Proyek Belum Dibayar, Rekanan Ancam Simpan Kunci Puskesmas

RADARJEMBER.ID – Sejumlah rekanan mendatangi komisi D DPRD Jember, kemarin (4/1). Mereka memenuhi undangan dewan untuk mengikuti rapat dengan pendapat utamanya terkait proyek yang sudah mereka kerjakan, namun belum juga dibayar oleh Dinas Kesehatan Jember. Sayangnya, Dinkes Jember tidak hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketidakhadiran dan ketidakjelasan itu membuat sejumlah rekanan geram. Bahkan, mereka mengancam tidak akan menyerahkan kunci puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) sampai dana proyek dibayarkan. “Kita harus bagaimana, apa kunci puskesmas kita pegang sampai terbayar,” ancam David, rekanan yang kemarin ikut datang ke DPRD Jember.

Mereka tentu geram atas ketidakhadiran dinkes ini. Pasalnya, agenda utama rapat itu untuk mencari titik temu persoalan yang dialami oleh sekitar 70 rekanan. Yakni terlambatnya pencairan dana proyek fisik Dinkes Jember. Akhirnya, pertemuan itu tidak menemukan solusi seperti yang diharapkan rekanan. “Ada sekitar 105 proyek dengan nilai dari Rp 400 juta hingga Rp 5 miliar,” kata Dedi Yudistira, renakan yang menggarap proyek puskesmas pembantu (pustu) di Jember ini.

Menurut dia, keterlambatan itu bukan kesalahan kontraktor, namun karena dinkes tidak segera melakukan proses pembayaran terhadap pekerjaan mereka. “Dinkes bilang ini memang kesalahan dari pihak kesehatan, lambat untuk mengisi administrasi,” tambahnya dengan kesal. Proyek tersebut sudah digarap sekitar Oktober lalu dan selesai tepat waktu. Yakni ada yang selesai 17 Desember dari waktu terakhir 27 Desember 2018.

Dengan demikian, sebenarnya tidak sampai melewati tahun anggaran. Oleh karena itu, pihaknya menyayangkan langkah dinkes yang tidak segera memproses pencairan anggaran itu. Sebab, lantaran keterlambatan itu, banyak kerugian yang dialami oleh rekanan. Terutama harus menanggung bunga bank sebesar 1,2 persen dari uang yang dipinjam.

Bukan hanya bunga bank, namun bahan material yang selama ini masih utang ke toko bangunan sudah banyak yang minta dibayar. Namun, ternyata tidak semua mengalami nasib sial seperti dirinya. Ada beberapa rekanan yang sudah dibayar. Padahal, proyek mereka justru selesainya lebih lambat dibandingkan dengan miliknya. Sedangkan proyek yang selesai lebih dulu masih belum cair. “Senin depan kami akan konfirmasi lagi,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan, dalam pertemuan pertama, dinkes hanya menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan pencairan dana itu. “Keterlambatan ini baru kali ini, tahun sebelumnya kayaknya tidak,” tuturnya.  Rekanan gelisah apakah dana tersebut bisa cair. Kalaupun cair, diharapkan bisa secepatnya dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Rekanan itu diterima anggota komisi D DPRD Jember, Ardi Pujo Prabowo, Suwigyo Widagdo, dan Alfian Andri Wijaya. “Informasi Kepala Dinkes tidak bisa hadir pukul 13.30 WIB,” ucap Ardi Pujo Prabowo. Sementara undangan dari DPRD Jember pukul 13.00 WIB. Alasannya, karena kadinkes menghadiri undangan Lantamal V terkait operasi katarak dan bibir sumbing. Dinkes sudah menerima surat undangan dari DPRD Jember.

“Kami akan memanggil kembali,” ucap Ardi menenangkan rekanan yang kebingungan dengan nasib mereka ini. Dia mengatakan, rekanan sudah memenuhi target yang diberi oleh dinkes. Kesalahan dari dinkes ini harus segera dievaluasi dan tidak dibiarkan begitu saja.

“Dinkes harus nyadar. Kalau tidak mampu, ya mundur, karena kita tidak ingin hal ini terjadi lagi,” pungkasnya.

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Rangga Mahardhika