Polisi Limpahkan Dua Tersangka ke Kejaksaan

Tak Gendut, Rekening Yuni Rp 200 Juta

99
BASMI TUNTAS KORUPSI: Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo (dua dari kiri) bersama Kepala Kejari Jember Ponco Hartanto

RADAR JEMBER.ID– Pundi-pundi rekening dua tersangka kasus pungutan liar (pungli) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) tidak “segendut” yang dibayangkan banyak orang. Dua tersangka pungli tersebut adalah mantan Kepala Dispendukcapil Jember Sri Wahyuniati dan tokoh LSM Abdul Kadar.

Itu disampaikan Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo saat melimpahkan berkas dua tersangka ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember kemarin, (3/12). Saat dilakukannya OTT, penyidik menyita uang tunai sebesar Rp 10 juta dari tangan Sri Wahyuniati. Selain itu, juga menyita mobil milik tersangka Abdul Kadar, yang biaya cicilannya diduga berasal dari hasil pungli.

“Ada juga empat rekening milik Yuni yang jika ditotal mencapai hampir Rp 200 juta. Juga dua rekening milik Kadar dan anaknya yang jika ditotal mencapai Rp 50 juta,” jelas Kusworo saat menyerahkan berkas perkara kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jember Ponco Hartanto, di Kejari Jember.

Dalam kesempatan itu, Kusworo menyebutkan masih ada kemungkinan penambahan tersangka dalam kasus yang bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) Satgas Saber Pungli Polres Jember, 31 Oktober 2018 lalu.  “Kita serahkan berkas perkara terkait OTT Pungli KTP dengan tersangka (mantan) kadispendukcapil (Sri Wahyuniati, Red) dan Kadar kepada kejari. Kami sampaikan dengan rangkaian peristiwanya,” tutur Kapolres AKBP Kusworo Wibowo.

Abdul Kadar merupakan aktivis LSM berlabel Noeb atau No Eks Birokrasi, yang pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Jember 2015 lalu, gigih mengampanyekan agar bekas birokrat tidak dipilih menjadi bupati.

Aparat penegak hukum akan terus mengembangkan kasus ini, untuk membuka kemungkinan penambahan tersangka baru. Ini juga terkait pengakuan tersangka Yuni yang disampaikan oleh pengacaranya, bahwa sebagian uang haram hasil pungli tersebut juga mengalir ke pihak lain yang merupakan orang non-pemerintahan atau swasta.

Diakui Kusworo, sejauh ini belum ada bukti yang cukup kuat untuk menetapkan pihak lain di luar Yuni dan Kadar sebagai tersangka. Yuni mengaku, uang yang diterimanya digunakan untuk membiayai operasional kantor dan upah lembur karyawan dispendukcapil. Namun, penyidik tidak percaya begitu saja keterangan tersangka. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Jumai

Editor : Narto