Jangan Mudah Ikut Sebar Informasi Tak Valid di Musim Pemilu

Awas, Tersesat Informasi Hoaks

18
SINERGI: Diperlukan peran serta semua pihak untuk memberantas penyebaran informasi hoaks dalam pemilu.

RADAR JEMBER.ID – Waktu kampanye pemilu 2019 sudah mulai digelar. Informasi seputar kampanye pemilihan presiden (pilpres), pemilu legislatif (pileg), dan pemilihan anggota DPD banyak beredar di masyarakat. Terutama di media sosial (medsos) yang sudah dikontrol. Begitupun dengan alat peraga kampanye (APK) yang juga banyak bertebaran di pinggir-pinggir jalan.

Hal itu dikupas dalam seminar dengan tema ‘Efektivitas Norma Penegakan Hukum dalam Penanganan Isu SARA dan Hoaks Pada Pemilu’. Seminar itu diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa Criminal Law Students Association (CLSA) Fakultas Hukum Universitas Jember (FH Unej). Acara digelar di lantai tiga gedung dekanat FH Unej, kemarin (5/12). Acara tersebut dihadiri kurang lebih 200 mahasiswa.

Seminar tersebut mendatangkan empat pembicara. Yakni I Gede Widhiana S SH MHum PhD (akademisi FH Unej), Ali Rahmad Yanuardi ST dari Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Jember, Dr Jayus SH MHum yang juga akademisi FH Unej, dan Habib Salim SSi perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember.

Dalam paparannya, I Gede Widhiana mengatakan, informasi Sara dan hoaks berawal dari mental per individu itu sendiri yang harus dibenahi. “Masalahnya adalah bukan pada hukumnya. Tetapi pada mental kita, orang-orang di sekitar kita,” ujar I Gede Widhiana dalam pemaparannya.

“Meskipun regulasi hukum dibuat sebaik apa pun, kalau mental kita terus saja melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil, semua itu bakal tetap berjalan seperti ini,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi Bawaslu Jember, Ali Rahmad memaparkan elemen-elemen dalam pemilu. Seperti pemilih, penyelenggara, dan para peserta pemilu. “Yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam pemilu adalah regulasinya. Yakni Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 beserta peraturan perundang-undangan yang terkait pemilu lainnya,” ucapnya.

Ali Rahmad menambahkan, pihaknya juga sering sosialisasi dengan mengajak media dan pemilih milenial. Guna melakukan pengawasan dalam pemilu. “Selain itu, tentunya kami juga butuh peran serta masyarakat, mahasiswa, dan organisasi masyarakat untuk ikut serta dalam pengawasan,” imbuhnya.

Habib Salim mengatakan, pihaknya kini terus memantau sosial media mengenai penyebaran isu-isu hoaks. Apalagi memasuki musim kampanye seperti saat ini. “Terus kami pantau, terutama di grup-grup sosial media yang banyak anggotanya. Seperti Whatsapp dan Facebook,” paparnya.

Dia mencontohkan, di tahun 2017 saja, lima mahasiswa tertangkap tangan karena terdeteksi telah menyebarkan informasi hoaks di sosial media. Pihak yang berwajib bisa menelusuri pelaku penyebar hoaks melalui kode IME yang ada di ponsel pelaku. Ataupun alamat IP addres, dari mana pelaku mengaksesnya. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Narto