Daya Tarik Pesantren di Jawa Timur

Oleh : Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.*

sumber foto Nahdlatululama.id

Dalam berbagai kesempatan, kami sering ditanya: kenapa di jawa timur banyak pesantren, melebihi jumlah pesantrren di semua propinsi di Indonesia?. Merespon pertanyaan tersebut kami sering menjawab spontan: karena diantara wali sembilan yang paling banyak memang di Jawa Timur, dan semua wali di jawa timur mengembangkan dakwahnya dengan merintis lembaga pendIdikan yang namanya pesantren. Jadi pesantren di jawa timur memiliki dasar historis sebagai pelanjut pengembangan misi dakwah, misi pengkaderan, dan misi tafaqquh fid-diyn.

Dengan demikian, maka tumbuh kembang pesantren di Jawa Timur   tidak bisa terlepas dari peran para wali, khususnya Walisongo. Berbagai kajian menunjukkan, bahwa aktivitas dakwah yang digagas Walisongo dilakukan dengan cara merintis pesantren  di wilayah masing-masing. Sunan Ampel dengan Pesantren Ampelnya, Sunan Bonang dengan Pesantrennya di Bonang Tuban, Sunan Drajat dengan pesantrennya di Drajat Lamongan, Sunan Giri dengan Pesantren Giri di Gresik, dan sebagainya. Karenanya dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman tetapi juga mengandung makna keaslian (indegenous) Indonesia, karena sebelum Indonesia mengenal sekolah umum yang diintrodusir Belanda, bangsa ini telah mengenal pesantren yang dirintis oleh para wali dan sampai sekarang diteruskan oleh para kiai.

Dengan demikian, pesantren tidaklah statis, pesantren terus mengalami dinamika. Dinamika pesantren ditandai dengan wacana apakah pesantren tetap atau harus berubah. Mempertahankan wujud lama dalam merespons arus global dirasa tidak mungkin, sebaliknya, larut dalam arus global harus dihindari karena pesantren akan kehilangan jati diri, akhirnya inovasi pesantren memilih jalan “continuity and change”, sehingga perubahan di pesantren tidak memutus akar-akar sebelumnya, pesantren terus menjaga kesinambungannya, akan tetapi dibalik kesinambungan pasti ada perubahan. Dalam PMA nomor 13 Tahun 2014 prinsip tersebut diakui, “pesantren sebagai satuan pendidikan” dan “pesantren sebagai wadah penddikan”.

Sebagai satuan pendidikan, pesantren dipimpin seorang kiai, kurikulumnya tergantung kepakaran kiai, pembelajarannya menggunakan sistem “sorogan” dan “weton” atau “bandongan”, tetapi komponen-komponen pesantren lengkap: ada kiai, ada santri mukim, ada musholla/masjid, ada pengajian kitab kuning, ada pondok/asrama dan ada iklim keagamaan yang kondusif. Sebagai wadah pendidikan, maka keberadaan pesantren telah berkembang sedemikian rupa sehingga mewadai lembaga pendidikan yang dikembangkan, di pesantren jenis ini bisa berkembang madrasah diniyah takmiliyah, lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah, madrasah dan pendidikan diniyah, atau bahkan ada perguruan tinggi termasuk ma’had ‘aly. Sehingga,  ketika kita menyebut pesantren sebagai wadah pendidikan, maka yang dimaksud adalah pesantren dengan segenap inovasi dan varian lembaga pendidikannya.

Masalahnya, apakah daya tarik pesantren di Jawa Timur?. Memasuki era reformasi, Jawa Timur bisa dijadikan model pengembangan pesantren, khususnya sejak amandemen IV UUD 1945 pasal 31. Kenapa?, karena UUD 1945 adalah rujukan tertinggi dalam struktur perundang-undangan, semua aturan dibawahnya (undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri) tidak mungkin bertentangan. Dalam perspektif pesantren, setelah amandemen IV UUD 1945 pasal 31, kita bisa telaah UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 yang mengatur Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Beberapa tahun setelah diundangkan PP Nomor 55 Tahun 2007 terbit Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama di Sekolah, PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, PMA Nomor 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Mu’adalah, dan PMA Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had ‘Aly.

Berlakunya Peraturan Menteri Agama ini jelas menjadi dasar munculnya banyak impian baru tentang prospek pesantren dalam kerangka sistem pendidikan nasional, dan Jawa Timur termasuk propinsi yang paling banyak mewujudkan pilot project sebagai tindak lanjut peraturan menteri tersebut.

Sampai akhir 2018, telah banyak operasional Pendidikan Diniyah Formal atau PDF, Ma’had Aly, dan Satuan Pendidikan Mu’adalah di pesantren Jawa Timur. Pendidikan Diniyah Formal atau lebih dikenal dengan PDF mengacu pada PMA 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, kini sudah tersebar di 27 pesantren seluruh Indonesia, khusus di Jawa Timur sudah operasional di 20 “pesantren besar”. Istilah pesantren besar kami gunakan sebab tidak semua pesantren boleh dan/atau mau merintis pendirian PDF, yang boleh hanyalah pesantren yang memiliki “minimal 300 santri khusus yang menekuni kitab kuning”, karena pengantar pembelajarannya berbahasa arab dan kurikulum sepenuhnya berbasis kitab kuning.

