Jumlah Minim, Banyak Hikmah Bergaul dengan Orang Tunarungu

Fatwa Aulia Rachman, Relawan Penerjemah Bahasa Isyarat

Tidak banyak orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk belajar bahasa isyarat. Apalagi, menjadi relawan bahasa isyarat untuk masyarakat tuli. Di antara jumlah yang sedikit itu, anak muda bernama Fatwa Aulia Rachman menjadi salah satu yang mau menjadi relawan untuk menjembatani masyarakat disabilitas tunarungu ini.

PEDULI SESAMA: Fatwa Aulia Rachman (kanan) saat sedang menerjemahkan bahasa isyarat membantu komunikasi kelompok tuli. 

RADAR JEMBER.ID – Dengan cekatan, anak muda ini memainkan tangan dan jari-jemarinya untuk membentuk berbagai macam isyarat. Ekspresi muka dan gerak bibirnya juga turut mendukung isyarat tersebut. Sesekali, ia terdiam untuk berpikir dan mengingat-ingat bentuk isyarat yang akan diperagakan.

“Ekspresi muka ini penting untuk menunjang kelancaran komunikasi bahasa isyarat dengan orang tuli. Saya juga kadang harus berhenti sejenak untuk berpikir isyarat apa yang pas,” tutur Fatwa Aulia Rachman, mahasiswa yang juga sebagai penerjemah bahasa isyarat tersebut.

Fatwa mengaku belum terlalu lama menekuni bahasa isyarat. “Baru sejak semester 3, Mas. Belum terlalu ahli juga,” tuturnya merendah. Kepedulian terhadap disabilitas memang tidak asing bagi Fatwa. Pasalnya, sehari-hari ia menuntut ilmu di jurusan Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Jember. Namun, jauh sebelum kuliah, Fatwa juga sudah akrab dengan dunia pendidikan luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Ayahnya kebetulan guru swasta di sebuah SLB. “Sejak masih madrasah ibtidaiyah (setara SD, Red), saya sering diajak ayah ikut beliau ke sekolah untuk mengajar. Dari empat bersaudara, entah mengapa saya yang paling sering diajak ikut, sejak kecil,” kenang Fatwa. Karena itu, setelah lulus dari MAN Mojokerto empat tahun yang lalu, Fatwa mantap untuk memilih jurusan PLB.

Bumi Mojopahit rela ia tinggalkan demi dengan merantau ke Jember. “Jurusan pendidikan luar biasa ini memang masih langka sampai sekarang. Di Jawa Timur cuma ada empat, UM, Unesa, Universitas Adhi Buana Surabaya, dan IKIP PGRI Jember,” tutur pemuda kelahiran Mojokerto, 6 Juli 1996 silam ini.

Dalam sistem pendidikan luar biasa di Indonesia, pada umumnya dibagi dalam empat kategori. Yakni kategori A untuk tunanetra, kategori B untuk tunarungu (tuli), kategori C untuk tunagrahita, dan kategori D untuk tunadaksa. Sistem ini berlaku baik di sekolah luar biasa maupun di tingkat perguruan tinggi. “Cuma kalau di kampus kebetulan diajarkan semuanya. Jadi, secara general atau menyeluruh,” jelas Fatwa.

Seiring berjalannya waktu, Fatwa mulai enjoy menekuni perkuliahan pendidikan luar biasa. Lantas saat menginjak semester III, Fatwa tertarik untuk mencoba mempelajari bahasa isyarat. Kebetulan saat itu di kampusnya sedang diadakan pelatihan bahasa isyarat yang digelar oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia atau Gerkatin.

“Sejak semester III sampai sekarang semester VIII. Cuma memang tidak continue, sempat vakum beberapa waktu. Antara lain juga karena ada pergantian kepengurusan di Gerkatin Jember,” jelas Fatwa. Selama beberapa lama berinteraksi dengan masyarakat tuli di Jember, Fatwa merasakan banyak hal positif.

Selain lebih mengasah kepekaan sosialnya, banyak hal menarik yang didapat. “Bahasa isyarat itu sangat mengandalkan ekspresi mimik wajah. Jadi, seperti lucu juga kita, sering bercanda dengan mereka,” jelas anak ketiga dari empat bersaudara ini. Ke depan, Fatwa berharap semakin banyak masyarakat terutama di Jember yang lebih memiliki kepedulian dan paham terkait disabilitas, termasuk kepada penyandang difabel tunarungu.

“Tidak usah muluk-muluk, yang penting masyarakat paham saja dulu tentang konsep disabilitas itu seperti apa,” jelas Fatwa.  Salah satu contoh pemahaman yang salah terkait disabilitas adalah sikap orang tua yang memiliki anak tuli, yang lebih memilih untuk mendiamkannya di rumah. Padahal, anak berkebutuhan khusus (ABK) juga memiliki hak untuk bersekolah seperti anak pada umumnya.

“Kita sering menemukan kasus orang tua yang membiarkan anaknya yang tuli di rumah, mungkin karena orang tuanya tidak paham, anaknya harus diapakan,” jelasnya. Padahal, jika anaknya masih kecil, masih ada harapan untuk lebih baik. Selain disekolahkan, juga bisa dilakukan terapi.

Kelompok disabilitas, menurut Fatwa tidak berharap untuk dikasihani. Mereka hanya menginginkan kesetaraan dan pemenuhan hak sesuai kondisinya masing-masing. Karena kebutuhan setiap disabilitas itu berbeda-beda, sehingga dibutuhkan edukasi terus-menerus dari berbagai pihak agar masyarakat lebih paham.

“Ada saat-saat ketika disabilitas memang perlu dibantu atau didampingi. Tetapi juga ada saat-saat ketika disabilitas harus mandiri, seperti ketika mereka sudah bisa bekerja atau berkarya. Mereka hanya perlu difasilitasi untuk bisa seperti itu,” jelas Fatwa. Sayangnya, Fatwa dalam waktu dekat harus berpisah dengan komunitas tuli Jember yang tergabung dalam Gerkatin Jember.

Pasalnya, mahasiswa semester VIII ini sebentar lagi akan diwisuda. Dia akan kembali ke kampung halamannya di Jatirejo, Mojokerto. Rencananya, Fatwa akan mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di kampung halamannya. “Februari ini saya akan wisuda. Karena itu, Gerkatin Jember juga sedang intensif mengadakan kursus bahasa isyarat, yang diharapkan akan banyak diminati masyarakat. Sehingga, komunikasi dengan orang tuli di Jember menjadi lebih baik lagi,” jelas Fatwa.

Rencana kepulangan Fatwa tentu saja akan sangat terasa bagi komunitas tuli di Jember. “Kita akan sangat kehilangan Fatwa, karena dia sudah sangat telaten membantu kita,” sambung Nurhayati, Ketua Gerkatin Jember. Tapi pihaknya mendoakan yang terbaik. Pihaknya berharap nantinya makin banyak regenerasi penerjemah bahasa isyarat di Jember. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Rangga Mahardhika