Mengukir Sejak Usia 4 Tahun, Bertahan sampai Punya 4 Anak

Mistik di Balik Karya Seni Syaiful Bahri

Kehadiran makhluk halus pada karya seni sulit dipercaya. Syaiful Bahri, si empunya barongan pun heran. Dia menggeluti pembuatan barongan sudah puluhan tahun.

17
KARYA SENI: Syaiful dan putranya menunjukkan ukiran kayu berbentuk barongan di halaman rumahnya di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang.

RADAR JEMBER.ID – Sambil duduk bersila, Syaiful Bahri terlihat asyik menikmati pekerjaan sehari-harinya. Dia memahat kayu untuk dijadikan barongan dan topeng untuk kesenian barong serta jaranan. Pekerjaannya itu dilakukan sehari penuh seperti kerja-kerja lainnya.

Karya seni yang dibuat Syaiful tidak ada yang berbeda seperti kebanyakan perajin pada umumnya. Dia memahat dan mengukir kayu untuk dijadikan buah karya seni sesuai imajinasinya. Tetapi di balik itu, ada semacam mistik yang menjadi penunggu. Terlebih, saat karyanya membuat barong dan topeng selesai.

Syaiful yang bekerja ditemani salah seorang putranya, mulai vulgar menceritakan kisah hidupnya. Dia mulai kenal pekerjaan yang digelutinya sejak usia empat tahun. Saat itu, dia sudah mulai mengukir. Sekali pun hasilnya hanya sebatas potong-potong kayu.

“Orang tua saya memang bekerja sebagai tukang ukir. Nah, sejak saya usia empat tahun, kata bapak, saya sudah pegang pisau dan alat-alat. Saat itu saya juga membuat ukiran-ukiran, tetapi tidak jelas bentuknya. Namanya juga anak-anak yang masih belum paham. Jadi, hanya potong-potong kayu,” ucap pria yang kini berusia 38 tahun tersebut.

Begitu dia berusia tujuh tahun, Syaiful mulai bisa membuat satu jenis alat seni berupa topeng. Sekali pun hasilnya masih buruk, tetapi Syaiful terus belajar dan mendampingi orang tuanya. Dia pun kemudian bisa dengan sendirinya, karena terbiasa melihat dan mempraktikkan pemotongan dan pengukiran kayu.

Saat kecil, kayu ukiran miliknya tidak pernah ada yang dijual. Ukiran karya seninya hanya dibuat untuk bermain bersama teman-teman di kampungnya, yaitu di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang. Lambat laun, dia mulai serius untuk membuat barongan yang pengerjaannya lebih susah dibanding topeng kayu.

“Saya mulai serius setelah orang tua saya tidak kerja lagi. Saat remaja usia belasan tahun, saya sudah bisa menjual karya seni, kemudian menikah dengan istri Endang Fatmawati. Saya pun terus bekerja membuat kerajinan kayu. Alhamdulillah, istri juga mendukung,” paparnya.

Jumlah pembuatan barongan dan topeng dari tangan Syaiful sepertinya sudah tak terhitung. Menurut dia, dari beberapa karya seni buatannya, hampir setiap malam mengeluarkan suara-suara aneh. Saat itu, istrinya pun sempat terkejut. Tetapi Syaiful meminta agar istrinya tetap tenang, karena itu hanya makhluk halus yang mampir dan hinggap di kayu ukiran buatannya.

Apa yang disampaikan Syaiful seakan sulit dipercaya. Namun, Syaiful kembali meyakinkan bahwa karya seninya tak hanya mengeluarkan suara aneh. Kayu hasil ukirannya terkadang bergerak-gerak. Bahkan, barongan yang menyerupai kepala itu pun menganga dengan sendirinya.

“Apa yang masuk ke situ (barong), saya tidak tahu. Saya hanya tahu saat karya saya bergerak-gerak. Kemudian, yang paling sering saya lihat yaitu menganga. Percaya atau tidak, itulah yang saya alami berpuluh-puluh tahun ini,” ungkapnya.

Syaiful mengaku tak ambil pusing. Apalagi, dia  dituntut untuk terus bekerja. “Bukan hanya saya dan istri. Sekarang ini, saya punya empat anak, rata-rata mereka juga tahu saat itu (barong) bergerak dan menganga. Tetapi, itu pekerjaan saya dan bisanya hanya mengukir,” tegasnya.

Sebagai orang tua yang harus mencukupi kebutuhan keluarga, Syaiful pun memberi bimbingan dan mendidik anaknya agar tidak takut pada pekerjaannya. “Itu saya sebut hanya mampir. Kalau (makhluk halus) mau tinggal di karya seni itu juga terserah. Toh, kadang ada pembeli yang mau membeli walaupun ada makhluk halusnya. Saya hanya niat bekerja, perkara ada hal gaib yang suka, tidak apa-apa,” urai Syaiful.

Dari pekerjaan mengukir tersebut, Syaiful bersyukur bisa menghidupi keluarganya meski terkadang masih pas-pasan. Selama ini, dia membuat ukiran-ukiran kayu hanya menggunakan peralatan manual. Dia berharap, suatu saat nanti bisa membeli alat yang lebih modern sehingga penyelesaian ukirannya bisa lebih cepat. “Harapannya bisa ada bantuan. Paling tidak bisa untuk membeli alat yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Narto