Di Jawa Timur terdapat banyak pesantren besar, seperti: Pesantren Tebuireng, Pesantren Sukorejo, Pesantren Darul Ulum, Pesantren Amanatul Ummah, Pesantren Lirboyo, Pesantren Sidogiri, Pesantren As-Sunniyyah, Pesantren Takeran, Pesantren An-Nuqayyah, Pesantren Demangan, Pesantren Genggong, Pesantren Paiton, dan pesantren lainnya. Namun, dari sekian banyak pesantren besar tersebut, sangat terbatas yang merintis PDF, yaitu di: (1) PDF Ulya Zainul Hasan di Pajarakan Probolinggo, (2) PDF Ulya Nurul Qadim di Paiton Probolinggo,  (3) PDF Ulya Al-Fitrah di Kenjeran Surabaya, (4) PDF Ulya Cokrokertopati di Takeran Magetan, (5) PDF Ulya Al-Mahrusiyah Mojoroto Kediri, (6) PDF Ulya Nurul Cholil Bangkalan, (7) PDF Wustha Al-Fitrah Kenjeran Surabaya, (8) PDF Wustha Nurul Qadim Paiton Proboinggo,  (9) PDF Ulya Fathul Ulum Diwek Jombang, (10) PDF Wustha Nurul Kholil Demangan Barat Bangkalan, (11) PDF Wusthha Al-Ma’arif  Demangan Bangkalan, (12) PDF Wustha Cokrokertopati di Takeran Magetan, (13) PDF Ulya Miftahul Jannah At-Thohir Besuki Situbondo, (14) PDF Ulya Al-Ma’arif Bangkalan, (15) PDF Ulya Al-Kolilliyah Al-Aziziyah Bangkalan, (16) PDF Wustha Al-Hidayah Singgahaan Tuban, (17) PDF Ulya Al-Hidayah Singgahaan Tuban, (18) PDF Wustha Nurul Jadid Paiton Probolinggo, (19) PDF Ulya Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan (20) PDF Ulya Asasul Muttaqin Rubaru Sumenep.

Ma’had ‘Aly  yang perintisannya mengacu pada PMA 71 Tahun 2015 kini sudah operasional 39 MA di Indonesia, dan sudah operasional 12 MA di Jawa Timur, yaitu di: (1) Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, (2) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, (3) Ma’had Aly At-Tarmasi Termas Pacitan, (4) Ma’had Aly Al-Fitrah Surabaya, (5) Ma’had Aly Az-Zamakhsyari Malang, (6) Ma’had Aly Al-Hasaniyah Tuban, (7) Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember, (8) Ma’had Aly Nurul Qadim Paiton Probollinggo, (9) Ma’had Aly Darussalam Blok Agung Banyuwangi,  (10) Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah/Magister Asembagus Situbondo, (11) Ma’had Aly Lirboyo Kediri, (12) Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dan (13) Ma’had Aly Daru Ihya’ Liuumuddin Pasuruan. Dari 13 Ma’had Aly tersebut, hanya 1 Ma’had Aly yang menyelenggarakan program magister, yaitu di Ma’had Aly Salafiah Syafi’iyah Situbondo. Sedikitnya pesantren penyeleggara Ma’had Aly, karena Ma’had Aly adalah satuan pendidikan tinggi pesantren berbasis kitab kuning untuk mencetak kiai/ulama yang dengannya mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Selain PDF dan Ma’had Aly, ada satuan pendidikan yang disebut mu’adalah, yang dirintis berdasarkan PMA 18 Tahun 2014. Kini, satuan pendidikan mu’adalah sudah operasional di 50 pesantren di Indonesia, dan di 37 pesantren Jawa Timur.

Secara empirik, daya tarik pesantren di Jawa Timur menguat karena kebijakan pemerintah. Langkah diskresi yang dipilih Gubernur karena belum ada payung hukumnya, dan masyarakat sangat membutuhkan. Hasilnya, guru pendidikan diniyah diberi peluang beasiswa, dan sejak 2019 guru pendidikan diniyah selain tetap diberi peluang sekitar 1000 beasiswa program sarjana di 35 perguuan tinggi, juga dibuka peluang 380 beasiswa program magister di 19 perguruan tinggi. Bahkan, juga dibuka peluang 240 beasiswa di 12 Ma’had Aly di Jawa Timur.

Pesantren di Jawa Timur akan terus memiliki daya tarik, karena di propinsi ini elit pesantren sangat cerdas merespons perubahan, dipimpin gubernur yang cerdas dan kaya gagasan. Tentu ini berimplikasi, terhadap pengembangan SDM dan terhadap kesejahteraan mereka ke depan. Wallahu a’lam bish shawab.

*Pengasuh Pesantren Shofa Marwa, Ketua MUI, dan Guru Besar Pendidikan Islam IAIN Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :