Terancam Tak Dapat Ganti Rugi Kalaupun Ada, Hanya Benih

Kerugian Ditaksir Capai Setengah Miliar

25
TERGENANG: Kondisi pertanian padi kawasan Kecamatan Rowokangkung yang tergenang banjir. Petani terancam tidak dapat ganti rugi.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Korban terdampak banjir di Rowokangkung ternyata cukup tinggi. Untuk pertanian saja, potensi kerugiannya ditaksir lebih dari setengah miliar. Petani terancam tidak dapat ganti rugi. Itu belum termasuk kawasan Perkebunan PG Jatiroto.

Sejak banjir datang pada Minggu (24/12) dini hari, tak dapat dielakkan kawasan perkebunan PG Jatiroto tergenang. Jumlahnya mencapai ratusan hektare. Sebab, air sungai mengalir lewat jebolan tanggul dan merambah kebun tebu yang kemudian masuk lagi ke sungai avor Vak 12, hingga menggenangi perkampungan warga.

Nah, untuk lahan pertanian, Radarjember.id punya catatan tersendiri. Kemarin, Kepala UPTD Pertanian Rowokangkung Darsono menegaskan, luasan lahan pertanian padi mencapai ratusan yang tergenang banjir.

Terluas adalah Desa Rowokangkung yang mencapai 170 hektare lahan tanaman padi tergenang. “Rata-rata usia tanamnya 1 sampai 1,5 bulan,” ungkapnya. Dia menyebutkan, ada juga yang usia tanam berkisar 20 hari. Itu di Desa Kedungrejo yang hanya 13 hektare.

Semua tanaman itu adalah jenis padi. Belum termasuk jenis tanaman lainnya. Memang tidak seberapa banyak. Namun, kerugian kata dia tak dapat dielakkan. Kondisi itulah yang sampai saat ini masih dipantau dan dikaji oleh pihak pertanian.

Darsono menegaskan, belum bisa dipastikan apakah mereka itu gagal tanam atau tidak. “Biasanya menunggu tiga hari. Besok kita lihat lagi kerusakan tanamannya seberapa parah. Yang tergenang saja seperti itu. Rasanya sulit kalau tergenang,” ungkapnya.

Antisipasinya, kata dia, masih menunggu sampai genangan surut. Ketika kemarin mulai surut, hari ini dipastikan akan dilakukan pemantauan. “Nanti kita laporkan kerusakannya berapa, kemudian kita ajukan permohonan bantuan dapat bantuan benih nasional,” jelasnya.

Memang, skema penanganannya sudah direncanakan. Namun, kepastian kerusakan tanaman itu masih belum bisa dipastikan. Sebab, sifatnya adalah pengajuan. “Kepastiannya ya belum tentu. Memang ada sinyal-sinyal diganti itu, tapi kan sifatnya usulan,” katanya.

Kalaupun diganti, itu masih bersifat benihnya. Belum termasuk pada pengolahan tanah yang sekali pengolahan dalam satu hektare mencapai Rp 1 juta. Ditambah pemupukan dua kali dalam sebulan yang biayanya tidak sedikit. “Taksirannya per hektare sampai Rp 3 jutaan,” katanya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Narto