Korban Harus Didukung dari Lingkungan Sekitar

Cegah Kekerasan Seks di Lembaga Pendidikan

129
DISKUSI: Sarinah GMNI Jember berusaha membangun perspektif yang berpihak pada korban dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan seksual.

RADAR JEMBER.ID – Kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang mahasiswi UGM Yogyakarta beberapa waktu lalu, mengundang keprihatinan banyak pihak. Pasalnya, birokrasi di kampus tersebut dianggap kurang memihak kepada korban yang seharusnya dibela. Itu dikupas dalam diskusi Sarinah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

“Dari kasus tersebut, kita bisa belajar bahwa masih terdapat bias gender justru di kalangan akademisi yang seharusnya lebih bijak. Ada ketimpangan struktur patriarkis yang secara bertahap mesti kita ubah,” tutur Trisna Dwi Yuni Aresta, penggiat Sarinah GMNI Jember dalam sebuah diskusi bertema gender, kemarin.

Sebagai sebuah institusi akademik, perguruan tinggi semestinya memiliki perspektif yang lebih baik dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan seksual. Apalagi jika kasus tersebut menyangkut peserta didiknya. “Kasus tersebut menunjukkan masih ada ironi yang melekat pada pimpinan lembaga akademis tersebut. Menutupi sebuah fakta permasalahan yang seharusnya dituntaskan. Ini kesalahan yang sangat fatal,” tutur mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember (FH Unej) ini.

Salah satu contoh ironi dalam kasus tersebut, menurut Trisna adalah pernyataan pimpinan UGM yang menggunakan analogi ikan asin dan kucing untuk menggambarkan kasus kekerasan seksual yang menimpa anak didiknya. “Ini menjadi gambaran masih kuatnya bias gender yang menyalahkan korban. Dan itu terjadi di banyak tempat di Indonesia, bukan hanya di UGM,” jelas Trisna.

Berkaca dari peristiwa tersebut, Trisna menilai perlu ada gerakan bersama untuk menyadarkan semua pihak, agar bertindak lebih responsif dan humanis manakala terjadi kasus kekerasan seksual di sekitarnya. Perspektif yang berpihak pada kepentingan korban harus lebih diarusutamakan.

Pasalnya, kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan diyakini sebagai fenomena gunung es. Banyak korban yang enggan melapor karena khawatir justru mendapat stigma negatif. “Karena itu, kami mengusulkan perlunya dibentuk lembaga semacam crisis centre sebagai antisipasi untuk menampung laporan dan mengadvokasi korban kasus kekerasan seksual. Lembaga ini juga untuk membantu membangun kesadaran semua pihak tentang bagaimana bersikap manakala ada kasus kekerasan seks di sekitarnya,” jelas Trisna.

Wacana pembentukan woman crisis centre di lembaga pendidikan muncul karena kasus kekerasan seksual perlu penanganan secara serius. “Sebab, tidak jarang, korban kekerasan seksual enggan mengadu karena merasa aib dan takut disalahkan (victim blaming). Karena itu, mereka harus mendapatkan pendampingan khusus,” tutur Ketua Kohati Jember Hidayati saat ditemui secara terpisah.

Saat ini, Kohati bersama dengan beberapa elemen lain sedang berupaya menginventarisasi dan mengadvokasi kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus di Jember. Hidayati mengingatkan bahwa kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja, tidak hanya gender tertentu. “Seperti perundungan berbau seksis terhadap seorang pebulu tangkis pria beberapa waktu lalu. Meski itu dimaksudkan bercanda, tetapi itu sudah masuk dalam kategori pelecehan verbal dan semestinya tidak terjadi,” ujar mahasiswi Fakultas Pertanian Unej ini.  (*)

GMNI Jember for Radarjember.id

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Istimewa

Editor : Narto