,5 tahun terus mengalami kemajuan dari banyaknya pembeli serta produksi batako miliknya dikenal banyak orang. Menurutnya, itu dilakukan dengan kerja keras hingga dirinya bisa memproduksi ribuan batako tiap harinya sepanjang material pasir masih tersedia.

Pada saat produksi, Rohim mengaku tidak ada kendala apa pun. Akan tetapi, bahan baku pasir yang menjadi bahan utama pembuatan batako sering kali telat. “Kalau pembuatan tidak ada yang susah. Akan tetapi pasirnya yang kadang-kadang tidak ada. Jadi, kami libur kerja karena memang pasirnya tidak ada,” ucap pria yang mengaku sudah melakukan penjualan ke sejumlah perumahan di Jember itu.

Usaha yang masih tergolong baru, menurut Rohim akan terus dikembangkan. Agar konsumen bisa puas. Rohim menyebut, dirinya mengutamakan kualitas daripada kuantitas. “Kalau pasirnya kasar, hasilnya akan jelek. Tetapi kalau halus, maka hasilnya bagus. Saya akan pertahankan kualitasnya yang baik,” bebernya.

Abdurrohim berharap, dia dan beberapa pemuda lain bisa terus berproduksi dan mendapat kepercayaan banyak orang. “Paling tidak, anak-anak muda bisa terus berkreasi. Bisa menciptakan pekerjaan. Harapan saya batako ini bisa terus berkembang,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Hadi Sumarsono