Warga Silo Siaga, Sesalkan ESDM Jatim Abaikan Petisi Masyarakat

Tiga Investor Cina Dilepas

25

RADAR JEMBER.ID – Tiga investor Cina yang sempat “disandera” warga Desa Pace, Kecamatan Silo akhirnya dilepas, kemarin (6/12). Ketiganya sempat diperiksa kantor Imigrasi Jember. Karena tidak ada pelanggaran, ketiganya akhirnya dilepas. Pun dengan tiga staf Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur (Jatim). Serta satu penerjemah tiga investor Cina.

Investor Cina adalah Thong Zhi Yang, 46, warga  Sichuan Chengdu Republik Cina, nomor Paspor: EC 5058807 sebagai kontraktor. Liu Guoyong Sichuan, 54, Warga Sichuan Chengdu, Republik Cina, nomor Paspor: EC 356963i  juga kontraktor, dan  Haiyang, 34, warga Chong Qing Chengdu, nomor paspor: EE 0540338 juga kontraktor.

Ada lagi Fesy Arisandi, 40, warga Kupang Indah II/11 RT 002/ RW 005, Kelurahan Sono Kewijenan, Kecamatan Suko Manunggal, Kota Surabaya sebagai penerjemah tenaga asing. Kemudian tiga pegawai Dinas ESDM Provonsi Jatim yaitu Darmanto, 49 Aulia Mustika Akbari, 29, dan Dwi Yuda Wahyu Setya Pambudi, 26.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo kepada Radarjember.id, tiga orang warga asing yang ikut diamankan bersama tiga staf dari Kementerian ESDM sempat dimintai keterangan di kantor imigrasi. “Karena tidak ada bukti, maka ketiga WAN keturunan Cina langsung dipulangkan,” kata Kapolres AKBP Kusworo Wibowo

Sementara itu, pasca “penyanderaan” tiga investor Cina, kondisi Desa Pace, Kecamatan Silo berangsur-angsur normal. Namun, masyarakat Silo yang tegas menolak penambangan emas tetap siaga. Warga tidak mau lagi kecolongan lagi. Karena itu, mereka selalu siaga jika sewaktu-waktu ada orang asing datang.

“Memang warga kini waspada,” kata Moch Farohan, Kepala Desa Pace kepada Jawa Pos Radar Jember. Kini, warga Desa Pace sensitif jika ada orang asing. Warga khawatir orang asing tersebut berniat melakukan survei atau semacamnya. Sebab, sejak awal warga Desa Pace menolak segala upaya penambangan emas.

“Apalagi, saat mendengar akan ada pelelangan penambangan blok Silo oleh Kementerian Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), maka warga bergerak,” jelas Farohan. Apalagi, yang dilakukan oleh pihak ESDM seperti sembunyi-sembunyi dari warga Silo. Saat mau melakukan survei di lokasi tambang tersebut.

Buktinya, memang tidak ada sama sekali izin atau pemberitahuan kepada pihaknya selaku pemerintah desa untuk melakukan survei itu. “Tidak ada izin. Seandainya ada izin, tidak mungkin kami izinkan. Karena warga Silo dengan tegas menolaknya,” tegasnya. Pihaknya menegaskan warga ingin hidup tenang tanpa ada penambangan di wilayahnya.

Karena itu, dia menyesalkan kedatangan staf dari dinas ESDM Provinsi Jatim mendatangi lokasi tambang emas di Desa Pace, Silo dengan membawa calon investor asal China, Rabu (5/12). Itu membuat masyarakat Silo kaget. Hal ini menunjukkan bahwa Pemprov Jawa Timur mengabaikan surat penolakan yang langsung diserahkan kepada Sekdaprov Jatim, beberapa waktu lalu.

Kedatangan Farohan bersama rombongan ini juga untuk menyerahkan KTP dari ketiga warga asing yang sempat diamankan warga di Posko Forum Komunikasi masyarakat Silo (Formasi), Rabu lalu.

