Tim Koordinasi CSR Bersama Bangun Lumajang

Baru 32 Perusahaan yang Gabung

25
DIKUKUHKAN: Bupati Lumajang Thoriqul Haq ketika melakukan pengukuhan pada forum CSR dan tim koordinasi, kemarin. Mereka akan merumuskan penyaluran CSR yang bersinergi dengan pemerintah

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Kewajiban sosial atau corporate social responsibility (CSR) sejak 2016 memang ditata dalam forum CSR. Kali ini, peran-perannya bakal dioptimalkan. Kemarin, tim koordinasi kabupaten dibentuk. Sayangnya, dari ratusan perusahaan di Lumajang, hingga kemarin hanya 32 perusahaan yang gabung.

Acara itu dikemas dalam CSR gathering dengan tema ‘Bersama membangun Lumajang hebat bermartabat’. Bukan cuma puluhan pimpinan perusahaan yang hadir. Sejumlah OPD terkait juga hadir bersama Bupati dan Wabup Lumajang.

Pada acara yang digelar di Pondok Asri Lumajang itu, Kepala Bappeda Lumajang Nugroho Dwi Atmoko menjelaskan bahwa forum CSR adalah amanah Perda nomor 17 tahun 2016. Amanahnya berbentuk forum CSR dan membentuk tim koordinasi, yang keduanya dikukuhkan siang kemarin melalui SK bupati masa periode dua tahun, 2019-2021.

Nugroho mengatakan, potensi pengusaha di Lumajang cukup besar dan banyak. Tetapi perlu sentuhan. Keberadaannya, kata dia, cukup bergairah. Cukup bersemangat membangun dan berkontribusi untuk Lumajang. Sejak 2016, Nugroho menjelaskan, jika mau dikapitalisasi, sudah ada 32 perusahaan yang bergabung dari ratusan perusahaan yang ada. “Kalau ditotal bisa mencapai Rp 8,3 miliar. Mudah-mudahan ke depannya, kontribusi pengusaha di Lumajang bisa lebih dari Rp 83 miliar,” katanya.

Ke depannya agar lebih fokus untuk bisa saling melengkapi, berbagi, dan merumuskan apa yang jadi prioritas Lumajang itulah yang bisa dikerjasamakan. Seusai laporan, acara dilanjutkan pembacaan SK. Sekaligus pengukuhan tim koordinasi dan forum CSR periode 2019 dan 2021 oleh Bupati Lumajang Thoriqul Haq. Cak Thoriq, sapaan akrab bupati, mengaku akan terus mengevaluasi program dan layanan yang jadi hal dasar usaha.

Dia menegaskan, semua ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun ekonomi Lumajang. “Kami mendapat banyak saran dan masukan, antara lain untuk memudahkan proses perizinan. Kami sadar kemudahan harus dilakukan,” terangnya. Ketika diwawancarai seusai acara, Cak Thoriq kembali menegaskan bahwa orientasi pemkab adalah bersinergi. Sekaligus membangun komitmen kebersamaan supaya CSR sinkron dengan perencanaan program yang dilakukan pemerintah.

Misalnya, program pemkab ingin satu desa satu kebun. Di situ banyak kebutuhan, dan di situlah beberapa perusahaan bisa saling bahu-membahu. Pohonnya siapa, buahnya siapa, bukunya siapa, dan fasilitasnya siapa dari perusahaan mana. Selama ini mereka menunaikan CSR-nya sendiri-sendiri. Menurutnya kurang berdampak. Berbeda dengan ketika dilakukan bersama.

Misalkan lagi, lanjut Cak Thoriq, ada program di 2019 dokter muter. Dokter yang keliling ke desa-desa, dokter yang menjemput persoalan orang sakit di desa. “Sehingga  kalau ini kami lakukan sebagian fasilitasnya dibantu oleh forum CSR,” jelasnya. Bisa jadi nanti dua perusahaan atau lebih, patungan, membelikan kendaraan, membelikan alat-alat kesehatan yang sekiranya layak untuk digunakan keliling ke desa-desa. Tentu tambah menarik.

Tetapi tetap saja, pemerintah harus terus melakukan evaluasi. Melakukan penyempurnaan pada pelayanan. Terkait dengan adanya 32 dari ratusan perusahaan apakah akan ada punishment? Cak Thoriq mengaku tidak. Dia hanya menegaskan perlunya pemahaman dan kebersamaan dan sinergi membangun Lumajang. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : Rangga Mahardhika