Copy Editor Radar Jember Juara 3

Sensasi Melukis di Dinding Makam

SENI RUPA: Puluhan penggiat seni rupa dari seluruh Indonesia saat mengikuti Festival Mural di Situs Makam Kiai Santawi dan Tumenggung Unem, Prajekan

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Ada festival unik di Situs Makam Kiai Santawi dan Tumenggung Unem Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, Sabtu kemarin (29/12). Festival Mural namanya. Penggagasnya adalah para penggiat seni di desa setempat. Kebetulan, mantan Kepala Desa Prajekan Lor Fandi Sofyan Hidayat adalah seorang seniman. Ia menginisiasi para pemuda untuk membuat festival seni rupa.

Media yang dilukis adalah tembok makam di desa ini. Ada 30 peserta yang mendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap peserta diharuskan mengirimkan sketsa. Namun, dari keseluruhan pendaftar, hanya 25 peserta yang dinyatakan lolos. “Panitia melakukan seleksi awal, sehingga ada yang tidak masuk,” ujar Fandi Sofyan Hidayat.

Setiap peserta memiliki waktu 8 jam untuk melukis di dinding dengan ukuran 1,7 x 4 m. Mereka melukis sesuai sketsa yang telah dikirim terlebih dahulu. Kebanyakan peserta menggunakan waktu delapan jam itu penuh. Kategori peserta ini ada yang tunggal dan ada yang kelompok. Namun, media gambar dan penilaiannya sama.

Dijelaskan, panitia menggunakan sistem pendaftaran terbuka. Ternyata peminatnya tidak hanya seniman dari Bondowoso, melainkan dari berbagai daerah. Ada yang dari Mojokerto, Bantul, Magelang, sampai Banyuwangi. Temanya adalah Potret Desa Budaya. Peserta bisa menumpahkan kreasi seni rupanya dengan mengangkat tema desa budaya dari seluruh Indonesia.

Khusus untuk Bondowoso, banyak yang mengangkat tema Singo Ulung, Topeng Kona, Ojung, dan lain sebagainya. Namun, dari daerah lain ada yang mengangkat tema Barong Adat Kemiren Banyuwangi, ada yang mengangkat tema Pandhalungan, dan lainnya.

Heru, penggiat seni rupa dari Banyuwangi menuturkan, pihaknya datang karena seni. Sebab bagi seniman, kegiatan melukis adalah hal yang asyik. Karenanya, ia datang untuk menuangkan bakat seninya. “Saya membawakan tema Barong Adat Kemiren Banyuwangi, saya bersama tim,” ujarnya.

Totok, guru kesenian salah satu SMK di Bondowoso mengungkapkan hal yang sama. Bagi seniman, bisa berkreasi itu adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi, bisa bersama-sama membuat karya seni. Pada kesempatan itu ia mengangkat tema kesenian Bondowoso. “Saya ingin menuangkannya saja, saya merasa asyik,” terangnya.

Perlu diketahui, Festival Mural tahun ini adalah kali kedua. Sebab, pada 2017 lalu sudah pernah dilaksanakan. Namun, tahun ini pesertanya lebih variatif. Sebab, banyak yang datang dari daerah luar. Panitia dalam hal ini menyediakan 5 cat warna dasar untuk bekal para seniman melukis tembok makam. Hasilnya bisa disaksikan masyarakat yang melalui jalan Bondowoso-Situbondo. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : MS Rasyid