Farohan menjelaskan, masyarakat Silo tentu saja kecewa dengan kenyataan itu. Hal ini berarti SK penetapan lokasi tambang emas blok Silo oleh kementerian ESDM dicabut. Padahal, beberapa waktu lalu informasinya Bupati Jember dr Faida MMR secara langsung menemui menteri ESDM.

“Bahkan masyarakat Silo juga sudah menghadap langsung ke Pemprov dan DPRD Jatim, untuk menyerahkan petisi penolakan tambang emas di Silo,” ujar Farohan. Namun, Rabu (5/12) pagi masyarakat Silo dikejutkan dengan kedatangan tiga staf Dinas ESDM Jatim, serta membawa 3 warga Cina dengan alasan hendak melakukan survei lapangan.

Dia menilai kedatangan mereka merupakan bukti suara rakyat Silo yang menemui Sekdaprov diabaikan. “Ini menjadi kekhawatiran warga dengan munculnya surat izin pertambangan dari Kementerian ESDM. Padahal warga menolak tegas,” jelasnya. Alasannya, warga takut dengan adanya penambangan ini malah akan mengganggu stabilitas masyarakat di Silo.

Karena itu, menurut Farohan, pihaknya pun akan terus berjuang untuk memperjuangkan penolakan tambang emas tersebut. Salah satunya, Selasa pekan depan masyarakat Silo akan kembali turun ke jalan. Mereka akan mendatangi DPRD dan Pemkab Jember untuk menyampaikan aspirasinya.

Oleh karena itu, pihaknya mengatakan kejadian yang terjadi oleh Desa Pace, Silo, Rabu pagi dengan menghadang tujuh orang yang dengan mengendarai tiga mobil tidak salah. Apalagi, kemudian ada penggerebekan oleh warga dan ada warga negara asing yang berhasil diamankan oleh warga.

Dari tiga mobil yang sempat dihadang massa tersebut, tiga di antaranya warga Cina. Sedangkan tiga orang lainnya yakni dari staf Kementerian ESDM Provinsi Jatim. Mobil pembawa rombongan itu sempat dihadang oleh massa karena diduga akan melakukan survey terkait tambang emas.

Kemarahan warga Silo karena datangnya warga Cina dan staf Pemprov Jawa Timur (Jatim) untuk penelitian tambang disesalkan. Sebab, warga Jember sudah menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah. Namun seakan pendapat mereka tidak dihiraukan.

Aktivis lingkungan Jember Wahyu Giri mengatakan, bila hanya untuk penelitian studi tidak masalah. Namun, tetap harus berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Sayangnya, kedatangan mereka untuk meneliti pada tindak lanjut penambangan. “Bukan penelitian untuk studi lagi,” katanya

Giri menilai ada yang janggal dengan kegiatan tersebut. Ada komunikasi yang terputus. Sebab, masyarakat Silo sudah menyatakan sikap. Begitu juga dengan DPRD Jember dan Pemkab Jember yang mewakili seluruh masyarakat Jember.

Keberatan warga tentang penambangan itu masih diabaikan oleh pemerintah. Pemkab Jember sudah mengirimkan surat para Kementerian ESDM untuk dicabut. Kemudian, Kementerian tersebut akan meminta gubernur untuk mencabut. “Ini di tingkat Pemerintah provinsi belum selesai,” tuturnya. Keinginan warga seolah tidak dihiraukan oleh pemerintah Jawa Timur. Padahal, sudah jelas sekali sikap mereka terhadap penolakan tambang ini.

Giri menilai, Pemkab Jember perlu mengirim surat pada gubernur tentang permintaan warga Jember. “Namun, saya tidak tahu apakah sudah pernah mengirim surat pada gubernur Jatim,” tambahnya. PMII Jember bakal menggelar aksi pada hari ini. Mereka menuntut pemerintah agar menghentikan pelelangan wilayah izin usaha pertambangan di Blok Silo. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Jumai

Editor : Narto