Banyak Pengendara Nakal Pilih Belok Arah

Ada ‘Polisi’, Halte Kagetkan Pengendara

Dalam beberapa waktu terakhir, Pemkab Jember memang mengubah sejumlah halte di Jember. Tempat penumpang angkutan kota di seluruh Jember ini dibuat tematik sesuai lokasinya. Namun, yang paling menghebohkan adalah halte di Bhayangkara. Berikut kehebohannya.

KREASI UNIK: Salah satu kreasi unik dari Dinas Perhubungan di pertigaan Bhayangkara ini sering mengagetkan pengendara terutama yang melanggar lalu lintas.

RADAR JEMBER.ID – Jika berkendara di Jember, maka pengendara akan banyak menemukan halte-halte unik di Jember. Masyarakat tidak lagi akan menemukan halte yang bentuknya seragam, namun ada yang dibuat tematik dengan lokasinya. Seperti Halte depan Kodim 0824 Jember yang dipermak. Dua patung yang berdiri di sisi kanan dan kiri halte dibentuk menyerupai seorang tentara, lengkap dengan pakaian perang dan senapan.

Namun, yang paling menghebohkan adalah halte angkutan kota yang terletak di depan Gedung Bhayangkara. Bangunan ini baru selesai dipugar. Bentuknya terlihat ciamik, karena ada tambahan ornamen khas lalu lintas. Yakni di cat biru, merah, dan putih. Tak hanya bentuknya, warna tempat tunggu penumpang itu juga tampak ngejreng. Kombinasi biru, merah, dan putih khas lalu lintas menambah kesan meriah halte yang berada di Jalan PB Sudirman tersebut.

Namun, siapa sangka, keberadaan halte ini membuat terkejut sejumlah pengendara yang melintas. Terutama bagi mereka yang tak melengkapi diri dengan surat-surat kendaraan, serta surat izin mengemudi (SIM). Pasalnya, pengendara ‘salah’ ini sering dikagetkan dengan keberadaan dua patung polisi lalu lintas yang terlihat seperti sedang bertugas.

Dua patung itu berdiri di sisi kanan dan kiri halte. Jika dilihat dari kejauhan, patung ini persis polisi yang sedang bertugas dengan rompi hijau, khas petugas lalu lintas. Oleh karena itu, mereka memperlambat laju kendaraan. Bahkan, ada juga yang berbelok ke arah jalan yang menuju Rumah Sakit Paru.

Adrian, salah seorang pengendara asal Bondowoso mengaku kaget saat berhenti di lampu merah Bhayangkara. Sekilas, dia seperti melihat ada polisi yang sedang bertugas. Pria yang hendak bepergian ke Gumukmas ini mengira patung tersebut adalah polisi yang bakal menggelar razia kendaraan bermotor.

Dirinya pun mengaku memilih belok kanan untuk menghindari operasi tersebut. “Karena saya tidak bawa SIM. Jadi pilih aman,” katanya, kemarin. Karena tidak tahu jalur alternatif ke Gumukmas, pemuda 31 tahun ini memilih menunggu di warung kopi, tak jauh dari lampu merah Bhayangkara.

Tapi setelah tahu jika yang berdiri itu adalah patung, Adrian tertawa. Kemudian, dia pamit melanjutkan perjalanan menuju kawasan selatan Kabupaten Jember. “Ya, saya memang salah, sih. Tapi daripada kena tilang, kan mending menghindar,” dalihnya.

Rupanya, bukan hanya Adrian yang kecele. Ahmad Fathoni juga mengalami hal serupa. Hanya saja, dia tak sampai berbelok arah. Saat berhenti di lampu merah, jantungnya sempat berdetak kencang, karena khawatir kena tilang. Sebab, walaupun telah mengantongi SIM, namun pemuda yang disapa Toni ini surat kendaraannya tak lengkap.

“Pajak kendaraan saya mati. Kalau STNK-nya masih hidup. Cuma tadi sempat ndredeg,” akunya. Untuk menghilangkan perasaan terkejutnya itu, Toni lantas berhenti di depan halte. Dia senyum-senyum sendiri setelah merasa bersalah lantaran tak membayar pajak kendaraan bermotornya. Sejurus kemudian, dia berswafoto bersama patung polisi di halte tersebut.

“Rencananya bulan ini saya bayar pajaknya. Biar nggak gampang ndredeg lagi,” kata pemuda asal Arjasa tersebut. Adrian dan Toni adalah dua pemuda yang terkejut dengan keberadaan patung polisi di halte Bhayangkara. Sebab, keduanya sama-sama belum mengetahui jika yang berdiri di sisi halte itu adalah patung, bukan polisi sesungguhnya.

Apalagi, mereka juga baru pertama kali lewat setelah ruang tunggu angkutan kota ini dipugar. “Kalau sudah tahu ya nggak mungkin kaget lagi. Tapi ini jadi pengalaman berharga. Karena orang yang salah pasti merasa waswas,” tuturnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Rangga Mahardhika