Menahan Diri dari Bermulut Besar

Oleh: Rio F. Rachman *)

21

Komisioner Hak Asasi Manusia PBB Zeid Ra’ad al-Hussein mendesak Aung San Suu Kyi agar melepaskan jabatannya sebagai pemimpin de facto Myanmar. Pasalnya, ketegasan Penerima Nobel Perdamaian itu dianggap makin luntur. Bahkan, cenderung berbaiat pada militer, sehubungan dengan tragedi pembunuhan massal etnis Rohingya, di Provinsi Rakhine, Myanmar, yang terjadi tepat satu tahun yang lalu. Demikian yang dilansir sejumlah media massa pada 30 agustus 2018 lalu.

Pada KTT ASEAN ke-33 di Singapura pada rentang 11 sampai 15 November 2018 lalu, kritikan terhadap Suu Kyi juga masih terdengar. Salah satunya, seperti dilansir dari sejumlah kanal internasional, Perdana Menteri Mahathir Mohamad menyebutkan kalau perempuan yang pernah menjadi simbol perdamaian itu (peraih Nobel Perdamaian 1991) membela apa yang sejatinya tidak akan bisa dipertahankan.

Nyali Suu Kyi yang di masa lampau tampak sekuat baja, terlihat begitu kerdil saat ini. Tak ada yang tahu pasti, apa yang ada dalam benak maupun sanubari orang yang di waktu silam tak pernah takut dengan peluru itu. Yang jelas, sebagian orang mulai berpikir, titel yang disandangnya sebagai pejuang perdamaian dunia itu terlalu berat di pundak. Sehingga, dia tidak sanggup mempertahankan reputasi. Sebagian lain mungkin menyebutnya munafik: di satu sisi menggelorakan perdamaian dunia, di sisi lain memilih mematung saat pembunuhan massal digelorakan di daerahnya sendiri.

Sementara bila ditelusuri dalam perspektif yang lebih luas, salah satu ciri orang munafik adalah  bunyi mulutnya berbeda dengan tindakannya. Orang munafik adalah pemilik mulut besar, yang suka berbicara tentang hal-hal mulia, padahal tindak-tanduknya durjana. Atau paling tidak, dia sendiri tidak melakukan laku bijak yang disuarakan tersebut.

Orang-orang bermulut besar ini tidak hanya tampak di panggung-panggung tingkat dunia. Sebagaimana banyak terlihat di media massa, ada kelompok yang suka mengeksploitasi perdamaian, padahal dia dan kawan-kawannya yang mendesain peperangan, merampas sumur minyak, menggasak emas dan hutan milik orang lain.

Mereka yang bermulut besar juga bisa dilihat di banyak grup What’sApp atau di lini masa media sosial. Mereka bicara tentang politik padahal tidak paham tentang politik. Mereka berceracau di ruang publik tentang politik, padahal wacana yang disodorkan tidak memenuhi kriteria kritik konstruktif. Bahkan, apa yang dilakukannya hanya omong kosong dan mengempaskan makna ruang publik dengan kabar-kabar palsu.

Filsuf dari Jerman bernama Juergen Habermas menuturkan, wacana tanding di ruang publik harus memenuhi sejumlah syarat antara lain: keabsahan data rujukan, kebenaran data, kesesuaian terhadap standar nilai sosial, kejujuran, dan penyajian yang komprehensif. Dan kerap kali, satu dari syarat-syarat tadi pun tidak bisa dipenuhi secara total.

Mereka yang bermulut besar juga banyak bicara soal agama. Tak terkecuali, para pendalil tentang agama Islam yang banyak berbagi cerita tentang ibadah dan akhlakul karimah (perilaku yang baik), padahal mereka sendiri belum melakukan hal-hal baik itu. Lidah orang-orang ini tampak jauh lebih panjang dari tangan. Suaranya lebih lantang daripada kelakuan terpujinya pada orang lain.

Lihatlah bagaimana banyak dari mereka yang bermulut besar, mengumpat orang lain yang berbeda pandangan. Atau menafsir ayat-ayat suci semaunya sendiri, tanpa adab yang memadai. Menyebut suatu kaum kekinian penuh dosa sehingga layak diazab, seakan mereka adalah juru bicara dari langit.

Di sisi lain, apa ada larangan bagi anak Adam untuk ngomong atau berbagi berita yang baik, padahal dia belum atau tidak melakukannya? Tidak ada larangan yang tegas. Karena dalam kaidah hukum moral/agama termaktub: bila tidak bisa melakukan kebaikan yang besar, yang kecil jangan ditinggalkan.

Namun, di sana terdapat “pelanggaran berat” di ranah etika. Juga, membuat dakwah atau penyampaian pesan kehilangan kekuatan. Orang yang fasih di mulut, alim di jempol, tapi rendah dalam praktek, tentu memalukan.

Bila membaca ayat dalam Al Qur’an, terdapat teguran keras bagi orang-orang yang punya iman sekadar di mulut dan jempol ini. Misalnya, pada Surah Ash-Shaff ayat 2 dan 3: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allahu ta ala bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” Juga, pada surah Al Baqarah ayat 44: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?” (*)

*) Penulis adalah dosen Institut Agama Islam Syarifuddin (IAIS) Lumajang, sedang menempus program doktor di FISIP Universitas Airlangga,  Koordinator Divkominfo Mata Garuda Jawa Timur

Reporter :

Fotografer :

Editor :