Bakal Kembali Temui Menteri ESDM untuk Cabut SK 

Bupati Tegaskan Tolak Tambang Emas

18
MEMBAUR: Bupati Faida memberi jawaban langsung kepada ribuan masyarakat Silo. Dia menegaskan Pemkab dan DPRD Jember satu suara menolak tambang emas Silo.

RADAR JEMBER.ID – Ribuan massa aksi nekat “menculik” beberapa anggota DPRD Jember yang baru menemuinya. Mereka mengajak anggota DPRD long march dari gedung DPRD menuju Pemkab Jember. Setelah bertemu Bupati Faida, massa punya harapan baru. Bupati, DPRD, dan warga memiliki satu tekad yang bulat, yaitu sama-sama menolak tambang emas dan meminta SK Menteri ESDM nomor 1802 K/30/MEM/2018 dicabut.

Long march yang dilakukan warga juga mendapat pengawalan ketat oleh Polres Jember. Selama berjalan kaki, ribuan warga membawa serta spanduk, dengan tulisan penolakan tambang dan desakan pencabutan SK Menteri ESDM. Selama berjalan kaki itu pula, kontan menjadi perhatian warga.

Sesampainya di Pemkab Jember, warga langsung berkumpul di halaman. Seperti sebelumnya, mereka berteriak tolak tambang dan melakukan orasi secara bergantian. Tak lama kemudian, perwakilan warga langsung diperbolehkan masuk dan ditemui Bupati Faida bersama wakilnya, KH A Muqit Arief. Di hadapan Bupati Faida, perwakilan massa yang orang-orangnya telah ditentukan seperti di DPRD juga menyampaikan hal serupa seperti disampaikan kepada anggota DPRD sebelumnya.

Kepada Bupati Jember, perwakilan warga mengaku beberapa waktu lalu telah pergi ke Surabaya. Namun, di sana warga mendapat jawaban miring dan tidak mengenakkan. Pengeluaran SK Menteri ESDM pada lampiran empat disebut-sebut ada campur tangan bupati dan partai tertentu. Untuk itulah, warga meminta kejelasan langsung dari Faida.

Perwakilan warga juga menyinggung terkait surat yang disampaikan bupati kepada Menteri ESDM kurang tegas karena bukan berisi penolakan, melainkan hanya keberatan. Warga pun mendesak agar pemerintah Jember segera melakukan revisi RTRW serta membuat RDTR. Tak hanya itu, warga pun mengancam akan menyandera siapa saja yang datang ke Blok Silo untuk urusan tambang.

Warga pun menyampaikan ancamannya terkait penutupan jalan provinsi Jember-Banyuwangi, apabila Januari 2019 SK Menteri ESDM belum juga dicabut. “Ini sangat serius, jangan sampai kasus ini mengganggu Pemilu yang akan datang. Kami juga tidak ingin ini berlarut-larut,” ujar salah seorang perwakilan warga.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Faida menjelaskan Pemkab Jember sudah berunding dengan Forpimda dan mempersilakan masyarakat berpendapat di muka umum. Itu pula yang menjadi bekal semangat dan tekad bulat pemerintah untuk terus menyuarakan aspirasi warga Silo. Faida pun meminta agar saat ini masyarakat tidak mudah diadu domba karena sejak dirinya menjabat sampai sekarang tidak pernah mengusulkan atau merekomendasikan agar Silo dijadikan wilayah tambang emas.

“Tidak perlu ada sesuatu yang dibangun kecuali diperlukan masyarakat Jember. Pembangunan itu harus ada tiga hal. Pertama pemerintah bekerja, kedua investor datang, ketiga masyarakat mendukung. Kami berdua (bersama wabup) sama-sama aktivis lingkungan. Sejak sebelum jadi, kami sudah menolak tambang,” ucapnya.

Meski demikian, Faida ingin tetap ada sinergitas antara pemerintah, DPRD, dan warga. Untuk itu, menurut dia jangan ada adu domba, tidak ada perbedaan partai, karena tujuannya sama, yaitu agar SK Menteri ESDM dicabut dan tidak ada ruang tambang emas di Silo. “Target kita sama, menolak tambang. Segala sesuatu yang tidak pernah diinginkan warga di Jember, jangan pernah direalisasikan, dan Presiden RI Jokowi juga berkomitmen,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Faida juga mengaku sudah mengajukan mediasi non-litigasi, untuk pembatalan SK Menteri ESDM lampiran empat terkait Blok Silo kepada Kementerian Hukum dan HAM. “Siapa yang mengeluarkan SK, maka berhak mencabutnya. Untuk itu, saya besok atau lusa akan ke Jakarta untuk melakukan mediasi non-litigasi. Saya akan berjuang agar SK itu dicabut,” tegasnya.

Setelah panjang lebar menemui perwakilan warga, Faida pun langsung keluar menemui ribuan massa yang sudah kepanasan di halaman pemkab. Di hadapan ribuan warga, Faida yang naik truk menegaskan agar warga tidak putus asa akan perjuangannya. Menurut dia, Pemkab Jember, DPRD, dan warga Silo sudah satu tekad tolak tambang emas. “Saya harap bapak-ibu bisa pulang dengan tertib,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Jember Muqit Arif menyatakan, penolakan tambang emas adalah sesuatu yang besar. Untuk itu, setiap langkah harus dipertimbangkan secara matang agar tidak melemahkan gerakan masyarakat. Dia pun menyarankan agar ancaman warga menutup jalan provinsi diganti dengan cara yang lebih anggun dan bisa menarik simpati seluruh masyarakat Jember. “Saya hanya memberi pertimbangan. Kalau sampai menutup jalan provinsi Jember-Banyuwangi, tentu akan ada banyak yang terganggu. Saya memberi pertimbangan, mungkin ada jalan lain selain menutup jalan,” jelas pria yang juga berasal dari Kecamatan Silo tersebut. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Narto