Kadang Tetangga Sekolah Bantu Mengajar

Kakak Kelas pun Jadi Tutor

MURID JADI GURU: Kekurangan guru membuat guru pun meminta bantuan muridnya yang kelas IV-VI mengajar membaca siswa di kelas I-III.

RADAR JEMBER.ID – Kekurangan guru di SDN Tegalwaru 4, Mayang sangat memprihantinkan. Terutama untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Untuk mengatasi hal tersebut, Tri Hastuti kadang meminta tetangga sekolah yang sudah sarjana untuk membantu mengajar di sekolah itu.

“Saya ikut membantu mengajar kelas II,” aku Jamilatus Solihah. Perempuan ini mengaku membantu Tri Hastuti karena memang tidak ada pilihan lain. Dirinya sangat prihatin karena sekolah tersebut kekurangan guru. Apalagi, dirinya melihat gurunya sering kebingungan harus mengatur siswa enam kelas.

Kebijakan itu ternyata dilakukan agar ada yang mengajar siswa. “Dia bukan guru resmi di sini, bukan honorer, hanya saya mintai tolong untuk mengajar,” ucap perempuan yang akrab disapa Bu Tri tersebut. Guru dari tetangga sekolah itu mengajar selama empat hari hanya dalam beberapa jam.

Meski hanya membantu, namun dirasakan sangat membantu meringankan beban Tri Hastuti. Walaupun memang belum cukup. Sebab, dia tidak bisa meminta guru honorer. Kekurangan guru itu sudah disampaikan secara lisan pada pengawas, jawabannya selalu diusahakan agar bisa mendapat solusi.

Oleh karena itu, kadang Tri Hastuti menerapkan kebijakan lain. Yakni pelajar kelas IV,V dan VI SD juga menjadi tutor sebaya bagi kelas I dan II. “Mereka mengajari adik kelasnya membaca,” ucapnya. Caranya, saat pelajaran dimulai di kelas I II dan III, mereka mendampingi satu hingga dua pelajar untuk belajar membaca.

Dari jumlah 38 siswa, rinciannya ada siswa kelas I sebanyak 5 murid, kelas II dan tiga sama-sama ada enam orang. Sedangkan delapan pelajar di kelas IV, kelas V, dan VI sama-sama ada 7 murid. Meski penuh keterbatasan, semua pelajar di sekolah tersebut memiliki semangat yang tinggi untuk belajar.

Semua pelajar SDN Tegalwaru 4 Mayang ini memiliki kemampuan yang berbeda. Bahkan, ada siswa difabel, yakni tunadaksa. Guru tak hanya harus bersabar untuk mengajar, tapi perlu keuletan agar siswa sesuai yang diharapkan.

Namun, keterbatasan tenaga pengajar membuat keinginan untuk mengoptimalkan kemampuan murid apalagi sesuai dengan harapan sulit tercapai. Tri hastuti berharap agar segera ada solusi terhadap sekolah yang dipimpinnya tersebut. Kalau tidak bisa menambah guru, bisa dimerger dengan sekolah terdekat. Missal ke SDN Tegalwaru 1.

Sebab, syarat bisa merger salah satunya adalah karena tidak ada siswa. Namun, yang terjadi di SDN Tegalwaru 4 sebaliknya, tidak ada guru. “Kalau sekolah ini tidak bisa dimerger, minimal gurunya dipenuhi. Walau hanya tambahan empat guru,” jelasnya. Dia kewalahan mengatasi sekolah seorang diri.

Masalah yang dihadapi oleh Tri Hastuti bukan hanya soal murid SDN Tegalwaru 4 saja. Namun, diakuinya jika minat warga dan anak-anak di daerah tersebut untuk sekolah sangat tinggi. Bahkan, banyak juga yang menyekolahkan meskipun belum waktunya. “Warga sini juga menitipkan anak yang masih usia TK untuk belajar di sini,” jelasnya.

Pasalnya, memang tak ada TK dan PAUD di daerah sekitar warga. Kalaupun ada, terlalu jauh, sehingga tidak terjangkau. Tak heran, Tri Hastuti juga ikut mengajar anak-anak TK yang ikut nebeng di sekolah tersebut. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Rangga Mahardhika